Memilih jurnal untuk publikasi ilmiah merupakan salah satu tahap penting yang perlu dilakukan dengan cermat. Banyak penulis berfokus pada reputasi jurnal, indeksasi, atau peluang diterima, tetapi kurang memperhatikan kesesuaian penelitian dengan tujuan dan ruang lingkup jurnal. Padahal, ketidaksesuaian antara manuskrip dan jurnal dapat menyebabkan artikel ditolak sejak tahap editorial screening sebelum masuk ke proses peer review. Karena itu, cara memahami aim and scope jurnal perlu menjadi bagian dari strategi publikasi sejak awal.
Aim and scope jurnal memberikan informasi mengenai tujuan penerbitan, bidang keilmuan, topik, pendekatan penelitian, serta jenis kontribusi yang menjadi perhatian jurnal. Informasi tersebut membantu penulis menentukan apakah artikel yang telah disusun mempunyai hubungan yang kuat dengan fokus jurnal. Semakin jelas kesesuaian tersebut, semakin mudah bagi editor memahami alasan manuskrip layak dipertimbangkan.
Masalahnya, sebagian penulis hanya melihat judul atau nama jurnal ketika menentukan target publikasi. Sebuah jurnal yang menggunakan istilah “pendidikan”, misalnya, belum tentu menerima semua penelitian dalam bidang pendidikan. Jurnal tersebut mungkin secara khusus berfokus pada pendidikan vokasi, teknologi pembelajaran, kebijakan pendidikan, evaluasi pembelajaran, atau bidang tertentu lainnya. Perbedaan fokus seperti ini perlu dipahami sebelum manuskrip dikirim.
Memahami aim and scope jurnal juga berkaitan dengan kemampuan penulis menempatkan penelitian dalam komunitas akademik yang tepat. Penelitian yang baik perlu diterbitkan pada jurnal yang mempunyai pembaca dan fokus keilmuan yang relevan. Jika artikel dikirim ke jurnal yang tidak sesuai, editor mungkin tidak melihat manfaat penelitian tersebut bagi pembacanya meskipun metode dan hasil penelitian sebenarnya memiliki kualitas yang baik.
Oleh karena itu, memahami aim and scope jurnal bukan sekadar membaca satu halaman pada website jurnal. Penulis perlu membandingkan informasi tersebut dengan judul, abstrak, research gap, metode, objek, hasil, dan kontribusi penelitian. Selain itu, artikel-artikel terbaru yang diterbitkan jurnal juga perlu diperiksa untuk melihat bagaimana scope diterapkan dalam publikasi nyata.
Apa Itu Aim and Scope Jurnal?
Aim and scope jurnal adalah bagian yang menjelaskan tujuan dan cakupan sebuah jurnal ilmiah. Aim biasanya menggambarkan tujuan utama jurnal, bidang keilmuan yang ingin dikembangkan, serta kontribusi yang diharapkan dari artikel yang diterbitkan. Sementara itu, scope menjelaskan ruang lingkup topik, subbidang, pendekatan, objek, atau tema penelitian yang dapat dipertimbangkan oleh jurnal.
Kedua istilah tersebut saling berkaitan, tetapi mempunyai fungsi yang berbeda. Aim memberikan gambaran mengenai arah dan tujuan jurnal secara umum. Scope kemudian memperjelas batas atau area penelitian yang termasuk dalam fokus tersebut. Dengan memahami keduanya, penulis dapat mengetahui jenis penelitian yang kemungkinan besar relevan dengan jurnal.
Sebagai contoh, sebuah jurnal mungkin mempunyai aim untuk menjadi wadah publikasi penelitian yang mengembangkan praktik dan teori pendidikan. Scope jurnal tersebut kemudian dapat mencakup pendidikan guru, kurikulum, asesmen, teknologi pendidikan, pendidikan vokasi, dan pembelajaran. Penulis yang melakukan penelitian tentang teknologi pembelajaran dapat melihat adanya hubungan dengan scope tersebut.
Namun, kesesuaian tidak cukup ditentukan hanya berdasarkan satu kata. Jika penelitian membahas teknologi pembelajaran tetapi jurnal secara khusus hanya menerima penelitian tentang pendidikan tinggi, sedangkan penelitian dilakukan pada konteks pendidikan dasar tanpa hubungan yang jelas, penulis perlu melakukan evaluasi lebih lanjut. Inilah alasan mengapa membaca aim and scope secara lengkap sangat penting.
Aim and scope jurnal juga dapat membantu penulis memahami target pembaca. Jurnal yang berfokus pada penelitian teknis mungkin mempunyai pembaca yang berbeda dari jurnal yang menekankan implikasi kebijakan. Informasi tersebut dapat digunakan untuk menentukan bagaimana hasil penelitian disajikan agar relevan dengan komunitas akademik yang dituju.
