Mengirim artikel ke jurnal ilmiah tidak berarti manuskrip akan langsung masuk ke tahap peer review. Setelah penulis melakukan submission, artikel biasanya melewati pemeriksaan awal yang dilakukan oleh editor atau tim editorial. Tahap inilah yang dikenal sebagai editorial screening. Proses ini menjadi bagian penting karena menentukan apakah manuskrip layak diteruskan kepada reviewer atau berhenti pada tahap editorial.
Editorial screening merupakan proses pemeriksaan awal terhadap manuskrip sebelum masuk ke evaluasi oleh reviewer. Pemeriksaan dapat mencakup kesesuaian artikel dengan scope jurnal, kelengkapan dokumen, format penulisan, kualitas dasar manuskrip, kebaruan penelitian, aspek etika, hingga kesesuaian jenis artikel. Karena dilakukan sebelum peer review, editorial screening sering menjadi tahap yang menentukan perjalanan sebuah manuskrip.
Bagi penulis, memahami editorial screening sangat penting agar artikel tidak mengalami desk reject karena masalah yang sebenarnya dapat diperbaiki sebelum submission. Manuskrip dengan penelitian yang baik tetap dapat ditolak apabila tidak sesuai dengan fokus jurnal atau tidak mengikuti persyaratan yang telah ditentukan. Oleh karena itu, penulis perlu memahami apa saja yang diperiksa editor dan bagaimana mempersiapkan artikel sebelum dikirim.
Editorial screening juga membantu jurnal mengelola proses publikasi secara lebih efisien. Jumlah artikel yang masuk ke jurnal dapat sangat banyak, sedangkan jumlah editor dan reviewer terbatas. Dengan adanya pemeriksaan awal, editor dapat menentukan manuskrip mana yang benar-benar relevan untuk dikirim kepada reviewer. Proses ini membantu penggunaan waktu dan sumber daya editorial secara lebih efektif.
Artikel yang berhasil melewati editorial screening belum tentu diterima oleh jurnal. Manuskrip masih harus melalui peer review dan tahapan editorial berikutnya. Dengan demikian, editorial screening lebih tepat dipahami sebagai gerbang awal dalam proses publikasi ilmiah. Penulis yang memahami tahap ini dapat mempersiapkan manuskrip secara lebih matang dan meningkatkan peluang artikel untuk masuk ke proses review.
Pengertian Editorial Screening dalam Publikasi Jurnal
Editorial screening adalah tahap pemeriksaan awal yang dilakukan oleh editor setelah manuskrip disubmit dan sebelum artikel dikirim kepada reviewer. Pada tahap ini, editor menilai apakah artikel memenuhi persyaratan dasar jurnal dan layak dipertimbangkan lebih lanjut. Pemeriksaan tersebut dapat bersifat administratif sekaligus akademik, tergantung kebijakan masing-masing jurnal.
Tahap editorial screening biasanya dimulai setelah sistem jurnal menerima submission. Manuskrip dapat diperiksa oleh staf editorial terlebih dahulu untuk memastikan dokumen yang diperlukan telah tersedia. Setelah itu, editor dapat mengevaluasi isi artikel secara lebih mendalam dari sisi relevansi, kualitas awal, dan kesesuaian dengan fokus jurnal. Jika tidak ditemukan masalah mendasar, artikel dapat diteruskan ke proses peer review.
Setiap jurnal dapat memiliki prosedur editorial screening yang berbeda. Ada jurnal yang melakukan pemeriksaan secara sederhana, sedangkan jurnal lain mempunyai tahap screening yang cukup ketat. Beberapa jurnal bahkan menggunakan pemeriksaan awal untuk menilai novelty, methodological soundness, ethical compliance, dan potential interest to readers. Oleh karena itu, penulis perlu membaca author guidelines untuk memahami karakteristik proses editorial jurnal tujuan.
