Accepted Manuscript: Status, Hak Penulis, dan Perbedaannya dengan Artikel Terbit

Dalam proses publikasi jurnal ilmiah, penulis akan melewati berbagai status naskah sebelum penelitian benar-benar tersedia sebagai artikel yang diterbitkan. Salah satu status yang sering menimbulkan kebingungan adalah accepted manuscript. Istilah ini biasanya muncul setelah proses peer review selesai dan editor menyatakan bahwa naskah dapat diterima untuk diterbitkan. Namun, accepted manuscript belum tentu sama dengan artikel yang sudah terbit secara resmi dalam versi final penerbit.

Memahami pengertian accepted manuscript menjadi penting karena status tersebut berkaitan dengan hak penulis, versi naskah yang boleh dibagikan, proses produksi artikel, hingga cara mencantumkan publikasi dalam daftar karya ilmiah. Banyak penulis menganggap surat acceptance sebagai tanda bahwa seluruh proses publikasi telah selesai. Padahal, setelah naskah diterima, masih dapat terdapat sejumlah tahap sebelum artikel menjadi versi final yang diterbitkan jurnal.

Accepted manuscript pada dasarnya merujuk pada versi naskah yang telah diterima oleh jurnal setelah mempertimbangkan hasil peer review dan revisi yang diminta editor atau reviewer. Versi ini umumnya sudah memuat substansi penelitian yang disetujui untuk diterbitkan, tetapi belum tentu memiliki format final seperti layout jurnal, nomor halaman, volume, issue, atau elemen desain penerbit.

Perbedaan antara accepted manuscript dan artikel terbit juga penting dalam konteks akses terbuka, repository, dan hak cipta. Penulis mungkin memiliki hak untuk menyimpan atau membagikan accepted manuscript, tetapi ketentuan tersebut sangat bergantung pada kebijakan penerbit. Karena itu, penulis tidak sebaiknya mengunggah naskah begitu saja tanpa memeriksa aturan jurnal.

Artikel ini membahas accepted manuscript secara menyeluruh, mulai dari pengertian dan statusnya, hak penulis setelah naskah diterima, perbedaan accepted manuscript dengan artikel terbit, hingga hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum membagikan atau mengarsipkan naskah. Pemahaman tersebut dapat membantu penulis menghindari kesalahan dalam proses publikasi ilmiah.

Pengertian Accepted Manuscript dalam Publikasi Jurnal

Accepted manuscript adalah versi naskah yang telah dinyatakan diterima untuk diterbitkan oleh jurnal setelah melewati proses editorial dan peer review. Dalam banyak sistem penerbitan, accepted manuscript sudah mencerminkan isi ilmiah yang telah disetujui editor. Revisi utama yang diminta reviewer biasanya telah diselesaikan sebelum keputusan acceptance diberikan.

Status accepted manuscript menunjukkan bahwa substansi artikel telah memenuhi persyaratan jurnal untuk diterbitkan. Namun, status tersebut tidak selalu berarti artikel sudah tersedia sebagai publikasi final. Setelah acceptance, penerbit biasanya masih melakukan berbagai pekerjaan produksi seperti copyediting, typesetting, proofreading, pemeriksaan metadata, dan persiapan versi online.

Penting untuk membedakan accepted manuscript dengan submitted manuscript. Submitted manuscript adalah naskah yang baru dikirimkan penulis kepada jurnal dan masih menunggu proses evaluasi. Accepted manuscript berada pada tahap yang jauh lebih lanjut karena keputusan editorial untuk menerima naskah sudah diberikan.

Accepted manuscript juga berbeda dari published article. Published article adalah versi artikel yang telah melewati proses produksi penerbit dan tersedia sebagai publikasi jurnal. Versi tersebut biasanya memiliki tampilan resmi jurnal serta metadata publikasi yang lebih lengkap.

Dalam praktiknya, istilah yang digunakan penerbit dapat berbeda. Ada yang menyebutnya accepted manuscript, accepted version, author accepted manuscript, post-print, atau istilah lain. Meskipun terdapat perbedaan terminologi, penulis perlu melihat definisi yang digunakan oleh penerbit tertentu agar tidak salah memahami hak dan status naskah.