Baca juga:Bimbingan Publikasi Jurnal SINTA dan Scopus dari Submit hingga Artikel Terbit
Mengapa Cara Memahami Aim and Scope Jurnal Penting?
Cara memahami aim and scope jurnal penting karena salah satu penyebab manuskrip ditolak adalah scope mismatch. Scope mismatch terjadi ketika penelitian tidak mempunyai kesesuaian yang cukup dengan fokus jurnal. Editor dapat menemukan masalah tersebut pada tahap editorial screening dan memutuskan untuk tidak mengirimkan manuskrip kepada reviewer.
Penolakan karena scope mismatch dapat terjadi meskipun penelitian mempunyai data yang baik dan metodologi yang tepat. Hal ini karena jurnal tidak hanya menilai kualitas penelitian, tetapi juga relevansi penelitian dengan pembaca dan tujuan publikasi. Artikel yang berada di luar scope akan sulit memberikan kontribusi yang sesuai dengan identitas jurnal.
Memahami aim and scope juga membantu penulis menghindari submission secara acak. Mengirim satu artikel ke banyak jurnal tanpa mempertimbangkan kesesuaian dapat membuat proses publikasi menjadi tidak efisien. Setiap jurnal mempunyai kebijakan, fokus, gaya publikasi, dan karakter pembaca yang berbeda. Karena itu, pemilihan jurnal perlu dilakukan berdasarkan kecocokan, bukan hanya berdasarkan popularitas.
Selain itu, pemahaman terhadap aim and scope dapat membantu memperjelas positioning artikel. Positioning merupakan cara menempatkan penelitian dalam konteks bidang keilmuan tertentu. Penulis perlu menunjukkan mengapa penelitian tersebut relevan dengan permasalahan yang menjadi perhatian jurnal.
Pemahaman tersebut juga membantu penulis menyiapkan cover letter. Dalam cover letter, penulis dapat menjelaskan alasan manuskrip sesuai dengan jurnal serta kontribusi penelitian terhadap bidang yang menjadi fokus publikasi. Penjelasan yang singkat tetapi spesifik dapat membantu editor memahami relevansi artikel sejak awal.
Cara Membaca Aim and Scope Jurnal Secara Menyeluruh
Membaca aim and scope jurnal sebaiknya tidak dilakukan secara terburu-buru. Penulis perlu memahami setiap informasi yang diberikan dan membandingkannya dengan karakteristik penelitian. Hindari hanya mengambil satu atau dua kata yang terlihat sama dengan topik artikel.
Langkah pertama adalah membaca bagian aim. Cari informasi mengenai tujuan utama jurnal, bidang yang ingin dikembangkan, dan jenis kontribusi yang diharapkan. Jika aim jurnal berfokus pada pengembangan teori, misalnya, artikel yang hanya memberikan laporan praktis mungkin perlu memiliki hubungan teoritis yang cukup jelas agar relevan.
Langkah berikutnya adalah membaca scope secara keseluruhan. Catat topik yang secara eksplisit disebutkan. Jika scope mencantumkan beberapa subbidang, periksa apakah penelitian termasuk salah satunya atau mempunyai hubungan yang kuat dengan bidang tersebut.
Perhatikan juga kata-kata yang menunjukkan batasan. Jurnal dapat menggunakan istilah seperti “focuses on”, “particularly”, “including”, “primarily”, atau “does not consider”. Kata-kata tersebut dapat menunjukkan tingkat keterbukaan scope jurnal.
Setelah membaca aim and scope, jangan langsung melakukan submission. Bandingkan informasi tersebut dengan manuskrip secara keseluruhan. Periksa apakah tujuan penelitian, objek, metode, konteks, hasil, dan kontribusi memiliki hubungan yang logis dengan fokus jurnal.
Unsur dalam Aim and Scope yang Perlu Diperhatikan
Aim and scope jurnal dapat ditulis secara berbeda oleh setiap penerbit. Ada jurnal yang hanya memberikan beberapa paragraf, sementara jurnal lainnya memberikan daftar topik yang sangat spesifik. Meskipun bentuknya berbeda, penulis dapat memperhatikan beberapa unsur penting ketika melakukan evaluasi.
Beberapa unsur yang perlu diperhatikan meliputi:
- Tujuan jurnal, yaitu penjelasan mengenai alasan jurnal diterbitkan dan kontribusi yang ingin diberikan.
- Bidang keilmuan, yaitu disiplin utama yang menjadi fokus publikasi.
- Topik penelitian, yaitu tema atau permasalahan yang secara khusus disebutkan.
