Penolakan artikel merupakan salah satu tantangan yang dapat dialami penulis dalam proses publikasi ilmiah. Meskipun keputusan tersebut bisa mengecewakan, penolakan tidak selalu berarti penelitian yang dilakukan tidak memiliki nilai akademik. Ada berbagai alasan yang membuat editor atau reviewer belum dapat menerima sebuah naskah, mulai dari ketidaksesuaian dengan fokus jurnal, kelemahan metodologi, keterbatasan kontribusi ilmiah, hingga masalah penyajian hasil penelitian. Karena itu, penulis perlu menentukan langkah berikutnya secara terarah agar upaya publikasi tidak berhenti pada satu keputusan editorial.
Menerapkan strategi setelah jurnal ditolak berarti menjadikan keputusan tersebut sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas manuskrip. Penulis sebaiknya tidak langsung mengirimkan artikel yang sama ke jurnal lain tanpa memeriksa kembali isi, struktur, dan kesesuaiannya. Komentar editor serta reviewer dapat membantu menunjukkan bagian yang perlu diperkuat, sedangkan evaluasi mandiri dapat menemukan persoalan yang belum dibahas dalam catatan penolakan. Dengan proses tersebut, naskah memiliki peluang lebih baik untuk memenuhi standar jurnal yang dituju berikutnya.
Selain memperbaiki isi penelitian, penulis juga perlu menyusun rencana submission yang realistis. Jurnal berikutnya harus dipilih berdasarkan ruang lingkup, jenis artikel, standar ilmiah, dan ketentuan publikasinya. Perubahan tujuan publikasi terkadang mengharuskan penyesuaian abstrak, pendahuluan, format referensi, atau cara menonjolkan kontribusi penelitian. Oleh sebab itu, strategi yang tepat tidak hanya berfokus pada menemukan jurnal pengganti, tetapi juga memastikan bahwa naskah benar-benar lebih siap sebelum dikirim kembali.
Memahami Alasan Penolakan Artikel Jurnal sebelum Melakukan Perbaikan
Penulis perlu memahami alasan penolakan sebelum menentukan perubahan yang harus dilakukan. Keputusan editor dapat dipengaruhi oleh faktor administratif, kesesuaian topik, kualitas akademik, maupun hasil penilaian reviewer. Setiap faktor memerlukan respons yang berbeda sehingga penulis sebaiknya tidak memperlakukan semua penolakan sebagai masalah yang sama. Membaca surat keputusan secara teliti menjadi langkah awal untuk mengetahui apakah naskah memerlukan perbaikan substansial, penyesuaian format, atau pengalihan ke jurnal yang lebih sesuai.
Penolakan yang terjadi pada tahap awal atau desk rejection umumnya diberikan sebelum naskah memasuki proses peer review secara penuh. Penyebabnya dapat berupa topik yang berada di luar fokus jurnal, kontribusi yang belum terlihat jelas, format yang tidak sesuai, atau pertimbangan prioritas editorial. Dalam situasi ini, penulis perlu meninjau kembali hubungan antara tujuan penelitian dan cakupan jurnal. Apabila masalah utamanya adalah ketidaksesuaian ruang lingkup, mengubah metode atau hasil penelitian belum tentu menjadi solusi. Memilih jurnal dengan fokus yang lebih relevan mungkin merupakan langkah yang lebih efektif.
Jika penolakan diberikan setelah proses peer review, komentar reviewer dapat menjadi sumber informasi penting untuk evaluasi naskah. Reviewer mungkin menyoroti keterbatasan tinjauan pustaka, penjelasan metode yang kurang terperinci, analisis yang belum menjawab pertanyaan penelitian, atau kesimpulan yang terlalu luas dibandingkan bukti yang tersedia. Penulis sebaiknya memeriksa setiap komentar dan membedakan kritik terhadap substansi penelitian dari masukan mengenai penyajian tulisan. Pembedaan tersebut membantu menentukan prioritas revisi sekaligus menghindari perubahan yang tidak diperlukan.