Editorial screening juga berbeda dari peer review. Dalam peer review, manuskrip dinilai oleh reviewer yang memiliki keahlian dalam bidang tertentu. Reviewer biasanya memberikan evaluasi mengenai metodologi, hasil, pembahasan, kebaruan, dan aspek ilmiah lainnya. Sementara itu, editorial screening lebih berfokus pada apakah manuskrip layak masuk ke tahap evaluasi tersebut.
Jika artikel tidak memenuhi kriteria editorial, editor dapat memberikan keputusan berupa desk reject. Keputusan tersebut berarti artikel ditolak sebelum dikirim kepada reviewer. Desk reject dapat terjadi karena scope tidak sesuai, format bermasalah, kontribusi penelitian tidak cukup jelas, atau terdapat kelemahan mendasar yang terlihat sejak pemeriksaan awal. Karena itu, editorial screening perlu menjadi perhatian serius bagi setiap penulis.
Baca juga:Bimbingan Publikasi Jurnal SINTA dan Scopus dari Submit hingga Artikel Terbit
Apa Saja yang Diperiksa Saat Editorial Screening?
Editorial screening tidak hanya memeriksa format artikel. Editor dapat melihat manuskrip secara keseluruhan untuk menentukan apakah artikel memenuhi standar awal jurnal. Pemeriksaan dapat berlangsung dalam waktu relatif singkat, tetapi keputusan yang dihasilkan mempunyai dampak besar terhadap kelanjutan proses publikasi.
Salah satu aspek pertama yang diperiksa adalah kesesuaian scope. Editor ingin memastikan bahwa topik penelitian berada dalam bidang yang dilayani jurnal. Artikel yang berada di luar scope biasanya tidak akan dikirim kepada reviewer meskipun penelitian tersebut mempunyai kualitas akademik yang baik. Karena itu, membaca aims and scope merupakan langkah penting sebelum submission.
Editor juga dapat memperhatikan judul dan abstrak. Dua bagian tersebut memberikan gambaran awal mengenai fokus, metode, hasil, dan kontribusi penelitian. Judul yang tidak jelas atau abstrak yang tidak mampu menunjukkan tujuan dan hasil utama dapat membuat editor kesulitan memahami nilai artikel. Penulis perlu memastikan bahwa informasi penting penelitian dapat terlihat sejak bagian awal manuskrip.
Aspek berikutnya adalah struktur dan kualitas dasar manuskrip. Editor dapat melihat apakah artikel memiliki alur yang logis antara pendahuluan, metode, hasil, pembahasan, dan kesimpulan. Jika struktur artikel sangat tidak teratur atau argumentasi utama sulit dipahami, manuskrip dapat dianggap belum siap untuk peer review. Kualitas bahasa juga dapat menjadi pertimbangan karena artikel ilmiah perlu disampaikan secara jelas.
Editor dapat memeriksa kontribusi dan kebaruan penelitian. Artikel ilmiah diharapkan memberikan nilai tambah terhadap bidang yang dibahas. Jika manuskrip hanya mengulang penelitian sebelumnya tanpa menunjukkan pengembangan yang jelas, editor dapat mempertanyakan alasan artikel tersebut perlu diterbitkan. Oleh karena itu, research gap dan novelty perlu dijelaskan dengan baik.
Aspek etika dan integritas publikasi juga dapat diperiksa. Jurnal dapat melakukan pemeriksaan terhadap plagiarisme, publikasi ganda, konflik kepentingan, authorship, ethical approval, serta pernyataan lain yang diwajibkan. Pemeriksaan tersebut penting untuk memastikan manuskrip memenuhi standar etika sebelum melibatkan reviewer.
Faktor yang Menentukan Artikel Lolos Editorial Screening
Editorial screening dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Tidak ada satu kriteria tunggal yang menjamin artikel pasti lolos karena editor dapat mempertimbangkan manuskrip secara keseluruhan. Namun, terdapat beberapa aspek utama yang perlu diperhatikan penulis sebelum melakukan submission.