Baca juga:Bimbingan Publikasi Jurnal SINTA dan Scopus dari Submit hingga Artikel Terbit

Tahapan yang Dilalui Naskah hingga Menjadi Artikel Terbit

Perjalanan naskah menuju publikasi final biasanya dimulai ketika penulis mengirimkan manuskrip kepada jurnal. Pada tahap awal, editor dapat melakukan pemeriksaan administratif dan editorial untuk memastikan naskah sesuai dengan scope, format, dan persyaratan jurnal. Naskah kemudian dapat dikirimkan kepada reviewer untuk mendapatkan penilaian ilmiah.

Setelah peer review, penulis mungkin diminta melakukan revisi. Revisi dapat berupa perbaikan metodologi, penjelasan hasil, penguatan pembahasan, penambahan referensi, perbaikan bahasa, atau penyesuaian format. Proses ini dapat berlangsung lebih dari satu putaran sebelum editor membuat keputusan akhir.

Jika editor menyatakan naskah diterima, naskah tersebut memasuki tahap accepted. Pada titik inilah accepted manuscript menjadi relevan. Naskah sudah mendapatkan keputusan penerimaan, tetapi penerbit masih perlu mempersiapkannya untuk menjadi artikel jurnal dalam format resmi.

Tahap berikutnya biasanya melibatkan proses produksi. Editor atau staf produksi dapat memeriksa kembali naskah, melakukan penyuntingan bahasa, menata tabel dan gambar, menerapkan template jurnal, serta menyiapkan metadata publikasi. Penulis dapat menerima proof untuk diperiksa sebelum artikel dipublikasikan.

Setelah proses produksi selesai, artikel dapat diterbitkan secara online. Dalam sistem tertentu, artikel dapat terlebih dahulu muncul sebagai online first atau early view sebelum dimasukkan ke dalam volume dan issue. Pada tahap ini, artikel dapat memiliki DOI dan metadata publikasi yang lebih lengkap.

Dengan demikian, acceptance merupakan salah satu tahap penting, tetapi bukan selalu tahap terakhir. Accepted manuscript berada di antara naskah yang telah diterima dan artikel jurnal versi final. Memahami posisi ini membantu penulis mengetahui apa yang sudah selesai dan apa yang masih mungkin terjadi.

Status Accepted Manuscript: Sudah Diterima, tetapi Belum Tentu Terbit Final

Status accepted manuscript menunjukkan bahwa naskah telah diterima oleh jurnal. Keputusan acceptance merupakan hasil dari proses editorial dan menunjukkan bahwa editor telah memutuskan artikel tersebut layak diterbitkan berdasarkan proses evaluasi yang dilakukan.

Meskipun demikian, accepted manuscript belum tentu mempunyai seluruh elemen bibliografis artikel terbit. Volume, nomor issue, halaman, article number, tanggal publikasi final, atau DOI mungkin belum tersedia. Beberapa jurnal dapat memberikan DOI lebih awal, tetapi hal tersebut bergantung pada sistem penerbit.

Status accepted juga tidak berarti isi artikel sama sekali tidak dapat berubah. Perubahan substansi besar biasanya sudah diselesaikan pada tahap revisi, tetapi proses copyediting dan proofreading masih dapat menghasilkan perubahan kecil dalam bahasa, format, struktur tabel, keterangan gambar, atau elemen teknis lainnya.

Penulis juga perlu memahami bahwa artikel yang accepted belum otomatis masuk ke semua database pengindeks. Status indeksasi bergantung pada proses masing-masing database dan kebijakan lembaga pengindeks. Karena itu, klaim bahwa artikel sudah terindeks hanya karena memperoleh acceptance perlu dihindari.

Dalam konteks akademik, accepted manuscript tetap memiliki nilai penting. Surat acceptance dapat menjadi bukti bahwa artikel telah diterima jurnal. Namun, ketika institusi mensyaratkan bukti artikel sudah terbit, penulis perlu memeriksa apakah accepted manuscript memenuhi ketentuan tersebut atau apakah harus menunggu publication online.