- Subbidang, yaitu area yang lebih spesifik dalam bidang keilmuan utama.
- Pendekatan penelitian, yaitu metode atau perspektif tertentu yang sering menjadi perhatian.
- Jenis artikel, seperti artikel penelitian, review, artikel konseptual, atau jenis manuskrip lainnya.
- Target pembaca, yaitu komunitas akademik atau profesional yang menjadi sasaran jurnal.
- Kontribusi yang diharapkan, yaitu bentuk pengetahuan, temuan, teori, metode, atau implikasi yang dianggap relevan.
- Batasan scope, yaitu tema atau pendekatan yang tidak menjadi fokus jurnal.
Penulis tidak perlu memaksakan semua unsur tersebut harus sama persis dengan penelitian. Yang lebih penting adalah menemukan hubungan yang cukup kuat dan dapat dijelaskan secara akademik. Jika hubungan tersebut terlalu lemah, jurnal lain mungkin menjadi pilihan yang lebih tepat.
Membandingkan Aim and Scope dengan Judul Artikel
Judul merupakan bagian pertama yang sering memberikan gambaran mengenai isi manuskrip. Karena itu, judul artikel perlu memiliki hubungan yang jelas dengan scope jurnal. Namun, bukan berarti judul harus menggunakan kata-kata yang persis sama dengan aim and scope.
Penulis perlu melihat makna di balik kata kunci. Misalnya, scope jurnal menyebutkan “digital learning”, sedangkan judul penelitian menggunakan istilah “pemanfaatan platform pembelajaran daring”. Kedua istilah tersebut mungkin mempunyai hubungan yang kuat meskipun tidak identik.
Sebaliknya, kesamaan kata tidak selalu menunjukkan kesesuaian. Judul artikel yang mengandung kata “pendidikan” belum tentu sesuai dengan semua jurnal pendidikan. Konteks, objek, pendekatan, dan tujuan penelitian tetap perlu diperiksa.
Judul juga sebaiknya tidak diubah secara berlebihan hanya untuk memasukkan kata kunci dari scope jurnal. Perubahan judul harus tetap mencerminkan isi penelitian. Penggunaan istilah yang tidak benar-benar dibahas dalam artikel justru dapat menimbulkan masalah ketika editor atau reviewer membaca manuskrip secara keseluruhan.
Membandingkan Aim and Scope dengan Abstrak
Abstrak mempunyai peran penting karena memberikan ringkasan penelitian kepada editor. Melalui abstrak, editor dapat memperoleh gambaran mengenai masalah penelitian, tujuan, metode, hasil, dan kontribusi. Karena itu, relevansi artikel dengan aim and scope jurnal sebaiknya dapat terlihat dari abstrak.
Penulis perlu memastikan bahwa tujuan penelitian berkaitan dengan bidang yang menjadi fokus jurnal. Hasil utama juga perlu menunjukkan kontribusi yang relevan dengan pembaca jurnal. Jika abstrak terlalu umum, editor mungkin kesulitan melihat hubungan antara penelitian dan scope.
Abstrak bukan tempat untuk memasukkan semua informasi penelitian. Pilih informasi yang paling penting untuk menunjukkan posisi artikel. Gunakan istilah akademik yang tepat dan hindari klaim yang tidak didukung hasil penelitian.
Jika manuskrip bersifat multidisipliner, abstrak dapat membantu menjelaskan hubungan antardisiplin tersebut. Penulis perlu menunjukkan bagaimana penelitian menghubungkan berbagai perspektif dan mengapa pendekatan tersebut relevan dengan jurnal yang dituju.
Membandingkan Aim and Scope dengan Research Gap
Research gap merupakan bagian penting untuk menentukan relevansi artikel. Research gap menjelaskan celah pengetahuan atau permasalahan yang belum terjawab oleh penelitian sebelumnya. Gap tersebut sebaiknya mempunyai hubungan dengan bidang yang menjadi fokus jurnal.
Misalnya, jurnal berfokus pada teknologi pendidikan, sementara research gap artikel berkaitan dengan penggunaan teknologi digital untuk meningkatkan pembelajaran. Hubungan tersebut dapat menunjukkan relevansi yang cukup kuat. Namun, jika gap penelitian hanya berkaitan dengan bidang yang tidak dibahas jurnal, kesesuaiannya perlu dipertanyakan.
Penulis juga perlu memastikan bahwa gap tidak hanya dibuat untuk terlihat sesuai dengan jurnal. Research gap harus berasal dari literatur dan masalah penelitian yang nyata. Penyesuaian dilakukan pada cara menjelaskan relevansi, bukan dengan mengubah fakta atau tujuan penelitian.