Kesesuaian dengan jurnal merupakan salah satu faktor paling penting. Penulis perlu memastikan bahwa penelitian memiliki hubungan yang jelas dengan fokus jurnal. Jangan hanya memilih jurnal berdasarkan nama atau indeksasi. Baca aims and scope dan bandingkan dengan beberapa artikel terbaru yang telah diterbitkan.
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan antara lain:
- Kesesuaian scope: topik dan pendekatan penelitian harus berada dalam bidang yang menjadi fokus jurnal.
- Novelty: penelitian perlu menunjukkan kontribusi atau pengembangan yang jelas dibandingkan penelitian sebelumnya.
- Research gap: pendahuluan harus menjelaskan masalah atau celah penelitian yang menjadi dasar penelitian.
- Kualitas metodologi: metode harus sesuai dengan pertanyaan dan tujuan penelitian serta dijelaskan secara memadai.
- Kejelasan abstrak: abstrak perlu menyampaikan tujuan, metode, hasil utama, dan kesimpulan secara ringkas.
- Kualitas bahasa: penulisan harus jelas, konsisten, dan mudah dipahami oleh pembaca akademik.
- Kepatuhan terhadap template: format artikel perlu mengikuti ketentuan jurnal.
- Kelengkapan dokumen: seluruh file dan informasi yang diminta harus tersedia.
- Etika penelitian: persyaratan ethical approval dan informasi terkait harus dipenuhi apabila diperlukan.
- Kualitas referensi: sumber yang digunakan harus relevan dan mendukung argumentasi penelitian.
Faktor-faktor tersebut saling berhubungan. Manuskrip yang memenuhi satu aspek tetapi mengabaikan aspek lainnya tetap dapat mengalami desk reject. Karena itu, penulis perlu melakukan pemeriksaan menyeluruh sebelum artikel dikirim.
Perbedaan Editorial Screening dan Peer Review
Editorial screening dan peer review merupakan dua tahap yang berbeda dalam publikasi ilmiah. Keduanya sama-sama bertujuan menjaga kualitas artikel, tetapi pihak yang melakukan pemeriksaan, fokus penilaian, dan tujuan prosesnya tidak sama. Memahami perbedaan tersebut dapat membantu penulis memahami status manuskrip setelah submission.
Editorial screening dilakukan sebelum artikel dikirim kepada reviewer. Editor dapat memeriksa kesesuaian scope, kualitas awal, format, kontribusi, serta aspek etika. Pada tahap ini, editor menentukan apakah artikel layak dilanjutkan ke proses evaluasi eksternal.
Sementara itu, peer review melibatkan reviewer yang mempunyai keahlian pada bidang penelitian tertentu. Reviewer dapat memberikan penilaian lebih mendalam mengenai teori, metodologi, data, analisis, hasil, pembahasan, dan kontribusi penelitian. Laporan reviewer kemudian menjadi salah satu pertimbangan editor dalam menentukan keputusan.
Secara sederhana, editorial screening dapat dianalogikan sebagai pemeriksaan awal sebelum sebuah artikel masuk ke evaluasi ilmiah yang lebih mendalam. Lolos editorial screening bukan berarti artikel sudah diterima. Manuskrip baru memperoleh kesempatan untuk dinilai oleh reviewer.
Tahapan Editorial Screening Setelah Submission
Setelah penulis menekan tombol submission, artikel biasanya tercatat dalam sistem jurnal. Status manuskrip dapat menunjukkan bahwa artikel telah berhasil dikirim atau sedang menunggu pemeriksaan editorial. Pada beberapa jurnal, staf editorial akan memeriksa kelengkapan dokumen sebelum manuskrip diberikan kepada editor.
