Dalam era digital saat ini, di mana informasi dapat dengan mudah diakses dan dibagikan di seluruh dunia, sistem identifikasi unik dan permanen menjadi sangat penting. Dalam dunia penerbitan ilmiah, dua sistem identifikasi yang umum digunakan adalah ISSN (International Standard Serial Number) dan DOI (Digital Object Identifier). Meskipun keduanya memiliki tujuan serupa, yaitu memberikan identifikasi yang unik pada publikasi, terdapat pula perbedaan ISSN dan DOI dalam cara kerja dan penggunaannya. Artikel ini akan menjelaskan lebih dekat perbedaan ISSN dan DOI.
Mengenal ISSN (International Standard Serial Number)

ISSN, singkatan dari International Standard Serial Number atau dalam Bahasa Indonesia dikenal sebagai Nomor Seri Standar Internasional, adalah sistem identifikasi yang digunakan untuk memberikan nomor unik pada terbitan berkala. Terbitan berkala ini mencakup majalah, surat kabar, jurnal ilmiah, bulletin, dan jenis publikasi reguler lainnya yang diterbitkan secara berkala. Tujuannya adalah untuk mempermudah pengelolaan dan penelusuran koleksi terbitan berkala di perpustakaan dan sistem basis data.
Setiap terbitan berkala diberikan nomor ISSN yang terdiri dari 8 angka. Nomor ini berfungsi sebagai kode identifikasi unik untuk terbitan tersebut. Penggunaan ISSN membantu dalam menghindari kebingungan antara terbitan berkala dengan judul atau tema yang serupa. Sebagai contoh, dua majalah dengan judul yang mirip dapat dibedakan dengan nomor ISSN yang berbeda.
ISSN digunakan oleh perpustakaan, penerbit, dan peneliti untuk merujuk, mencari, dan mengelola terbitan berkala. Dalam dunia digital, ISSN tetap relevan dalam mengorganisir dan mengidentifikasi berbagai sumber informasi yang diterbitkan secara berkala.
Mengenal DOI (Digital Object Identifier)

DOI, atau Digital Object Identifier, adalah sistem identifikasi yang digunakan untuk memberikan pengenal unik pada berbagai jenis objek digital. Ini termasuk artikel jurnal, makalah konferensi, dataset, video, gambar, dan konten digital lainnya. DOI diciptakan untuk memfasilitasi penelusuran, referensi, dan akses yang lebih mudah terhadap objek digital dalam lingkungan yang semakin terhubung secara digital.
DOI terdiri dari sebuah string karakter yang terbagi menjadi dua bagian: prefix dan suffix, yang dipisahkan oleh tanda “/” (slash). Bagian prefix mengidentifikasi pemberi izin, sementara bagian suffix memberikan identifikasi unik pada objek digital tersebut. Keberadaan DOI memungkinkan tautan permanen antara sumber daya digital dan pengguna, bahkan jika alamat URL berubah.
Dalam dunia penelitian dan penerbitan, DOI menjadi kunci dalam proses merujuk dan mengutip objek digital. Para peneliti dapat dengan mudah merujuk sumber daya digital dengan mengutip DOI yang terkait. Sistem DOI telah distandardisasi sebagai ISO 26324 dan dijalankan oleh organisasi seperti Crossref, memastikan pengelolaan dan akses objek digital yang andal dan terstandarisasi.
Perbedaan ISSN dan DOI
ISSN (International Standard Serial Number) dan DOI (Digital Object Identifier) adalah dua sistem identifikasi yang digunakan dalam lingkungan penerbitan dan penelitian. Meskipun keduanya memiliki tujuan untuk memberikan identifikasi unik pada suatu objek, terdapat perbedaan ISSN dan DOI dalam hal fokus, cakupan, dan penggunaan.
Fokus dan Cakupan:
- ISSN: Fokus utama ISSN adalah pada terbitan berkala seperti majalah, surat kabar, jurnal ilmiah, bulletin, dan publikasi berkala lainnya. Nomor ISSN memberikan identifikasi khusus untuk setiap terbitan, memudahkan pengelolaan dan penelusuran koleksi terbitan berkala di perpustakaan dan basis data.
- Sementara itu, DOI memiliki cakupan yang lebih luas, mencakup berbagai jenis objek digital seperti artikel jurnal, makalah konferensi, dataset, buku elektronik, dan konten digital lainnya. Tujuan DOI adalah untuk memberikan alamat unik dan permanen pada objek digital, memfasilitasi penelusuran, referensi, dan akses yang efisien terhadap objek tersebut.
Format Identifikasi:
- ISSN: Nomor ISSN terdiri dari 8 angka yang membentuk kode identifikasi unik untuk setiap terbitan berkala. Angka ini membantu membedakan terbitan dengan judul yang mirip.
- Disisi lain, DOI terdiri dari dua bagian yang dipisahkan oleh tanda “/”. Bagian pertama adalah prefix yang mengidentifikasi penerbit atau lembaga yang bertanggung jawab atas objek digital, sedangkan bagian kedua adalah suffix yang memberikan identifikasi unik pada objek tersebut.
Penggunaan:
- ISSN digunakan terutama dalam pengelolaan dan penelusuran terbitan berkala di perpustakaan, memudahkan pustakawan dan peneliti dalam merujuk dan mengakses koleksi terbitan.
- Sedangkan DOI memiliki peran kunci dalam penelitian ilmiah dan penerbitan digital. Peneliti menggunakan DOI untuk merujuk dan mengakses artikel jurnal, makalah konferensi, dataset, dan konten digital lainnya. DOI memastikan tautan permanen dan stabil ke objek digital, bahkan jika alamat URL berubah.
Penerbitan:
- ISSN diberikan oleh ISDS (International Serial Data System) melalui pusat regional seperti PDII LIPI di Indonesia.
- DOI diberikan oleh organisasi registrasi seperti Crossref.
ISSN dan DOI memiliki peran masing-masing dalam menyediakan identifikasi unik pada berbagai jenis publikasi dan objek digital. ISSN lebih terfokus pada terbitan berkala, sementara DOI memiliki cakupan yang lebih luas untuk semua jenis objek digital. Dalam era informasi global saat ini, keduanya memiliki peran yang krusial dalam memfasilitasi penelusuran, referensi, dan akses ke berbagai sumber daya ilmiah dan publikasi. Dengan memahami perbedaan ISSN dan DOI anda dapat mengenal lebih dalam mengenai keduanya dalam publikasi ilmiah.
Dengan tim profesional Publish Jurnal yang berpengalaman, kami akan memastikan penelitian Anda dipublikasikan di jurnal-jurnal ternama dan terindeks dengan reputasi yang tinggi. Dengan mengikuti pelatihan dan pendampingan jurnal ilmiah dari Publish Jurnal, publikasi di jurnal bereputasi kini bukan hanya mimpi. Hubungi Admin Publish Jurnal sekarang dan wujudkan segera impian Anda dalam dunia ilmiah.