Membandingkan Aim and Scope dengan Metode dan Objek Penelitian
Metode dan objek penelitian juga dapat memengaruhi kesesuaian dengan scope. Beberapa jurnal mempunyai fokus tertentu berdasarkan jenis penelitian atau kelompok objek yang diteliti. Karena itu, penulis perlu melihat apakah metode dan objek manuskrip berada dalam karakteristik yang biasa diterbitkan jurnal.
Sebagai contoh, sebuah jurnal mungkin berfokus pada penelitian empiris mengenai pendidikan tinggi. Artikel yang menggunakan metode empiris pada mahasiswa dapat memiliki relevansi yang lebih jelas dibandingkan artikel yang hanya berupa opini konseptual tanpa hubungan dengan penelitian empiris.
Namun, metode tidak selalu menjadi syarat mutlak kecuali jurnal secara eksplisit menyebutkannya. Penulis perlu membaca kebijakan jurnal dengan hati-hati dan tidak membuat asumsi hanya berdasarkan artikel yang pernah diterbitkan.
Objek penelitian juga perlu dilihat dalam konteks kontribusi. Penelitian dengan objek yang berbeda tetap dapat relevan jika memberikan kontribusi terhadap bidang yang menjadi fokus jurnal. Yang penting, hubungan tersebut dapat dijelaskan secara logis dan didukung oleh isi manuskrip.
Menggunakan Artikel Terbaru untuk Memahami Scope Jurnal
Salah satu cara praktis untuk memahami aim and scope jurnal adalah membaca artikel terbaru yang telah diterbitkan. Informasi ini membantu penulis melihat bagaimana editor menerapkan scope dalam praktik. Jangan hanya membaca satu artikel karena satu publikasi tidak selalu mencerminkan keseluruhan karakter jurnal.
Pilih beberapa artikel terbaru dari edisi yang berbeda. Perhatikan tema penelitian, objek, metode, teori, konteks, dan kontribusinya. Dari sana, penulis dapat menemukan pola yang menunjukkan karakter publikasi jurnal.
Misalnya, jika sebagian besar artikel terbaru membahas penelitian empiris mengenai teknologi pendidikan, hal tersebut dapat menjadi indikasi bahwa jurnal mempunyai perhatian kuat pada tema tersebut. Penulis dengan penelitian serupa dapat mempertimbangkan jurnal tersebut sebagai salah satu kandidat.
Namun, artikel terbaru bukan berarti manuskrip harus dibuat sama. Tujuan membacanya adalah memahami relevansi dan positioning, bukan meniru. Penelitian tetap harus mempunyai novelty dan kontribusi sendiri.
Jika setelah membaca beberapa artikel penulis tidak menemukan hubungan yang jelas dengan penelitiannya, sebaiknya pertimbangkan jurnal alternatif. Hal tersebut lebih baik dilakukan sebelum submission daripada menunggu keputusan desk reject.
Kesalahan Umum Saat Memahami Aim and Scope Jurnal
Kesalahan pertama adalah menganggap nama jurnal sudah cukup untuk menentukan kesesuaian. Nama jurnal memang dapat memberikan gambaran awal, tetapi tidak menjelaskan seluruh batasan scope. Penulis perlu membaca informasi resmi jurnal untuk mendapatkan pemahaman yang lebih akurat.
Kesalahan kedua adalah hanya mencari satu kata kunci yang sama. Misalnya, artikel dan jurnal sama-sama menggunakan kata “manajemen”. Kesamaan tersebut belum membuktikan bahwa penelitian sesuai. Manajemen pendidikan, manajemen keuangan, manajemen organisasi, dan manajemen teknologi dapat mempunyai komunitas pembaca yang berbeda.
Kesalahan ketiga adalah mengabaikan target pembaca. Penelitian yang menarik bagi satu komunitas akademik belum tentu relevan bagi komunitas lain. Karena itu, penulis perlu mempertimbangkan siapa pembaca utama jurnal dan apakah temuan penelitian memberikan manfaat bagi mereka.
Kesalahan berikutnya adalah tidak membaca artikel terbaru. Padahal, artikel tersebut dapat menunjukkan fokus aktual jurnal. Aim and scope dapat ditulis secara luas, sementara publikasi terbaru mungkin menunjukkan prioritas tertentu yang sedang berkembang.
Kesalahan lainnya adalah memaksakan manuskrip agar sesuai. Penulis boleh menyesuaikan cara menyajikan kontribusi, tetapi tidak boleh mengubah substansi penelitian secara tidak wajar. Jika penelitian memang tidak sesuai, memilih jurnal alternatif merupakan keputusan yang lebih tepat.