Pemeriksaan administratif dapat mencakup file manuskrip, cover letter, metadata penulis, deklarasi konflik kepentingan, data availability statement, ethical statement, dan dokumen lainnya. Jika terdapat kekurangan, jurnal dapat meminta penulis melengkapinya terlebih dahulu. Dalam kondisi tertentu, manuskrip belum dianggap siap untuk masuk ke evaluasi editor sampai persyaratan tersebut dipenuhi.
Setelah pemeriksaan administratif, editor dapat membaca judul, abstrak, dan bagian utama manuskrip. Editor menilai apakah artikel relevan dengan scope dan standar dasar jurnal. Jika artikel dinilai sesuai, editor dapat mencari reviewer yang tepat.
Namun, jika terdapat masalah yang mendasar, editor dapat memberikan keputusan editorial tanpa peer review. Inilah yang kemudian dikenal sebagai desk reject. Karena keputusan dapat diberikan pada tahap awal, penulis perlu memastikan manuskrip sudah memenuhi persyaratan utama sebelum submission.
Cara Mempersiapkan Artikel agar Lolos Editorial Screening
Persiapan sebelum submission merupakan langkah penting untuk meningkatkan peluang artikel melewati editorial screening. Penulis sebaiknya membaca panduan jurnal secara menyeluruh, bukan hanya melihat format dasar. Author guidelines biasanya berisi informasi mengenai jenis artikel, jumlah kata, struktur manuskrip, gaya referensi, format tabel dan gambar, serta dokumen pendukung.
Penulis juga perlu memeriksa apakah penelitian benar-benar sesuai dengan scope jurnal. Cara sederhana yang dapat dilakukan adalah membaca aims and scope kemudian membandingkannya dengan artikel terbaru. Jika sebagian besar artikel yang diterbitkan memiliki karakteristik yang jauh berbeda dengan manuskrip, penulis perlu mempertimbangkan jurnal alternatif.
Bagian abstrak dan pendahuluan juga harus diperhatikan secara khusus. Editor perlu dapat memahami masalah penelitian dan kontribusinya dengan cepat. Research gap, tujuan penelitian, metode utama, hasil penting, dan kontribusi sebaiknya disampaikan dengan jelas tanpa membuat abstrak terlalu panjang.
Sebelum submission, lakukan proofreading secara menyeluruh. Kesalahan tata bahasa, typo, format referensi, tabel, gambar, dan sitasi dapat dikurangi melalui pemeriksaan akhir. Penulis juga dapat meminta rekan atau pembimbing membaca manuskrip untuk menemukan masalah yang belum terlihat.
Terakhir, pastikan seluruh persyaratan etika dan administratif telah dipenuhi. Semua penulis perlu menyetujui versi akhir manuskrip, urutan authorship harus sudah disepakati, dan dokumen tambahan harus tersedia. Persiapan yang lengkap dapat membuat proses editorial berjalan lebih lancar.
Kesalahan yang Dapat Menyebabkan Artikel Gagal Editorial Screening
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah penulis memilih jurnal tanpa memeriksa scope secara mendalam. Nama jurnal, reputasi, atau indeksasi memang penting, tetapi tidak cukup untuk menentukan kesesuaian. Editor akan melihat apakah topik penelitian benar-benar relevan dengan fokus jurnal dan pembacanya. Artikel yang berada di luar scope dapat mengalami desk reject meskipun memiliki metode dan hasil yang baik. Karena itu, membaca aims and scope sebelum submission merupakan langkah yang tidak boleh dilewatkan.
Kesalahan berikutnya adalah research gap dan novelty yang tidak terlihat jelas. Artikel mungkin sebenarnya memiliki kontribusi, tetapi penulis tidak menjelaskan dengan baik perbedaan penelitian tersebut dengan studi sebelumnya. Pendahuluan yang hanya berisi latar belakang panjang tanpa menunjukkan celah penelitian dapat menyulitkan editor memahami urgensi artikel. Penulis perlu menjelaskan apa yang telah diketahui, apa yang belum diketahui, apa yang dilakukan penelitian, serta kontribusi yang dihasilkan.