Perbedaan Accepted Manuscript dengan Published Article

Accepted manuscript dan published article sama-sama berasal dari penelitian yang telah melewati proses editorial, tetapi keduanya memiliki status yang berbeda. Accepted manuscript merupakan versi naskah yang telah diterima, sedangkan published article adalah versi yang telah diproses dan diterbitkan oleh penerbit.

Salah satu perbedaan paling mudah dilihat adalah tampilan dokumen. Accepted manuscript biasanya masih menggunakan format dokumen penulis, misalnya file Word atau PDF hasil ekspor dari naskah penulis. Published article biasanya sudah menggunakan layout resmi jurnal dengan header, footer, struktur halaman, informasi penerbit, dan elemen desain lainnya.

Perbedaan berikutnya adalah kelengkapan metadata. Published article umumnya telah mempunyai informasi publikasi yang lebih lengkap, seperti volume, issue, halaman atau article number, tanggal publikasi, dan DOI apabila jurnal menggunakan DOI. Accepted manuscript mungkin belum memiliki semua informasi tersebut.

Dari sisi hak penggunaan, published article juga dapat tunduk pada ketentuan hak cipta atau lisensi penerbit. Sementara itu, hak penulis atas accepted manuscript dapat berbeda bergantung pada perjanjian publikasi dan kebijakan jurnal.

Perbedaan tersebut membuat penulis perlu menyebut versi dokumen secara tepat. Jangan menyebut accepted manuscript sebagai “artikel terbit” jika artikel belum dipublikasikan. Sebaliknya, jika penerbit telah menerbitkan versi final secara online, gunakan informasi publikasi resmi yang diberikan jurnal.

Mengapa Status Accepted Manuscript Penting bagi Penulis?

Status accepted manuscript penting karena memberikan kepastian bahwa proses evaluasi utama telah menghasilkan keputusan penerimaan. Bagi penulis, acceptance dapat menjadi tahap yang sangat berarti setelah melewati proses peer review dan revisi.

Dalam beberapa konteks akademik, surat acceptance dapat digunakan sebagai dokumen pendukung untuk pelaporan kegiatan penelitian atau administrasi publikasi. Namun, penerimaan dan publikasi tetap merupakan dua hal yang perlu dibedakan.

Accepted manuscript juga dapat berperan dalam strategi berbagi hasil penelitian. Jika kebijakan penerbit mengizinkan, penulis mungkin dapat menyimpan versi tersebut di institutional repository atau platform yang sesuai. Akan tetapi, izin tersebut harus diperiksa terlebih dahulu.

Bagi peneliti yang membutuhkan bukti bahwa artikelnya sudah diterima, accepted manuscript dapat menjadi dokumen yang relevan. Namun, apabila yang dibutuhkan adalah bukti artikel telah terbit, halaman publikasi resmi atau versi final artikel biasanya lebih tepat.

Memahami status accepted manuscript membantu penulis berkomunikasi secara akurat. Penulis dapat mengatakan bahwa artikel “telah diterima untuk diterbitkan” ketika statusnya accepted, tanpa mengklaim bahwa artikel sudah terbit apabila memang belum tersedia secara resmi.

Hak Penulis terhadap Accepted Manuscript

Setelah naskah diterima, pertanyaan penting berikutnya adalah apakah penulis masih mempunyai hak atas accepted manuscript. Jawabannya tidak dapat disamaratakan karena bergantung pada perjanjian publikasi, kebijakan hak cipta, lisensi, dan kebijakan repository dari penerbit atau jurnal.

Dalam banyak sistem penerbitan, penulis tetap memiliki hak tertentu terhadap versi naskah yang mereka hasilkan. Namun, penyerahan hak kepada penerbit dapat memengaruhi cara naskah tersebut boleh digunakan, dibagikan, atau diarsipkan.

Penulis perlu membedakan antara hak cipta dan hak untuk berbagi. Seseorang dapat memiliki hak tertentu atas karya ilmiah tetapi tetap mempunyai batasan mengenai versi mana yang boleh diunggah secara publik. Oleh sebab itu, keberadaan file accepted manuscript tidak otomatis berarti file tersebut bebas disebarkan ke semua platform.