Membuat Matriks Kesesuaian Manuskrip dan Jurnal
Penulis dapat membuat matriks sederhana untuk menilai kesesuaian manuskrip dengan jurnal. Matriks ini dapat berisi beberapa aspek seperti bidang, topik, objek, metode, konteks, target pembaca, dan kontribusi. Setiap aspek kemudian dapat diberikan penilaian berdasarkan tingkat kesesuaiannya.
Sebagai contoh, penulis dapat menggunakan kategori “sangat sesuai”, “sesuai”, “perlu dipertimbangkan”, dan “tidak sesuai”. Cara ini membantu penulis melihat kekuatan dan kelemahan pilihan jurnal secara lebih objektif.
Jika sebagian besar aspek masuk kategori sesuai atau sangat sesuai, jurnal tersebut dapat menjadi kandidat utama. Jika banyak aspek berada pada kategori tidak sesuai, penulis sebaiknya mencari alternatif.
Matriks juga dapat digunakan ketika memilih beberapa jurnal sekaligus. Penulis dapat membandingkan kandidat jurnal berdasarkan relevansi, jenis artikel, kebijakan publikasi, dan karakteristik lainnya. Dengan demikian, keputusan tidak hanya berdasarkan perkiraan atau reputasi jurnal.
Strategi Memilih Jurnal Berdasarkan Aim and Scope
Memilih jurnal berdasarkan aim and scope sebaiknya dilakukan sejak tahap perencanaan publikasi. Penulis tidak perlu menunggu artikel selesai sepenuhnya untuk menentukan target jurnal. Dengan mengetahui beberapa kandidat jurnal sejak awal, penulis dapat memahami karakter pembaca, topik yang sering diterbitkan, jenis manuskrip yang diterima, serta standar penulisan yang perlu dipenuhi. Namun, pemilihan jurnal tetap harus mempertahankan objektivitas dan tidak boleh membuat penulis mengubah substansi penelitian hanya demi mengejar jurnal tertentu.
Langkah awal yang dapat dilakukan adalah membuat daftar beberapa jurnal yang memiliki hubungan dengan bidang penelitian. Setelah itu, bandingkan aim and scope setiap jurnal secara berdampingan. Perhatikan apakah topik penelitian secara langsung disebutkan atau setidaknya mempunyai hubungan yang kuat dengan ruang lingkup jurnal. Jika sebuah jurnal memiliki scope yang sangat spesifik dan artikel berada di luar fokus tersebut, jurnal tersebut sebaiknya tidak menjadi prioritas meskipun reputasinya tinggi.
Penulis juga perlu melihat artikel yang baru diterbitkan. Artikel terbaru memberikan gambaran mengenai tema yang sedang mendapatkan perhatian dari jurnal. Selain topik, perhatikan pula metode, populasi, objek, teori, dan bentuk kontribusinya. Apabila manuskrip mempunyai karakter yang berdekatan dengan sejumlah artikel terbaru, hal tersebut dapat menjadi salah satu indikator bahwa jurnal tersebut relevan.
Selanjutnya, periksa jenis artikel yang diterima. Aim and scope dapat menunjukkan fokus keilmuan, tetapi informasi mengenai jenis manuskrip biasanya terdapat pada author guidelines atau submission guidelines. Penulis perlu memastikan apakah jurnal menerima original research, review article, systematic review, case study, short communication, atau jenis manuskrip lainnya. Artikel yang sesuai secara topik tetap dapat ditolak jika jenis manuskripnya tidak sesuai dengan kebijakan jurnal.
Terakhir, buat urutan prioritas jurnal berdasarkan tingkat kesesuaian. Jurnal dengan relevansi paling kuat dapat menjadi target utama, sedangkan jurnal lain yang masih sesuai dapat menjadi alternatif. Strategi ini membantu penulis menghindari pengiriman manuskrip secara acak dan membuat proses publikasi lebih terencana.
Hubungan Aim and Scope dengan Editorial Screening dan Desk Reject
Aim and scope jurnal mempunyai hubungan langsung dengan editorial screening. Setelah manuskrip dikirimkan, editor biasanya melakukan pemeriksaan awal sebelum artikel diteruskan ke reviewer. Pemeriksaan tersebut dapat mencakup kesesuaian scope, kualitas awal, struktur artikel, kelengkapan submission, novelty, serta aspek etika publikasi.
Pada tahap ini, editor tidak selalu melakukan evaluasi sedalam reviewer. Namun, editor perlu menentukan apakah manuskrip layak diproses lebih lanjut. Jika artikel secara jelas berada di luar scope, editor dapat memberikan desk reject. Keputusan tersebut berarti manuskrip ditolak sebelum masuk ke proses peer review.