Tidak semua komentar reviewer harus diterapkan secara harfiah, terutama apabila terdapat saran yang tidak sejalan dengan tujuan atau desain penelitian. Namun, setiap kritik tetap perlu dipertimbangkan secara akademik dan berdasarkan bukti. Penulis dapat mendiskusikan masukan yang kompleks dengan pembimbing atau rekan peneliti untuk memastikan penilaiannya tidak hanya didasarkan pada reaksi emosional. Apabila komentar menunjukkan kelemahan yang memang dapat diperbaiki, perubahan sebaiknya dilakukan secara nyata, bukan sekadar mengganti kalimat agar terlihat berbeda.
Setelah alasan penolakan dipetakan, buatlah daftar masalah berdasarkan tingkat kepentingannya. Masalah yang memengaruhi validitas hasil, kejelasan kontribusi, dan ketepatan kesimpulan perlu memperoleh perhatian lebih besar daripada kesalahan ejaan atau format. Penulis juga dapat menandai bagian yang sudah kuat agar tidak diubah tanpa alasan yang jelas. Pendekatan ini membuat strategi setelah jurnal ditolak lebih terukur karena setiap perbaikan memiliki tujuan, dasar pertimbangan, dan hasil yang ingin dicapai.
Baca juga:Bimbingan Publikasi Jurnal SINTA dan Scopus dari Submit hingga Artikel Terbit
Mengevaluasi dan Memperbaiki Kualitas Manuskrip secara Menyeluruh
Evaluasi manuskrip perlu dilakukan dari sudut pandang pembaca akademik yang belum mengetahui proses penelitian secara langsung. Naskah yang terasa jelas bagi penulis belum tentu mudah dipahami oleh editor atau reviewer. Karena itu, penulis perlu memastikan bahwa masalah penelitian, tujuan, metode, hasil, dan kontribusi disampaikan secara runtut. Setiap bagian harus saling mendukung agar pembaca dapat mengikuti alasan penelitian dilakukan, cara bukti dikumpulkan, serta dasar yang digunakan untuk menarik kesimpulan.
Pendahuluan menjadi bagian penting yang perlu diperiksa karena menentukan apakah pembaca memahami urgensi penelitian. Latar belakang sebaiknya tidak hanya berisi rangkuman teori dan penelitian terdahulu, tetapi juga menunjukkan persoalan yang belum terjawab. Kesenjangan penelitian perlu dijelaskan secara spesifik dan didukung referensi yang relevan. Setelah itu, tujuan atau pertanyaan penelitian harus dinyatakan dengan jelas sehingga hubungan antara masalah, pendekatan, dan kontribusi dapat terlihat sejak awal.
Bagian metode juga harus diperiksa secara kritis. Penulis perlu memastikan bahwa desain penelitian, karakteristik data atau partisipan, prosedur pengumpulan data, instrumen, serta teknik analisis dijelaskan sesuai dengan jenis penelitian yang dilakukan. Apabila penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif, alasan pemilihan teknik analisis dan kesesuaiannya dengan pertanyaan penelitian perlu diterangkan. Pada penelitian kualitatif, proses pemilihan informan, pengumpulan data, pengodean, dan penarikan tema perlu disampaikan secara transparan. Penjelasan yang memadai membantu pembaca menilai ketepatan proses penelitian tanpa harus menebak langkah yang tidak dituliskan.
Hasil dan pembahasan perlu diperiksa agar tidak sekadar mengulang informasi yang sama. Bagian hasil menyajikan temuan berdasarkan analisis, sedangkan pembahasan menjelaskan arti temuan tersebut dalam konteks teori dan penelitian terdahulu. Penulis perlu menghindari klaim yang lebih luas daripada bukti yang tersedia. Jika hasil penelitian menunjukkan hubungan antarvariabel, misalnya, kesimpulan tidak boleh langsung menyatakan hubungan sebab-akibat apabila desain penelitian tidak mendukung interpretasi tersebut. Ketepatan dalam menafsirkan bukti menjadi salah satu unsur penting dalam meningkatkan kredibilitas manuskrip.
