Dalam penulisan karya ilmiah, kutipan merupakan hal yang umum keberadaannya sekaligus penting sifatnya. Mengapa? Karena dengan adanya kutipan dalam karya ilmiah akan memperkuat argumen, memberikan dukungan dan otoritas sehingga pembaca akan lebih yakin dengan keabsahan data yang Anda jabarkan. Namun, selain menjadi tiang kokoh yang menopang integritas artikel, kutipan bisa juga menjadi bumerang yang merusak reputasi Anda jika salah dalam cara mengutipnya.
Untuk menghindari hal ini, Publish Jurnal akan menjelaskan beberapa kesalahan dalam penulisan kutipan yang harus Anda hindari sebagai peneliti serta memberikan panduan penulisan kutipan sesuai dengan kaidah pengutipan yang ada agar kutipan dalam karya ilmiah yang Anda tulis tidak menyalahi aturan penulisan yang berlaku. Hal ini akan meningkatkan kualitas tulisan Anda sebelum akhirnya di submit ke jurnal tujuan serta memastikan bahwa kutipan yang Anda gunakan benar-benar memberikan kontribusi yang berarti.
Kesalahan dalam Penulisan Kutipan
Para peneliti tidak semuanya benar saat menuliskan kutipan dalam karya ilmiah. Berikut adalah beberapa kesalahan penulisan kutipan yang menyalahi kaidah pengutipan yang sesuai dengan standar karya ilmiah:
1. Kutipan Tanpa Sumber yang Jelas
Salah satu kesalahan paling umum dalam penulisan kutipan adalah menggunakannya tanpa mencantumkan sumber yang jelas. Ini merusak kredibilitas Anda sebagai penulis dan membuat pembaca meragukan keabsahan data yang digunakan untuk mendukung penelitian. Oleh karena itu, pastikan untuk selalu mencantumkan sumber kutipan Anda. Gunakan nama penulis, judul buku atau artikel, dan tanggal publikasi jika memungkinkan. Hal ini akan membantu pembaca Anda melacak asal usul informasi tersebut.
Selain itu, usahakan untuk mencari sumber di situs-situs terpercaya seperti Google Scholar, Google Buku, atau situs penyedia jurnal ilmiah terpercaya seperti SINTA dan Scopus yang selalu menyediakan publikasi ilmiah terbaru. Pastikan juga untuk tidak mengambil sumber dengan usia terbitan terlalu lama, untuk menjaga kebaruan Anda bisa menggunakan jurnal dengan maksimal masa terbitan lima tahun ke belakang.
2. Kutipan yang Tidak Relevan
Kesulitan dalam mencari sumber referensi sering kali menjadi alasan seorang peneliti, terutama peneliti pemula untuk mengambil data tanpa menimbang relevansinya dengan topik yang diangkat. Padahal, kutipan berperan untuk mendukung argumen yang disampaikan oleh peneliti, jika dari sumber kutipan yang diberikan saja sudah tidak relevan makan akan sulit untuk menganggap benar argumen tersebut. Maka ada baiknya sebelum mengutip, pertimbangkan apakah kutipan tersebut benar-benar relevan dan menambah nilai pada tulisan Anda. Jika tidak, maka sebaiknya jangan digunakan.
3. Kutipan yang Dikutip dari Sumber Sekunder
Ini adalah kesalahan yang umum terjadi ketika seseorang mengutip sumber dari sumber lain, tanpa mengakui sumber asli. Ini dapat mengaburkan jejak informasi dan menyulitkan pembaca untuk melacak sumber yang sebenarnya. Sebisa mungkin, cari sumber asli dan kutip dari sana. Jika tidak memungkinkan, pastikan Anda mencantumkan sumber sekunder dengan jelas.
4. Mengabaikan Format Kutipan yang Benar
Dalam penulisan karya ilmiah sudah ada aturan baku yang harus dipatuhi, termasuk dalam hal mengutip perlu menggunakan format yang benar. Gaya penulisan kutipan sendiri pun beragam dan biasanya setiap jurnal memiliki ketetapannya sendiri sehingga setiap peneliti yang ingin mengajukan manuskrip wajib mengikuti aturan tersebut.
Umumnya, jenis format penulisan yang sering digunakan dalam penulisan ilmiah adalah APA, MLA, atau Chicago dan masing-masing jenisnya memiliki aturan penulisan yang berbeda juga. Jadi, untuk menghindari kesalahan dalam penulisan kutipan Anda perlu memahami terlebih dulu aturan penulisan kutipan yang digunakan oleh jurnal tujuan.