Desk reject karena scope mismatch tidak selalu menunjukkan bahwa penelitian buruk. Sebuah penelitian dapat mempunyai metodologi kuat, data memadai, dan hasil yang menarik, tetapi tetap tidak cocok untuk jurnal tertentu. Misalnya, penelitian mengenai pengembangan aplikasi pembelajaran mungkin sangat baik, tetapi kurang sesuai apabila dikirimkan kepada jurnal yang hanya berfokus pada kebijakan pendidikan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa kualitas artikel dan kesesuaian jurnal merupakan dua aspek yang berbeda. Penulis membutuhkan penelitian yang berkualitas sekaligus target jurnal yang tepat. Aim and scope membantu menjembatani kedua aspek tersebut dengan memberikan gambaran mengenai tempat yang paling sesuai untuk penelitian.
Jika editor memberikan alasan bahwa artikel tidak sesuai dengan scope, penulis sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa penelitian harus dirombak seluruhnya. Periksa terlebih dahulu apakah masalahnya memang terletak pada isi penelitian atau hanya pemilihan jurnal. Jika penelitian memang berada di luar scope, mengganti jurnal biasanya menjadi solusi yang lebih rasional.
Cara Menyesuaikan Artikel dengan Aim and Scope Jurnal
Menyesuaikan artikel dengan aim and scope jurnal bukan berarti mengubah hasil penelitian agar terlihat sesuai. Penyesuaian harus dilakukan pada cara menyampaikan relevansi penelitian. Substansi, data, metode, dan hasil harus tetap sesuai dengan penelitian yang sebenarnya dilakukan.
Salah satu bagian yang dapat diperiksa adalah judul. Judul perlu mencerminkan topik utama penelitian dan menunjukkan relevansinya dengan bidang jurnal. Judul yang terlalu umum dapat menyulitkan editor memahami kontribusi artikel. Sebaliknya, judul yang terlalu luas dapat membuat penelitian terlihat berada di luar fokus.
Abstrak juga perlu diperhatikan. Penulis dapat memastikan tujuan, metode, hasil utama, dan kontribusi dijelaskan secara ringkas. Jika relevansi penelitian dengan scope memang kuat, hubungan tersebut sebaiknya dapat terlihat dari abstrak tanpa harus dibuat secara berlebihan.
Pendahuluan merupakan bagian lain yang penting. Pada bagian ini, penulis dapat menjelaskan konteks masalah, penelitian terdahulu, research gap, dan alasan penelitian dilakukan. Hubungan antara masalah penelitian dan bidang yang menjadi perhatian jurnal harus terlihat secara logis.
Pembahasan juga perlu menunjukkan kontribusi penelitian terhadap bidang yang dituju. Jangan hanya mengulang hasil penelitian. Jelaskan apa arti temuan tersebut, bagaimana hubungannya dengan penelitian sebelumnya, serta apa implikasinya terhadap bidang yang menjadi fokus jurnal.
Beberapa bagian yang dapat diperiksa sebelum submission antara lain:
- Judul: apakah menggambarkan fokus penelitian secara spesifik?
- Abstrak: apakah tujuan dan kontribusi penelitian relevan dengan scope?
- Kata kunci: apakah menggambarkan topik utama tanpa memasukkan istilah yang tidak benar-benar dibahas?
- Pendahuluan: apakah research gap berhubungan dengan bidang jurnal?
- Metode: apakah sesuai dengan karakter penelitian yang diterima?
- Hasil: apakah menjawab pertanyaan penelitian?
- Pembahasan: apakah menjelaskan kontribusi bagi bidang jurnal?
- Kesimpulan: apakah memberikan implikasi yang relevan?
- Referensi: apakah menggunakan literatur yang sesuai dengan bidang penelitian?
- Cover letter: apakah menjelaskan alasan manuskrip cocok dengan jurnal?
Penyesuaian tersebut membantu editor melihat hubungan artikel dengan jurnal secara lebih cepat. Namun, penulis harus tetap menjaga kejujuran akademik dan tidak memasukkan klaim yang tidak didukung penelitian.
Cara Menulis Cover Letter yang Menunjukkan Kesesuaian Scope
Cover letter sering kali dianggap hanya sebagai surat pengantar, padahal bagian ini dapat digunakan untuk menunjukkan relevansi manuskrip dengan jurnal. Penulis dapat menjelaskan secara singkat alasan memilih jurnal tersebut dan kontribusi penelitian yang ditawarkan.
Cover letter tidak perlu terlalu panjang. Fokuskan pada informasi yang benar-benar membantu editor memahami manuskrip. Sebutkan judul artikel, jenis manuskrip, topik utama, kontribusi, serta alasan artikel relevan dengan aim and scope jurnal.