Masalah metodologi juga dapat menjadi perhatian dalam editorial screening. Editor dapat melihat apakah desain penelitian sesuai dengan tujuan, apakah data memadai, dan apakah metode analisis dapat menjawab pertanyaan penelitian. Penjelasan metode yang terlalu singkat atau tidak konsisten dapat menimbulkan keraguan terhadap kualitas penelitian. Oleh karena itu, metode perlu ditulis secara sistematis dan transparan.
Kesalahan teknis juga tidak boleh dianggap sepele. Manuskrip yang tidak mengikuti template, jumlah kata tidak sesuai, referensi tidak menggunakan gaya yang diminta, tabel atau gambar tidak mengikuti ketentuan, serta dokumen submission yang tidak lengkap dapat menghambat proses editorial. Sebagian jurnal sangat ketat terhadap persyaratan tersebut sehingga penulis perlu melakukan pemeriksaan akhir sebelum mengirimkan artikel.
Masalah etika publikasi merupakan faktor lain yang dapat menghentikan artikel pada tahap awal. Misalnya, terdapat indikasi plagiarisme, publikasi ganda, konflik kepentingan yang tidak diungkapkan, atau persyaratan ethical approval yang tidak dipenuhi. Penulis perlu memastikan seluruh pernyataan etika sesuai dengan kondisi penelitian. Integritas akademik harus menjadi bagian dari persiapan manuskrip sejak awal.
Checklist Sebelum Menghadapi Editorial Screening
Sebelum melakukan submission, penulis dapat membuat checklist untuk memastikan manuskrip telah siap menghadapi editorial screening. Checklist ini berguna karena banyak masalah yang menyebabkan artikel ditolak sebenarnya bersifat preventif. Dengan melakukan pemeriksaan sebelum submission, penulis dapat memperbaiki kekurangan ketika masih mempunyai kendali penuh terhadap manuskrip.
Beberapa aspek yang dapat diperiksa meliputi:
- Topik penelitian sesuai dengan aims and scope jurnal.
- Jenis manuskrip sesuai dengan artikel yang diterima jurnal.
- Judul mencerminkan fokus penelitian secara jelas.
- Abstrak menjelaskan tujuan, metode, hasil, dan kesimpulan.
- Research gap dijelaskan dengan logis.
- Novelty atau kontribusi penelitian terlihat jelas.
- Referensi relevan dengan topik penelitian.
- Literatur terbaru digunakan secara proporsional.
- Metodologi sesuai dengan tujuan penelitian.
- Teknik analisis sesuai dengan data yang digunakan.
- Hasil menjawab tujuan atau pertanyaan penelitian.
- Pembahasan menginterpretasikan hasil, bukan sekadar mengulanginya.
- Kesimpulan sesuai dengan temuan penelitian.
- Template jurnal telah diikuti.
- Jumlah kata sesuai dengan ketentuan.
- Sitasi dan daftar pustaka telah diperiksa.
- Tabel dan gambar sesuai dengan format jurnal.
- Bahasa telah melalui proofreading.
- Seluruh dokumen submission tersedia.
- Pernyataan etika dan konflik kepentingan telah disiapkan.
- Seluruh penulis menyetujui versi final artikel.
Checklist tersebut dapat digunakan sebagai pemeriksaan terakhir sebelum manuskrip dikirim. Penulis juga dapat menambahkan persyaratan khusus yang terdapat pada jurnal tujuan agar pemeriksaan menjadi lebih spesifik.
Berapa Lama Proses Editorial Screening?
Tidak terdapat durasi universal untuk editorial screening karena setiap jurnal memiliki sistem dan beban kerja editorial yang berbeda. Beberapa manuskrip dapat memperoleh keputusan dalam hitungan hari, sedangkan jurnal dengan jumlah submission tinggi dapat membutuhkan waktu lebih lama. Oleh karena itu, penulis tidak sebaiknya menggunakan pengalaman satu artikel sebagai patokan mutlak.