Salah satu kebijakan yang perlu diperiksa adalah self-archiving. Kebijakan ini mengatur apakah penulis boleh menyimpan atau mengunggah versi tertentu dari artikel pada repository institusi, repository disiplin ilmu, atau situs pribadi.

Ketentuan self-archiving dapat mencakup masa embargo, versi naskah yang boleh digunakan, lokasi penyimpanan, serta persyaratan pemberian atribusi. Karena kebijakan tersebut berbeda antar penerbit, penulis sebaiknya memeriksa ketentuan jurnal sebelum mengunggah accepted manuscript.

Hak Penulis yang Perlu Diperhatikan

Hak penulis setelah acceptance tidak hanya berkaitan dengan kepemilikan naskah. Ada sejumlah aspek yang perlu diperhatikan agar penggunaan accepted manuscript tetap sesuai dengan perjanjian publikasi.

Beberapa hal penting meliputi:

  • Hak untuk menyimpan salinan accepted manuscript.
  • Hak untuk mengarsipkan naskah di repository institusi jika diizinkan.
  • Hak untuk membagikan naskah kepada pihak tertentu sesuai kebijakan penerbit.
  • Ketentuan mengenai masa embargo sebelum naskah dapat tersedia secara terbuka.
  • Hak moral dan pencantuman nama penulis.
  • Ketentuan lisensi yang berlaku terhadap versi naskah tertentu.
  • Larangan atau pembatasan mengunggah versi final penerbit ke platform tertentu.
  • Kewajiban mencantumkan DOI atau tautan publikasi ketika membagikan naskah.
  • Ketentuan penggunaan kembali tabel, gambar, atau materi tertentu.

Penulis sebaiknya tidak hanya membaca surat acceptance. Dokumen seperti publishing agreement, copyright transfer agreement, license agreement, dan kebijakan open access dapat memberikan informasi yang lebih spesifik mengenai hak penulis.

Jika jurnal menggunakan lisensi tertentu, perhatikan versi artikel yang dicakup oleh lisensi tersebut. Accepted manuscript dan version of record dapat mempunyai ketentuan yang berbeda. Hal ini sangat penting terutama ketika penulis ingin menyimpan artikel di repository atau membagikannya secara terbuka.

Accepted Manuscript dan Repository Institusi

Repository institusi merupakan salah satu tempat yang sering digunakan untuk menyimpan hasil penelitian. Jika penerbit mengizinkan self-archiving, accepted manuscript dapat menjadi versi yang disimpan karena telah mencerminkan naskah yang diterima setelah proses peer review.

Namun, penulis perlu memperhatikan apakah jurnal menetapkan embargo. Embargo adalah periode tertentu ketika versi naskah tidak boleh tersedia secara terbuka meskipun penulis diperbolehkan mengarsipkannya. Setelah periode tersebut berakhir, repository dapat membuka akses sesuai kebijakan penerbit.

Selain embargo, penerbit dapat menentukan format file yang diperbolehkan. Ada penerbit yang mengizinkan accepted manuscript dalam bentuk PDF, tetapi ada pula yang mempunyai ketentuan tertentu mengenai identitas versi dan pemberian tautan ke versi resmi.

Repository juga dapat meminta informasi bibliografis artikel. Penulis sebaiknya mengisi metadata secara akurat, termasuk judul, nama penulis, jurnal, tanggal publikasi, DOI jika sudah tersedia, dan status versi dokumen.

Dengan pengelolaan yang tepat, repository dapat membantu meningkatkan akses terhadap hasil penelitian tanpa mengabaikan ketentuan hak cipta. Kuncinya adalah menggunakan versi yang diperbolehkan dan mengikuti kebijakan penerbit.

Kesimpulan Sementara

Accepted manuscript merupakan tahap penting dalam perjalanan publikasi ilmiah. Status tersebut menunjukkan bahwa naskah telah diterima jurnal setelah melalui proses editorial dan peer review, tetapi belum tentu berarti artikel sudah tersedia dalam versi final penerbit.