5. Mengabaikan Tanda Kutip yang Benar
Tanda kutip digunakan untuk menandai teks yang diambil langsung dari sumber asli. Kesalahan umum adalah menggunakan tanda kutip yang salah, seperti tanda kutip tunggal (‘) jika Anda menggunakan tanda kutip ganda (“) dalam bahasa Inggris. Jadi, pastikan Anda menggunakan tanda kutip yang sesuai dengan aturan tata bahasa yang berlaku dalam bahasa yang Anda gunakan.
6. Penyisipan Kutipan yang Terlalu Panjang
Kutipan yang terlalu panjang dapat membuat tulisan Anda terlihat berantakan dan membingungkan pembaca. Hindari menyisipkan kutipan panjang tanpa memberikan konteks yang cukup. Sebelum mengutip, ringkas atau kutip hanya bagian yang paling relevan. Jangan lupa untuk mencantumkan tanda elipsis (…) jika Anda memotong bagian dari kutipan asli.
7. Tidak Memasukkan Analisis atau Komentar Pribadi
Kutipan seharusnya digunakan sebagai dukungan bagi argumen Anda, bukan sebagai pengganti analisis atau komentar pribadi Anda. Setelah memasukkan kutipan, pastikan Anda memberikan penjelasan atau analisis yang menghubungkan kutipan dengan topik yang sedang Anda bahas. Ini membantu pembaca Anda memahami bahwa kutipan yang Anda gunakan relevan dengan argumen yang diberikan.
Panduan Menulis Kutipan yang Baik dan Benar
Umumnya kutipan terbagi dalam 2 jenis yaitu kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Banyak. Keduanya memiliki format penulisan yang berbeda jika diterapkan sehingga Anda sebagai penulis harus benar-benar memahami cara penulisan keduanya agar karya ilmiah yang ditulis lebih diakui integritas dan kredibelitasnya. Berikut adalah panduan menulis kutipan yang baik dan benar.
Kutipan Langsung
Kutipan langsung adalah ketika Anda menggunakan kata-kata atau frasa yang persis sama seperti yang ada dalam sumber asli. Kutipan langsung umumnya diapit oleh tanda kutip (” “) dan mencakup semua kata-kata dan tanda baca yang ada dalam teks asli tanpa adanya pengubahan. Berikut ini adalah contoh penulisan kutipan langsung yang benar:
Kekaguman akan sosok Pertiwi oleh masyarakat Desa Bangau juga dijelaskan oleh Kunti (2023), yaitu “Pertiwi bukan hanya menjadi seorang ibu yang yang melahirkan sepuluh anak, tapi lebih dari itu ia adalah sosok wanita dengan pikiran cerdas dan mulia yang dikagumi oleh masyarakat sebagai guru yang memberikan mereka pencerahan dari merosotnya pendidikan yang ada.”
Kutipan Tidak Langsung
Kutipan tidak langsung adalah ketika Anda menyampaikan ide atau informasi dari sumber asli dengan menggunakan kata-kata Anda sendiri. Ini juga dikenal sebagai parafrase. Anda tidak menggunakan tanda kutip dalam kutipan tidak langsung. Berikut ini adalah contoh kutipan tidak langsung:
Menurut Oktavia (2018). menjadi seorang pelukis adalah suatu keindahan yang bisa dinikmati banyak orang tanpa memikirkan baik tidaknya hasil yang didapatkan.
Dari contoh kutipan di atas, Oktavia merujuk pada nama belakang peneliti yang sumbernya dikutip. Sementara (2018) adalah tahun diterbitkannya sumber tersebut. Kemudian, Anda bisa mulai menjabarkan sumber rujukan menggunakan bahasa Anda sendiri sesuai dengan pemahaman.
Penutup
Kutipan adalah alat yang kuat dalam penulisan, tetapi mereka harus digunakan dengan bijak dan benar. Kesalahan dalam penulisan kutipan dapat merusak kredibilitas tulisan Anda dan membuat pembaca meragukan informasi yang Anda sampaikan. Dengan menghindari kesalahan-kesalahan ini dan mengikuti panduan yang telah disebutkan, Anda dapat menulis kutipan yang baik dan benar yang memberikan dukungan yang kuat pada argumen Anda. Selain itu, kutipan yang tepat akan meningkatkan integritas dan kekuatan tulisan Anda, sehingga membuatnya lebih meyakinkan dan efektif. Ingatlah untuk selalu mengutip sumber dengan jelas, memastikan relevansi, dan memberikan analisis atau komentar pribadi yang menghubungkan kutipan dengan argumen Anda. Dengan cara ini, Anda dapat meningkatkan kualitas penulisan Anda dan menjadikannya lebih persuasif bagi pembaca Anda.
Kemudian, bagi Anda yang membutuhkan jasa pelatihan dan bimbingan jurnal ilmiah, Publish Jurnal menyediakan pelatihan mulai padi penyusunan topik hingga publikasi. Tertarik dengan jasa kami? Hubungi Admin Publish Jurnal sekarang!


