Postprint Article: Pengertian, Hak Penulis, dan Aturan Distribusinya

Dalam proses publikasi ilmiah, sebuah artikel tidak langsung berubah dari naskah awal menjadi artikel jurnal final. Ada beberapa versi yang muncul sepanjang perjalanan publikasi, mulai dari submitted manuscript, revised manuscript, accepted manuscript, hingga postprint dan version of record. Setiap versi mempunyai karakteristik, status, serta aturan penggunaan yang berbeda. Salah satu versi yang penting dipahami penulis adalah postprint article.

Istilah postprint article sering digunakan untuk menyebut versi naskah yang telah melewati proses peer review dan telah diperbaiki berdasarkan masukan reviewer, tetapi belum melalui seluruh proses produksi penerbit. Karena itu, postprint dapat memiliki isi ilmiah yang sudah disetujui untuk diterbitkan, tetapi tampilan dan formatnya belum tentu sama dengan artikel final yang tersedia di situs jurnal.

Pemahaman mengenai postprint article semakin penting seiring berkembangnya open access dan institutional repository. Banyak penerbit mengizinkan penulis menyimpan versi postprint dalam repository dengan persyaratan tertentu. Namun, izin tersebut tidak selalu berarti penulis bebas mengunggah postprint ke semua platform atau membagikannya tanpa batas.

Selain berkaitan dengan hak cipta, postprint juga berhubungan dengan strategi diseminasi hasil penelitian. Dengan menyimpan postprint pada repository yang diperbolehkan, penulis dapat membantu pembaca menemukan hasil penelitian tanpa selalu bergantung pada akses langsung ke laman penerbit. Di sisi lain, penulis tetap harus memperhatikan embargo, atribusi, lisensi, dan ketentuan distribusi yang berlaku.

Artikel ini membahas postprint article secara lengkap, mulai dari pengertian, posisi postprint dalam proses publikasi, perbedaannya dengan accepted manuscript dan version of record, hak penulis, hingga aturan distribusi yang perlu diperhatikan. Dengan memahami konsep tersebut, penulis dapat mengelola hasil penelitian secara lebih aman, profesional, dan sesuai dengan kebijakan penerbit.

Pengertian Postprint Article dalam Publikasi Ilmiah

Postprint article merupakan istilah yang digunakan dalam penerbitan ilmiah untuk merujuk pada versi naskah setelah proses peer review selesai dan revisi yang diperlukan telah dilakukan. Dalam banyak konteks, postprint merupakan versi yang telah diterima untuk diterbitkan oleh jurnal, tetapi belum mengalami proses produksi akhir dari penerbit.

Postprint dapat disebut juga sebagai author accepted manuscript atau accepted version, tergantung pada istilah yang digunakan oleh penerbit. Namun, penggunaan istilah tersebut tidak selalu seragam. Ada penerbit yang membedakan postprint dari accepted manuscript, sedangkan penerbit lain menggunakannya sebagai istilah yang hampir sama.

Karakteristik utama postprint article adalah substansi ilmiahnya sudah melewati proses evaluasi. Komentar reviewer telah ditanggapi, revisi telah dilakukan, dan editor telah menerima naskah untuk diterbitkan. Meskipun demikian, dokumen tersebut biasanya belum menggunakan desain atau tata letak final jurnal.

Perbedaan format tersebut dapat terlihat dari tampilan halaman. Postprint biasanya masih menggunakan template atau format dokumen yang dibuat penulis. Sementara itu, artikel final penerbit sudah mempunyai layout resmi, tipografi, header, footer, nomor halaman, informasi copyright, serta elemen lain yang menjadi ciri khas jurnal.

Karena itu, postprint article tidak sebaiknya dianggap sebagai draft biasa. Postprint merupakan versi naskah yang sudah berada pada tahap lanjut dalam proses publikasi. Namun, statusnya tetap berbeda dengan version of record yang menjadi versi resmi dan final dari penerbit.