Evaluasi juga perlu mencakup referensi, tabel, gambar, dan konsistensi istilah. Referensi yang digunakan sebaiknya relevan dengan topik, cukup mutakhir jika bidang penelitian menuntut perkembangan terbaru, dan benar-benar mendukung pernyataan yang dirujuk. Tabel serta gambar harus memiliki judul, keterangan, dan penomoran yang konsisten. Penulis dapat menggunakan daftar pemeriksaan berikut sebelum menentukan bahwa revisi substantif telah selesai.
- Kejelasan masalah penelitian: latar belakang mengarah pada persoalan yang spesifik dan penting untuk dikaji.
- Kekuatan kontribusi ilmiah: kebaruan atau nilai tambah penelitian dijelaskan secara realistis.
- Konsistensi metodologi: metode sesuai dengan tujuan dan diterangkan dengan cukup rinci.
- Ketepatan interpretasi: hasil, pembahasan, dan kesimpulan didukung oleh data yang tersedia.
- Kualitas referensi: sumber relevan, dapat ditelusuri, dan dicantumkan secara konsisten.
- Keterbacaan naskah: struktur paragraf, istilah, tabel, serta gambar membantu pembaca memahami isi penelitian.
Perbaikan manuskrip sebaiknya dilakukan secara bertahap, bukan dengan mengubah seluruh isi sekaligus tanpa rencana. Penulis dapat memulai dari persoalan utama yang menyebabkan penolakan, kemudian beralih ke bagian pendukung dan penyuntingan bahasa. Setelah revisi selesai, baca kembali naskah sebagai satu kesatuan untuk memeriksa apakah alurnya tetap logis. Dengan evaluasi menyeluruh, strategi setelah jurnal ditolak dapat menghasilkan manuskrip yang lebih jelas, konsisten, dan siap dinilai oleh jurnal berikutnya.
Memilih Jurnal Baru yang Sesuai dengan Fokus dan Kualitas Penelitian
Setelah melakukan evaluasi terhadap manuskrip, penulis perlu menentukan jurnal yang paling sesuai dengan karakteristik penelitian. Pemilihan jurnal tidak sebaiknya hanya didasarkan pada reputasi, peringkat indeksasi, atau keinginan agar artikel segera terbit. Jurnal yang memiliki reputasi baik belum tentu menjadi tempat yang tepat bagi setiap penelitian. Kesesuaian antara topik, metode, jenis artikel, dan pembaca sasaran perlu menjadi pertimbangan utama agar naskah dapat dinilai dalam konteks keilmuan yang tepat.
Langkah awal adalah membaca aims and scope atau tujuan dan ruang lingkup jurnal. Bagian ini memberikan gambaran mengenai topik yang diprioritaskan, pendekatan penelitian yang diterima, serta kontribusi yang diharapkan dari penulis. Periksa pula artikel yang baru diterbitkan untuk melihat karakteristik penelitian yang dianggap relevan oleh jurnal tersebut. Jika sebagian besar artikel membahas persoalan yang berbeda dari manuskrip, penulis perlu mempertimbangkan jurnal lain yang lebih sesuai. Strategi setelah jurnal ditolak akan lebih efektif apabila keputusan memilih jurnal didasarkan pada bukti, bukan sekadar perkiraan.
Penulis juga perlu memperhatikan jenis artikel yang diterima oleh jurnal tujuan. Sebagian jurnal memprioritaskan artikel penelitian empiris, sedangkan jurnal lain menerima tinjauan sistematis, artikel konseptual, laporan kasus, atau jenis tulisan ilmiah tertentu. Pastikan format penelitian yang disusun sesuai dengan kategori naskah yang tersedia. Apabila jurnal menetapkan persyaratan khusus mengenai struktur, panjang artikel, abstrak, atau penyajian data, persyaratan tersebut harus diperiksa sebelum proses pengiriman dilakukan.