Kecepatan editorial screening dapat dipengaruhi oleh jumlah submission, ketersediaan editor, kelengkapan manuskrip, dan kompleksitas pemeriksaan. Jika artikel tidak sesuai dengan scope, keputusan desk reject dapat diberikan relatif cepat. Sebaliknya, jika editor perlu memeriksa berbagai aspek atau menentukan editor yang sesuai, proses awal dapat membutuhkan waktu lebih panjang.
Penulis sebaiknya memeriksa informasi resmi jurnal mengenai editorial process atau time to first decision. Namun, perlu diingat bahwa time to first decision tidak selalu berarti durasi editorial screening saja. Statistik tersebut dapat mencakup keseluruhan proses hingga keputusan pertama, termasuk kemungkinan peer review.
Jika manuskrip telah melewati estimasi waktu yang diberikan jurnal, penulis dapat melakukan follow-up secara sopan. Pertanyaan sebaiknya disampaikan melalui editorial office atau sistem submission yang tersedia. Hindari menghubungi editor secara berulang dalam waktu singkat karena proses editorial membutuhkan waktu dan pertimbangan profesional.
Cara Mengetahui Artikel Sudah Lolos Editorial Screening
Sistem jurnal biasanya memberikan status tertentu untuk menunjukkan perkembangan manuskrip. Istilah yang digunakan dapat berbeda-beda, tetapi status seperti “with editor”, “under review”, atau “reviewers invited” dapat memberikan gambaran mengenai posisi artikel.
Status “with editor” belum tentu berarti artikel sudah lolos editorial screening. Editor mungkin masih melakukan pemeriksaan awal, menentukan editor bidang, atau mencari reviewer. Oleh sebab itu, penulis perlu memahami bahwa status dalam sistem jurnal dapat mempunyai arti yang berbeda tergantung platform dan kebijakan jurnal.
Jika status berubah menjadi “under review”, “reviewers assigned”, atau istilah serupa, biasanya manuskrip telah bergerak menuju tahap evaluasi reviewer. Namun, tidak semua jurnal menggunakan status yang sama. Penulis dapat membaca panduan sistem submission atau FAQ jurnal jika ingin memahami arti status tertentu.
Yang terpenting, jangan menafsirkan perubahan status secara berlebihan. Status manuskrip hanya memberikan gambaran proses administratif dan editorial. Keputusan akhir tetap bergantung pada evaluasi editor dan reviewer.
Apa yang Dilakukan Jika Artikel Mengalami Desk Reject?
Jika artikel mengalami desk reject, penulis sebaiknya membaca alasan keputusan dengan objektif. Beberapa editor memberikan alasan yang cukup rinci, sedangkan sebagian lainnya hanya menyampaikan bahwa artikel tidak sesuai dengan prioritas atau scope jurnal. Informasi tersebut perlu digunakan untuk menentukan langkah selanjutnya.
Jika penyebabnya adalah ketidaksesuaian scope, penulis dapat mempertimbangkan jurnal lain yang lebih relevan. Tidak selalu diperlukan perubahan besar terhadap penelitian. Namun, penulis tetap perlu mengevaluasi apakah struktur dan penekanan artikel sesuai dengan jurnal baru.
Jika desk reject disebabkan oleh kelemahan manuskrip, penulis sebaiknya memperbaikinya sebelum submission berikutnya. Research gap dapat diperjelas, metodologi dapat diperbaiki, referensi dapat diperbarui, dan pembahasan dapat diperkuat. Dengan demikian, keputusan editorial dapat menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas artikel.