Penulis sebaiknya tidak menggunakan kalimat yang terlalu umum seperti “jurnal ini sangat terkenal sehingga kami memilihnya”. Alasan pemilihan jurnal sebaiknya bersifat akademik. Misalnya, jelaskan bahwa penelitian membahas topik yang termasuk dalam scope jurnal atau memberikan kontribusi terhadap bidang yang menjadi perhatian pembaca.
Contoh pendekatan yang dapat digunakan:
Manuskrip ini membahas [topik penelitian] dengan fokus pada [objek/konteks]. Temuan penelitian memberikan kontribusi terhadap [bidang tertentu], yang relevan dengan fokus jurnal pada [scope jurnal].
Kalimat tersebut perlu disesuaikan dengan penelitian sebenarnya. Jangan memasukkan istilah yang tidak ada dalam artikel hanya untuk membuat manuskrip terlihat cocok.
Checklist Memahami Aim and Scope Sebelum Submission
Sebelum melakukan submission, penulis dapat menggunakan checklist untuk memastikan target jurnal telah dipilih secara tepat. Checklist membantu mengurangi kemungkinan adanya aspek penting yang terlewat.
Beberapa pertanyaan yang dapat digunakan adalah:
- Apakah saya sudah membaca aim jurnal secara keseluruhan?
- Apakah saya sudah membaca scope jurnal secara lengkap?
- Apakah bidang penelitian saya sesuai?
- Apakah topik penelitian relevan?
- Apakah objek penelitian masih berada dalam cakupan jurnal?
- Apakah metode penelitian sesuai dengan karakter artikel yang diterbitkan?
- Apakah jenis manuskrip saya diterima?
- Apakah saya sudah membaca beberapa artikel terbaru?
- Apakah penelitian saya mempunyai kontribusi bagi pembaca jurnal?
- Apakah judul artikel mencerminkan fokus penelitian?
- Apakah abstrak menunjukkan relevansi penelitian?
- Apakah research gap berkaitan dengan bidang jurnal?
- Apakah pembahasan menunjukkan kontribusi terhadap bidang tersebut?
- Apakah cover letter menjelaskan alasan memilih jurnal?
- Apakah ada jurnal lain yang lebih sesuai?
Jika sebagian besar pertanyaan dapat dijawab dengan “ya”, keputusan submission menjadi lebih kuat. Jika banyak jawaban masih “tidak”, sebaiknya lakukan evaluasi sebelum mengirimkan artikel.
Tanda-Tanda Jurnal Kurang Sesuai dengan Manuskrip
Penulis perlu mengetahui tanda-tanda yang menunjukkan kemungkinan terjadinya scope mismatch. Salah satunya adalah tidak ditemukannya artikel yang mempunyai hubungan dengan penelitian setelah membaca beberapa publikasi terbaru. Meskipun artikel tidak harus identik, seharusnya terdapat hubungan akademik yang dapat dijelaskan.
Tanda lain adalah ketika penulis kesulitan menjelaskan alasan memilih jurnal. Jika satu-satunya alasan adalah jurnal tersebut terkenal, memiliki indeksasi tertentu, atau mempunyai reputasi tinggi, hal tersebut belum cukup menunjukkan relevansi.
Jurnal juga patut dipertimbangkan kembali jika scope menyebutkan batasan yang secara jelas bertentangan dengan karakter penelitian. Misalnya, jurnal secara eksplisit menyatakan hanya menerima penelitian pada kelompok atau konteks tertentu, sedangkan manuskrip tidak mempunyai hubungan dengan konteks tersebut.
Beberapa indikator yang perlu diperhatikan antara lain:
- Tidak ada topik manuskrip yang relevan dengan scope.
- Target pembaca jurnal berbeda jauh dari target penelitian.
- Jenis manuskrip tidak diterima.
- Artikel terbaru jurnal mempunyai karakter yang sangat berbeda.
- Research gap tidak berkaitan dengan bidang jurnal.
- Kontribusi penelitian tidak memberikan manfaat yang jelas bagi pembaca jurnal.
- Scope jurnal mempunyai batasan yang bertentangan dengan penelitian.
- Penulis harus mengubah substansi penelitian secara berlebihan agar terlihat sesuai.
Jika beberapa indikator tersebut muncul sekaligus, sebaiknya penulis mempertimbangkan jurnal alternatif.
Apa yang Dilakukan Jika Artikel Ditolak karena Scope Mismatch?