Penulis tetap perlu memperhatikan hak penggunaan terhadap accepted manuscript. Kebijakan mengenai self-archiving, embargo, repository, dan distribusi naskah dapat berbeda antara satu penerbit dengan penerbit lainnya. Karena itu, perjanjian publikasi dan kebijakan jurnal perlu diperiksa sebelum naskah dibagikan.

Pemahaman mengenai accepted manuscript juga membantu penulis membedakannya dari published article. Perbedaan status tersebut berpengaruh terhadap cara menyebut publikasi, mengelola dokumen, serta menggunakan artikel untuk kebutuhan akademik. Pada bagian berikutnya, pembahasan akan dilanjutkan dengan perbedaan versi naskah secara lebih rinci dan langkah aman bagi penulis dalam menggunakan accepted manuscript.

Accepted Manuscript, Version of Record, dan Published Article

Dalam proses publikasi ilmiah, penulis akan berhadapan dengan beberapa versi artikel yang memiliki status berbeda. Accepted manuscript merupakan salah satu versi yang paling sering membingungkan karena isinya sudah melewati proses peer review dan telah diterima editor, tetapi belum tentu memiliki tampilan serta metadata seperti artikel final. Memahami perbedaan setiap versi membantu penulis menentukan dokumen mana yang dapat digunakan untuk kebutuhan akademik tertentu.

Accepted manuscript umumnya merupakan versi terakhir yang disiapkan penulis setelah seluruh revisi yang diminta reviewer diselesaikan dan editor memberikan keputusan acceptance. Isinya dapat dikatakan sudah mendekati artikel yang akan diterbitkan, tetapi masih belum melalui seluruh proses produksi penerbit. Oleh karena itu, tampilan dokumennya dapat berbeda cukup jauh dari artikel yang muncul di laman resmi jurnal.

Sementara itu, version of record merupakan versi artikel yang secara resmi diterbitkan dan dikelola oleh penerbit. Versi ini telah melalui proses produksi, penyuntingan, typesetting, proofreading, dan pemberian metadata publikasi sesuai sistem jurnal. Jika terdapat DOI, DOI tersebut biasanya mengarah ke version of record yang tersedia pada platform penerbit.

Published article pada praktiknya sering digunakan untuk menyebut artikel yang telah tersedia sebagai publikasi resmi. Dalam banyak konteks, published article merujuk kepada version of record, meskipun terminologi dapat berbeda antara satu penerbit dan penerbit lainnya. Karena itu, penulis sebaiknya membaca definisi versi artikel yang digunakan oleh jurnal.

Perbedaan tersebut penting ketika penulis ingin mengunggah artikel ke repository, membagikannya kepada kolega, mencantumkannya dalam profil akademik, atau menggunakannya sebagai bukti publikasi. Dokumen yang tepat harus disesuaikan dengan kebijakan penerbit dan kebutuhan penggunaannya.

Perbedaan Utama Accepted Manuscript dan Artikel Terbit

Perbedaan antara accepted manuscript dan artikel terbit tidak hanya terletak pada desain halaman. Keduanya memiliki status publikasi, metadata, serta fungsi yang berbeda dalam sistem komunikasi ilmiah. Penulis perlu memahami perbedaan tersebut agar tidak salah menggunakan versi artikel.

Beberapa perbedaan penting dapat dilihat dari beberapa aspek berikut:

  • Status publikasi: accepted manuscript menunjukkan naskah telah diterima, sedangkan artikel terbit menunjukkan karya telah dipublikasikan secara resmi.
  • Format: accepted manuscript biasanya masih menggunakan format naskah penulis, sedangkan artikel terbit menggunakan layout resmi jurnal.
  • Metadata: artikel terbit biasanya memiliki informasi bibliografis lebih lengkap, seperti volume, issue, halaman, atau article number.
  • DOI: accepted manuscript belum tentu mempunyai DOI sendiri, sementara artikel terbit umumnya memiliki DOI jika jurnal menggunakan sistem DOI.
  • Penyuntingan: accepted manuscript telah melewati revisi ilmiah, tetapi dapat belum melalui copyediting dan typesetting penerbit.
  • Hak penggunaan: ketentuan penggunaan dapat berbeda antara accepted manuscript dan versi final penerbit.
  • Sitasi: artikel terbit dapat menggunakan metadata bibliografis final, sedangkan accepted manuscript harus dikutip sesuai status dan informasi yang tersedia.
  • Tautan resmi: published article biasanya memiliki halaman resmi penerbit yang menjadi sumber utama untuk akses dan sitasi.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa accepted manuscript bukan sekadar “artikel terbit dalam bentuk lain”. Statusnya tetap berbeda meskipun substansi ilmiahnya mungkin sudah sangat dekat dengan versi final.

Apakah Accepted Manuscript Boleh Dibagikan kepada Orang Lain?

Pertanyaan mengenai boleh atau tidaknya membagikan accepted manuscript harus dijawab berdasarkan kebijakan penerbit. Tidak ada satu aturan yang berlaku untuk semua jurnal. Sebagian penerbit memberikan izin tertentu untuk membagikan accepted manuscript, sementara penerbit lain menerapkan batasan yang lebih ketat.

Penulis perlu memeriksa publishing agreement atau copyright agreement yang ditandatangani ketika artikel diterima. Dokumen tersebut biasanya menjelaskan hak yang diberikan kepada penerbit serta hak yang tetap dimiliki penulis. Kebijakan open access dan self-archiving juga dapat memberikan informasi tambahan.

Jika accepted manuscript boleh dibagikan, perhatikan batasan yang berlaku. Misalnya, penulis mungkin diperbolehkan menyimpan file tersebut di repository institusi, tetapi tidak diperbolehkan mengunggahnya ke situs komersial tertentu. Ada pula penerbit yang memperbolehkan berbagi secara pribadi tetapi menetapkan embargo untuk akses publik.

Penulis juga perlu mempertahankan identitas artikel ketika membagikan accepted manuscript. Informasi seperti nama jurnal, judul artikel, nama penulis, dan DOI jika sudah tersedia sebaiknya dicantumkan secara tepat. Jika penerbit meminta tautan menuju artikel resmi, tautan tersebut juga dapat dicantumkan sesuai ketentuan.

Yang tidak kalah penting, jangan menganggap accepted manuscript sebagai dokumen bebas hak cipta hanya karena file tersebut dibuat oleh penulis. Hak penggunaan tetap dapat dipengaruhi oleh perjanjian dengan penerbit.

Hal yang Perlu Diperiksa Sebelum Mengunggah Accepted Manuscript

Sebelum memasukkan accepted manuscript ke repository atau platform akademik, penulis sebaiknya melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Langkah tersebut penting untuk memastikan bahwa tindakan pengarsipan tidak bertentangan dengan kebijakan jurnal.

Beberapa aspek yang perlu diperiksa meliputi:

  • Status hak cipta artikel.
  • Kebijakan self-archiving penerbit.
  • Versi artikel yang diizinkan untuk diunggah.
  • Ada atau tidaknya embargo.
  • Tempat yang diperbolehkan untuk menyimpan naskah.
  • Ketentuan pemberian atribusi kepada jurnal.
  • Kewajiban mencantumkan DOI atau tautan artikel resmi.
  • Ketentuan terkait lisensi open access.
  • Kebijakan mengenai berbagi melalui platform akademik.
  • Aturan institusi tempat penulis bekerja atau belajar.

Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan sebelum file diunggah, bukan setelah muncul masalah. Penulis dapat menyimpan salinan kebijakan penerbit atau dokumen perjanjian publikasi sebagai arsip pribadi agar mudah diperiksa kembali.

Jika kebijakan jurnal berubah setelah publikasi, penulis juga perlu melihat ketentuan terbaru yang relevan. Namun, jangan hanya mengandalkan informasi dari forum, media sosial, atau pengalaman penulis lain karena setiap penerbit dapat memiliki kebijakan berbeda.

Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Memahami Accepted Manuscript

Salah satu kesalahan yang cukup sering terjadi adalah menganggap accepted manuscript sama dengan artikel yang sudah terbit. Acceptance memang merupakan pencapaian penting, tetapi proses produksi artikel dapat masih berlangsung. Karena itu, penulis harus membedakan antara “accepted for publication” dan “published”.

Kesalahan lain adalah mengunggah accepted manuscript ke berbagai platform tanpa memeriksa hak distribusi. Walaupun penulis merupakan salah satu pencipta artikel, perjanjian dengan penerbit dapat menentukan bagaimana versi tersebut boleh digunakan.

Ada pula penulis yang mencantumkan informasi volume, nomor, dan halaman berdasarkan perkiraan. Hal ini sebaiknya dihindari karena informasi bibliografis harus berasal dari sumber resmi. Jika issue belum ditentukan, gunakan informasi yang memang tersedia.

Kesalahan berikutnya adalah menganggap DOI sebagai bukti bahwa artikel sudah pasti terbit dalam issue. DOI dapat diberikan pada tahap tertentu sebelum volume dan nomor tersedia. Oleh karena itu, status artikel harus diperiksa melalui halaman resmi jurnal.

Penulis juga sebaiknya tidak menghapus atau mengganti file accepted manuscript dengan version of record secara sembarangan di repository. Jika penerbit hanya mengizinkan accepted manuscript, menggantinya dengan versi final dapat melanggar ketentuan distribusi yang berlaku.

Strategi Aman Mengelola Accepted Manuscript

Pengelolaan accepted manuscript sebaiknya dilakukan secara sistematis sejak editor memberikan keputusan acceptance. Penulis dapat menyimpan file final hasil revisi sebagai dokumen terpisah dan memberi nama file yang jelas agar tidak tertukar dengan draft sebelumnya.

Folder publikasi dapat berisi beberapa dokumen, seperti manuskrip awal, versi revisi, accepted manuscript, surat acceptance, proof, dan published article. Pemisahan tersebut membantu penulis mengidentifikasi versi mana yang sedang digunakan.

Penulis juga dapat mencatat informasi penting seperti tanggal acceptance, tanggal publication online, DOI, nama jurnal, volume, issue, dan halaman apabila sudah tersedia. Catatan tersebut memudahkan pembaruan profil akademik dan daftar publikasi.

Untuk kebutuhan repository, penulis sebaiknya mengunggah hanya versi yang diperbolehkan. Jika penerbit menetapkan embargo, sistem repository biasanya dapat digunakan untuk mengatur tanggal pembukaan akses publik.

Ketika artikel akhirnya terbit, penulis dapat memperbarui metadata repository dengan informasi publikasi final. Jika kebijakan mengharuskan accepted manuscript tetap digunakan, versi tersebut tidak perlu diganti dengan PDF final penerbit.

Dampak Accepted Manuscript terhadap Visibilitas Penelitian

Accepted manuscript dapat memiliki peran dalam meningkatkan akses terhadap hasil penelitian, terutama ketika penerbit mengizinkan self-archiving. Penulis dapat membuat versi artikel yang telah diterima lebih mudah ditemukan melalui repository institusi atau layanan pencarian akademik.

Namun, visibilitas tidak berarti semua versi artikel harus tersedia di semua tempat. Penulis tetap perlu memperhatikan kebijakan hak cipta dan lisensi. Strategi yang baik adalah memaksimalkan akses dengan cara yang sesuai dengan aturan penerbit.

Repository institusi juga dapat membantu menjaga keberlanjutan akses terhadap hasil penelitian. Ketika pembaca menemukan metadata artikel melalui repository, mereka dapat diarahkan menuju versi resmi penerbit jika akses terbuka atau tersedia melalui jalur lain.

Dari sisi sitasi, penggunaan metadata yang konsisten sangat penting. Judul, nama penulis, jurnal, tahun, dan DOI harus dicantumkan secara akurat agar artikel dapat diidentifikasi dengan benar.

Dengan demikian, accepted manuscript dapat menjadi bagian penting dari strategi diseminasi penelitian, tetapi penggunaannya harus dilakukan secara bertanggung jawab.