Pertimbangan berikutnya adalah kualitas pengelolaan jurnal dan transparansi proses publikasinya. Penulis sebaiknya memeriksa identitas penerbit, dewan editor, proses peer review, kebijakan etika, serta informasi biaya publikasi jika ada. Apabila jurnal mencantumkan indeksasi seperti SINTA atau Scopus, status tersebut perlu diverifikasi melalui sumber resmi yang relevan. Jangan hanya mengandalkan klaim pada pesan promosi atau situs pihak ketiga. Pemeriksaan ini membantu penulis menghindari jurnal yang tidak transparan atau menjanjikan penerimaan artikel tanpa evaluasi ilmiah yang memadai.
Untuk mempermudah pengambilan keputusan, buatlah daftar beberapa jurnal kandidat dan bandingkan karakteristiknya. Prioritaskan jurnal yang memiliki kesesuaian topik tinggi, persyaratan yang dapat dipenuhi, dan pembaca yang relevan dengan hasil penelitian. Perhatikan pula kebijakan eksklusivitas submission karena banyak jurnal tidak mengizinkan manuskrip yang sama dikirim secara bersamaan ke penerbit lain. Setelah satu jurnal memberikan keputusan penolakan definitif, barulah penulis dapat mempersiapkan pengiriman ke jurnal berikutnya sesuai kebijakan yang berlaku.
Beberapa hal yang dapat dijadikan dasar dalam memilih jurnal tujuan meliputi:
- Kesesuaian ruang lingkup: topik penelitian berhubungan langsung dengan bidang kajian yang diterbitkan jurnal.
- Relevansi artikel terdahulu: artikel yang sudah terbit menunjukkan bahwa jurnal menerima penelitian dengan karakteristik yang sebanding.
- Persyaratan manuskrip: panjang artikel, struktur, gaya sitasi, dan jenis naskah sesuai dengan ketentuan jurnal.
- Kredibilitas penerbit: identitas penerbit, editor, dan kebijakan penilaian dapat diperiksa secara transparan.
- Biaya publikasi: ketentuan mengenai submission fee, publication fee, atau biaya tambahan dipahami sebelum mengirim naskah.
- Waktu dan proses evaluasi: informasi proses editorial diperiksa tanpa menganggap estimasi waktu sebagai jaminan keputusan.
Setelah menentukan jurnal tujuan, sesuaikan manuskrip dengan pedoman penulis yang berlaku. Penyesuaian dapat mencakup format abstrak, susunan bagian, gaya referensi, jumlah kata, serta cara menyajikan tabel dan gambar. Penulis juga perlu memastikan bahwa penekanan kontribusi penelitian sesuai dengan karakteristik pembaca jurnal tersebut. Penyesuaian ini bukan berarti mengubah hasil agar terlihat cocok, melainkan menyajikan penelitian secara lebih relevan dan mudah dipahami. Dengan demikian, naskah yang sebelumnya ditolak dapat dipersiapkan kembali berdasarkan standar jurnal yang baru.
Mempersiapkan Manuskrip dan Dokumen sebelum Submit Kembali
Sebelum melakukan submission berikutnya, penulis perlu memastikan bahwa revisi substantif telah selesai dan seluruh dokumen pendukung tersedia. Naskah yang sudah diperbaiki dari sisi isi masih dapat mengalami kendala apabila formatnya tidak mengikuti ketentuan jurnal. Karena itu, pemeriksaan akhir sebaiknya dilakukan dengan menggunakan pedoman penulis jurnal tujuan sebagai acuan utama. Hindari hanya mengandalkan format dari jurnal sebelumnya karena setiap penerbit dapat memiliki persyaratan yang berbeda.
Abstrak merupakan salah satu bagian yang perlu diperiksa kembali setelah revisi manuskrip selesai. Pastikan abstrak menggambarkan tujuan, metode, temuan utama, dan kontribusi penelitian secara akurat. Apabila penulis mengubah analisis atau memperjelas hasil, informasi dalam abstrak harus disesuaikan agar tidak bertentangan dengan isi artikel. Kata kunci juga perlu dipilih secara relevan dengan topik dan istilah yang lazim digunakan dalam bidang penelitian. Penggunaan kata kunci yang tepat membantu menggambarkan fokus artikel kepada editor dan pembaca.