Jika artikel ditolak karena scope mismatch, jangan langsung menganggap penelitian gagal. Periksa alasan yang diberikan editor dan lihat apakah penolakan memang disebabkan oleh ketidaksesuaian jurnal. Jika editor secara jelas menyatakan bahwa manuskrip berada di luar scope, biasanya tidak ada manfaatnya memaksakan submission ulang ke jurnal yang sama tanpa perubahan yang substansial.
Langkah berikutnya adalah mencari jurnal alternatif yang mempunyai scope lebih dekat dengan penelitian. Gunakan pengalaman dari submission sebelumnya sebagai bahan evaluasi. Penulis sudah memiliki informasi mengenai karakter penelitian, sehingga proses pencarian jurnal berikutnya dapat dilakukan secara lebih terarah.
Jika masalahnya bukan pada isi penelitian tetapi pada cara positioning, penulis dapat memperbaiki beberapa bagian manuskrip. Perjelas research gap, kontribusi, konteks penelitian, dan hubungan temuan dengan bidang yang dituju. Namun, jangan mengubah fakta penelitian hanya untuk menyesuaikan jurnal.
Penulis juga dapat memeriksa kembali beberapa jurnal alternatif dan membuat matriks perbandingan. Dengan cara tersebut, jurnal berikutnya dipilih berdasarkan bukti dan relevansi, bukan karena keputusan emosional setelah menerima penolakan.
Pentingnya Memahami Aim and Scope dalam Strategi Publikasi
Memahami aim and scope jurnal pada dasarnya merupakan bagian dari perencanaan publikasi ilmiah. Penulis tidak hanya perlu menghasilkan penelitian yang baik, tetapi juga harus mengetahui di mana penelitian tersebut paling relevan untuk dipublikasikan. Jurnal yang tepat dapat membantu artikel mencapai pembaca yang benar-benar tertarik dengan topik dan kontribusi penelitian.
Aim and scope juga dapat membantu penulis memahami ekspektasi komunitas akademik. Dengan membaca artikel terbaru, penulis dapat mengetahui istilah yang lazim digunakan, permasalahan yang sedang dibahas, serta jenis kontribusi yang dianggap penting. Informasi tersebut dapat digunakan untuk memperkuat positioning tanpa mengubah substansi penelitian.
Pada akhirnya, memahami aim and scope jurnal bukan jaminan artikel pasti diterima. Manuskrip tetap akan dinilai berdasarkan kualitas ilmiah, kebaruan, metodologi, analisis, etika, dan berbagai pertimbangan editorial lainnya. Namun, memastikan kesesuaian scope dapat menghilangkan salah satu hambatan awal yang sebenarnya dapat dicegah.
Baca juga:Scope Mismatch: Alasan Umum Manuskrip Ditolak oleh Jurnal
Kesimpulan
Cara memahami aim and scope jurnal merupakan langkah penting agar artikel tidak ditolak karena ketidaksesuaian dengan fokus publikasi. Aim and scope memberikan gambaran mengenai tujuan, bidang keilmuan, topik, pendekatan, target pembaca, dan jenis kontribusi yang diharapkan jurnal. Dengan membaca informasi tersebut secara menyeluruh, penulis dapat mengetahui apakah manuskrip mempunyai relevansi yang cukup sebelum melakukan submission.
Penulis sebaiknya tidak hanya melihat nama jurnal atau satu kata kunci yang sama. Pemeriksaan perlu mencakup judul, abstrak, research gap, metode, objek, hasil, pembahasan, kontribusi, serta jenis manuskrip yang diterima. Membaca artikel terbaru juga menjadi langkah penting karena dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana aim and scope diterapkan dalam publikasi nyata. Jika diperlukan, penulis dapat menggunakan matriks dan checklist untuk membandingkan beberapa jurnal secara objektif.
Pada akhirnya, memilih jurnal yang sesuai merupakan bagian dari strategi publikasi yang sama pentingnya dengan menulis penelitian berkualitas. Memahami aim and scope jurnal dapat membantu menghindari scope mismatch, mengurangi risiko desk reject, menghemat waktu, dan memperbesar kemungkinan manuskrip diteruskan ke peer review. Dengan melakukan pemeriksaan secara sistematis sebelum submission, penulis dapat menempatkan artikel pada jurnal yang paling relevan dengan bidang, topik, dan kontribusi penelitian.
Ketahui lebih banyak informasi terbaru dan terlengkap mengenai skripsi dengan mengikuti terus artikel dari Publish Jurnal. Dapatkan juga bimbingan eksklusif untuk skripsi dan tugas akhir bagi Anda yang sedang menghadapi masalah dalam penyusunan skripsi dengan menghubungi Admin Publish Jurnal sekarang juga! Konsultasikan kesulitan Anda dan raih kelulusan studi lebih cepat.