Mengapa Penulis Harus Memahami Hak atas Naskah?

Pemahaman mengenai hak penulis menjadi semakin penting karena publikasi ilmiah tidak hanya berkaitan dengan penerimaan artikel, tetapi juga dengan bagaimana karya tersebut dapat digunakan setelah diterbitkan. Ketika penulis memahami perjanjian publikasi, mereka dapat mengetahui batasan dan hak yang masih dimiliki terhadap accepted manuscript.

Hak tersebut dapat mencakup penyimpanan, pengarsipan, penggunaan untuk keperluan tertentu, atau berbagi dengan kondisi tertentu. Namun, ruang lingkupnya berbeda antara penerbit dan jurnal. Tidak ada asumsi tunggal yang dapat diterapkan kepada semua artikel.

Penulis juga perlu memahami perbedaan antara copyright transfer dan lisensi publikasi. Dalam beberapa skema, hak cipta dapat dialihkan kepada penerbit, sedangkan dalam skema lain penulis tetap memegang hak cipta dan memberikan lisensi kepada penerbit untuk menerbitkan artikel.

Pemahaman ini sangat membantu ketika penulis ingin menggunakan kembali bagian artikel dalam karya akademik lain. Tabel, gambar, teks, atau materi tertentu dapat memiliki ketentuan penggunaan kembali yang berbeda.

Karena itu, accepted manuscript sebaiknya diperlakukan sebagai bagian dari rekam publikasi yang memiliki status dan aturan penggunaan tertentu, bukan sekadar file lama yang bebas dipindahkan ke mana saja.

Hal Utama yang Harus Diingat Penulis

accepted manuscript berarti artikel telah diterima untuk diterbitkan, tetapi tidak selalu berarti artikel sudah tersedia dalam versi final penerbit. Penulis harus membedakan acceptance dengan publication.

hak untuk menyimpan dan membagikan accepted manuscript bergantung pada kebijakan penerbit. Sebelum melakukan self-archiving, periksa perjanjian publikasi, kebijakan repository, dan ketentuan embargo.

setelah artikel diterbitkan, gunakan metadata resmi dari version of record untuk kebutuhan sitasi. Jika volume, issue, halaman, atau article number sudah tersedia, informasi tersebut dapat digunakan untuk melengkapi referensi.

Baca juga:Postprint Article: Pengertian, Hak Penulis, dan Aturan Distribusinya

Kesimpulan

Accepted manuscript merupakan versi artikel yang telah dinyatakan diterima oleh jurnal setelah proses peer review dan revisi. Status ini menunjukkan bahwa editor telah menyetujui naskah untuk diterbitkan, tetapi masih dapat terdapat tahapan produksi sebelum artikel menjadi version of record. Karena itu, accepted manuscript tidak boleh secara otomatis dianggap sama dengan artikel jurnal yang sudah terbit.

Dari sisi hak penulis, penggunaan accepted manuscript bergantung pada kebijakan penerbit dan perjanjian publikasi. Penulis perlu memeriksa aturan mengenai self-archiving, repository, embargo, lisensi, dan distribusi sebelum membagikan naskah. Langkah ini penting agar upaya meningkatkan akses terhadap penelitian tetap sesuai dengan ketentuan hak cipta dan publikasi.

Pada akhirnya, memahami accepted manuscript membantu penulis mengelola perjalanan artikel secara lebih profesional. Dengan membedakan submitted manuscript, accepted manuscript, dan published article, penulis dapat menyebut status publikasi secara akurat, menggunakan metadata yang tepat, mengelola hak atas naskah, serta menentukan versi artikel yang sesuai untuk kebutuhan akademik dan diseminasi penelitian.

Ketahui lebih banyak informasi terbaru dan terlengkap mengenai skripsi dengan mengikuti terus artikel dari Publish Jurnal. Dapatkan juga bimbingan eksklusif untuk skripsi dan tugas akhir bagi Anda yang sedang menghadapi masalah dalam penyusunan skripsi dengan menghubungi Admin Publish Jurnal sekarang juga! Konsultasikan kesulitan Anda dan raih kelulusan studi lebih cepat.