Surat pengantar atau cover letter juga perlu disiapkan secara khusus untuk jurnal tujuan. Surat ini sebaiknya menjelaskan judul artikel, alasan naskah relevan dengan ruang lingkup jurnal, serta kontribusi utama penelitian. Penulis dapat menyampaikan bahwa manuskrip telah melalui evaluasi dan perbaikan, tetapi tidak perlu menceritakan seluruh proses penolakan dari jurnal sebelumnya apabila informasi tersebut tidak diminta. Pernyataan dalam cover letter harus jujur dan tidak boleh melebih-lebihkan kebaruan atau dampak penelitian. Pastikan pula semua pernyataan yang diwajibkan jurnal, termasuk orisinalitas dan tidak adanya submission ganda, telah dipenuhi.
Dokumen lain juga perlu disesuaikan dengan ketentuan jurnal. Bergantung pada bidang penelitian dan kebijakan penerbit, dokumen tersebut dapat mencakup pernyataan konflik kepentingan, informasi pendanaan, persetujuan etik, pernyataan kontribusi penulis, ketersediaan data, atau dokumen tambahan lainnya. Jika jurnal menerapkan sistem double-blind review, identitas penulis mungkin perlu dihapus dari berkas manuskrip utama dan ditempatkan dalam dokumen terpisah. Ketentuan tersebut harus diperiksa dengan teliti agar informasi identitas tidak tertinggal pada bagian yang seharusnya anonim.
Pemeriksaan akhir dapat dilakukan menggunakan daftar berikut agar proses pengiriman lebih terstruktur.
- Naskah utama: seluruh revisi penting telah diterapkan dan tidak ada komentar penyuntingan yang tertinggal.
- Judul dan abstrak: konsisten dengan tujuan, metode, hasil, dan kesimpulan penelitian.
- Referensi: seluruh kutipan memiliki pasangan dalam daftar pustaka dan mengikuti gaya sitasi jurnal.
- Tabel dan gambar: memiliki nomor, judul, keterangan, serta kualitas berkas sesuai ketentuan.
- Cover letter: ditujukan kepada jurnal yang benar dan menjelaskan relevansi artikel secara ringkas.
- Dokumen tambahan: seluruh formulir dan pernyataan yang diwajibkan telah dilengkapi.
- Informasi penulis: nama, afiliasi, surel, urutan penulis, dan kontribusi ditulis secara konsisten.
- Pemeriksaan etika: persetujuan, izin penggunaan data, dan pernyataan terkait penelitian telah dipenuhi jika diperlukan.
Setelah semua dokumen diperiksa, lakukan pembacaan akhir dengan jeda waktu apabila memungkinkan. Membaca ulang setelah beristirahat dapat membantu menemukan kalimat yang ambigu, kesalahan pengetikan, atau ketidakkonsistenan yang sebelumnya terlewat. Penulis juga dapat meminta rekan yang memahami bidang penelitian untuk memberikan masukan terhadap kejelasan argumentasi. Pemeriksaan oleh pembaca lain bukan jaminan artikel akan diterima, tetapi dapat membantu mengidentifikasi persoalan sebelum manuskrip kembali dinilai. Tahap ini membuat strategi setelah jurnal ditolak lebih lengkap karena perbaikan tidak berhenti pada isi, tetapi juga mencakup kesiapan administrasi dan penyajian naskah.
Kesalahan yang Perlu Dihindari setelah Artikel Jurnal Ditolak
Kesalahan yang cukup sering terjadi setelah penolakan adalah mengirimkan manuskrip yang sama ke jurnal lain tanpa melakukan evaluasi. Penulis mungkin merasa bahwa penolakan sebelumnya hanya berkaitan dengan preferensi editor, padahal keputusan tersebut dapat menunjukkan persoalan pada kontribusi, metodologi, atau penyajian hasil. Mengabaikan masukan yang relevan membuat kelemahan yang sama berpotensi muncul kembali. Oleh karena itu, setiap penolakan sebaiknya diikuti proses evaluasi yang proporsional sebelum naskah dikirimkan kembali.