Penulis juga tidak perlu langsung menganggap desk reject sebagai kegagalan penelitian. Artikel yang tidak sesuai dengan satu jurnal dapat memiliki peluang di jurnal lain. Yang penting adalah memilih jurnal yang relevan dan melakukan perbaikan berdasarkan alasan penolakan.
Peran Editorial Screening dalam Menjaga Kualitas Jurnal
Editorial screening merupakan mekanisme penting dalam menjaga kualitas dan relevansi publikasi ilmiah. Editor tidak hanya bertugas menerima dan menerbitkan artikel, tetapi juga memastikan manuskrip yang masuk ke proses peer review memenuhi persyaratan dasar. Dengan demikian, editorial screening membantu jurnal mengarahkan sumber daya reviewer kepada artikel yang memang relevan untuk dievaluasi.
Bagi penulis, memahami editorial screening berarti memahami bahwa kualitas artikel dinilai sejak tahap paling awal. Scope, novelty, metodologi, struktur, bahasa, format, dan etika publikasi semuanya dapat memengaruhi keputusan editor. Karena itu, persiapan artikel tidak seharusnya hanya berfokus pada isi penelitian, tetapi juga pada kesesuaian manuskrip dengan jurnal tujuan.
Pada akhirnya, editorial screening bukan sekadar hambatan sebelum peer review, melainkan bagian penting dari sistem publikasi ilmiah. Penulis yang mempersiapkan manuskrip dengan baik dapat menghadapi tahap ini secara lebih percaya diri dan realistis. Jika artikel berhasil melewati editorial screening, manuskrip memperoleh kesempatan untuk dinilai lebih mendalam oleh reviewer, meskipun hasil akhirnya tetap belum dapat dipastikan.
Baca juga:Desk Reject: Penyebab Artikel Ditolak Sebelum Peer Review
Kesimpulan
Editorial screening merupakan tahap awal dalam proses publikasi jurnal yang dilakukan sebelum artikel masuk ke peer review. Pada tahap ini, editor dapat memeriksa kesesuaian scope, kualitas awal manuskrip, novelty, research gap, metodologi, format, bahasa, kelengkapan dokumen, serta aspek etika. Artikel yang tidak memenuhi persyaratan tertentu dapat mengalami desk reject tanpa melalui evaluasi reviewer. Karena itu, memahami editorial screening menjadi bagian penting dari strategi publikasi ilmiah.
Penulis dapat meningkatkan kesiapan menghadapi editorial screening dengan memilih jurnal secara tepat, membaca aims and scope, mengikuti author guidelines, memperjelas kontribusi penelitian, memperkuat metodologi, menggunakan referensi yang relevan, serta melakukan proofreading sebelum submission. Checklist juga dapat digunakan untuk memastikan tidak ada persyaratan administratif atau teknis yang terlewat. Persiapan tersebut tidak menjamin artikel pasti lolos, tetapi dapat mengurangi risiko penolakan karena kesalahan yang sebenarnya dapat dicegah.
Pada akhirnya, editorial screening perlu dipandang sebagai proses seleksi awal yang membantu memastikan artikel relevan dan layak untuk masuk peer review. Desk reject bukan selalu berarti penelitian tidak berkualitas karena keputusan dapat disebabkan oleh ketidaksesuaian jurnal atau prioritas editorial. Dengan memahami tahapan, faktor penilaian, dan cara mempersiapkan manuskrip, penulis dapat menyusun strategi submission yang lebih baik dan meningkatkan peluang artikel untuk melanjutkan ke tahap peer review.
Ketahui lebih banyak informasi terbaru dan terlengkap mengenai skripsi dengan mengikuti terus artikel dari Publish Jurnal. Dapatkan juga bimbingan eksklusif untuk skripsi dan tugas akhir bagi Anda yang sedang menghadapi masalah dalam penyusunan skripsi dengan menghubungi Admin Publish Jurnal sekarang juga! Konsultasikan kesulitan Anda dan raih kelulusan studi lebih cepat.