Kesalahan lainnya adalah memilih jurnal hanya berdasarkan perkiraan peluang diterima atau kecepatan penerbitan. Keputusan semacam ini dapat membuat penulis mengabaikan ruang lingkup, kualitas pengelolaan, dan transparansi kebijakan jurnal. Penulis juga perlu menghindari perubahan yang tidak didukung data hanya demi menyesuaikan naskah dengan preferensi yang diperkirakan dimiliki editor. Perbaikan harus tetap menjaga integritas penelitian, termasuk ketepatan hasil, pengakuan terhadap keterbatasan, dan kejujuran dalam menyampaikan kontribusi. Apabila terdapat kritik yang tidak dapat diterapkan, penulis perlu memahami alasannya dan mempertimbangkan pilihan yang paling tepat secara ilmiah.
Selain itu, penulis sebaiknya tidak menganggap penolakan sebagai penilaian mutlak terhadap kemampuan akademiknya. Proses editorial dipengaruhi oleh kesesuaian topik, prioritas jurnal, ruang yang tersedia, serta pertimbangan ilmiah lainnya. Sikap defensif terhadap komentar reviewer dapat menghambat proses perbaikan, sedangkan menerima seluruh saran tanpa evaluasi juga berisiko mengubah arah penelitian secara tidak tepat. Pendekatan yang lebih produktif adalah memisahkan respons emosional dari evaluasi akademik, menentukan perubahan berdasarkan bukti, dan menggunakan pengalaman tersebut untuk meningkatkan kualitas submission berikutnya.
Baca juga:Setelah Artikel Jurnal Ditolak, Apa yang Perlu Dilakukan Sebelum Submit Kembali
Kesimpulan
Strategi setelah jurnal ditolak perlu dimulai dengan memahami alasan keputusan editorial, mengevaluasi kualitas manuskrip, dan menentukan bagian yang memerlukan perbaikan. Penulis sebaiknya membedakan persoalan kesesuaian ruang lingkup dari kelemahan metodologi atau penyajian agar langkah yang diambil benar-benar menjawab masalah. Komentar editor dan reviewer dapat menjadi sumber evaluasi yang berharga, tetapi setiap masukan tetap perlu dipertimbangkan berdasarkan tujuan, desain, dan bukti penelitian.
Setelah revisi dilakukan, pemilihan jurnal berikutnya harus mempertimbangkan ruang lingkup, karakteristik artikel, kredibilitas penerbit, dan ketentuan submission. Penulis juga perlu menyiapkan ulang abstrak, cover letter, referensi, serta dokumen pendukung sesuai pedoman jurnal tujuan. Pemeriksaan menyeluruh sebelum pengiriman dapat mengurangi kesalahan administratif sekaligus membantu menyajikan kontribusi penelitian dengan lebih jelas. Proses ini membutuhkan ketelitian dan perencanaan, bukan sekadar memindahkan manuskrip dari satu jurnal ke jurnal lainnya.
Pada akhirnya, penolakan dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat naskah apabila ditanggapi secara objektif. Tidak ada strategi yang menjamin artikel pasti diterima, tetapi evaluasi yang terarah dapat meningkatkan kesiapan manuskrip untuk menghadapi penilaian berikutnya. Dengan menjaga integritas ilmiah, memperbaiki kelemahan yang relevan, dan memilih jurnal yang sesuai, penulis dapat menjalankan proses publikasi secara lebih terukur. Langkah tersebut menjadikan submission berikutnya bukan sekadar pengulangan, melainkan tahap baru yang didukung oleh naskah yang lebih matang dan argumentasi akademik yang lebih kuat.
Ketahui lebih banyak informasi terbaru dan terlengkap mengenai skripsi dengan mengikuti terus artikel dari Publish Jurnal. Dapatkan juga bimbingan eksklusif untuk skripsi dan tugas akhir bagi Anda yang sedang menghadapi masalah dalam penyusunan skripsi dengan menghubungi Admin Publish Jurnal sekarang juga! Konsultasikan kesulitan Anda dan raih kelulusan studi lebih cepat.