Baca juga:Bimbingan Publikasi Jurnal SINTA dan Scopus dari Submit hingga Artikel Terbit

Posisi Postprint dalam Tahapan Publikasi Jurnal

Untuk memahami postprint article, penulis perlu mengetahui posisi versi ini dalam keseluruhan alur publikasi. Proses biasanya dimulai dari submitted manuscript, yaitu naskah pertama yang dikirimkan kepada jurnal. Pada tahap ini, artikel belum mendapatkan keputusan penerimaan dan masih dapat mengalami evaluasi editorial maupun peer review.

Setelah reviewer memberikan masukan, penulis dapat melakukan revisi. Hasil revisi tersebut dapat dikirim kembali kepada jurnal untuk dinilai. Dalam beberapa kasus, proses revisi berlangsung beberapa putaran hingga editor merasa naskah telah memenuhi standar yang ditetapkan.

Setelah editor memberikan keputusan acceptance, naskah memasuki tahap yang dapat dikategorikan sebagai postprint atau accepted manuscript berdasarkan terminologi penerbit. Versi ini sudah mencerminkan hasil penelitian yang diterima untuk diterbitkan. Namun, proses produksi seperti copyediting, typesetting, dan proofreading masih dapat dilakukan.

Tahap berikutnya adalah produksi artikel. Penerbit dapat memperbaiki format, menyesuaikan struktur tabel dan gambar, memeriksa metadata, dan membuat proof untuk diperiksa penulis. Setelah proses tersebut selesai, artikel dapat dipublikasikan secara online sebagai version of record.

Dalam beberapa jurnal, artikel kemudian dapat ditempatkan dalam volume dan issue tertentu. Dengan demikian, perjalanan publikasi dapat digambarkan secara sederhana sebagai submitted manuscript, peer review, revised manuscript, accepted manuscript atau postprint, production, kemudian published article atau version of record.

Mengapa Postprint Article Penting bagi Penulis?

Postprint article penting karena menjadi salah satu versi yang dapat digunakan untuk mendukung penyebaran hasil penelitian. Jika penerbit mengizinkan, penulis dapat mengarsipkan postprint dalam institutional repository atau repository bidang ilmu tertentu.

Keberadaan postprint juga membantu pembaca yang tidak memiliki akses langsung terhadap artikel final penerbit. Ketika postprint tersedia melalui repository yang sah, pembaca dapat memperoleh isi penelitian tanpa harus mengakses versi berbayar, selama kebijakan penerbit mengizinkan akses tersebut.

Bagi penulis, pengarsipan postprint dapat menjadi bagian dari strategi open access. Artikel yang tersedia secara legal melalui repository berpotensi lebih mudah ditemukan oleh peneliti lain. Namun, peningkatan akses bukan berarti penulis boleh mengabaikan aturan distribusi.

Postprint juga dapat menjadi arsip penting bagi penulis sendiri. File tersebut menunjukkan versi artikel yang telah diterima dan dapat digunakan untuk dokumentasi perjalanan publikasi. Penulis sebaiknya menyimpan file ini dengan baik bersama surat acceptance dan dokumen perjanjian publikasi.

Selain itu, pemahaman tentang postprint membantu penulis menghindari kesalahan ketika mengunggah artikel. Penulis dapat mengetahui versi mana yang diperbolehkan, tempat penyimpanan yang sesuai, serta informasi apa yang perlu dicantumkan ketika postprint dibagikan.

Perbedaan Postprint Article dengan Preprint dan Version of Record

Postprint article sering disalahartikan karena istilahnya memiliki kemiripan dengan preprint dan artikel final. Padahal, ketiganya berada pada tahapan yang berbeda. Preprint biasanya merupakan naskah yang dibagikan sebelum atau tanpa proses peer review jurnal, sedangkan postprint telah melalui peer review dan revisi yang diperlukan.

Perbedaan tersebut membuat status ilmiah preprint dan postprint tidak sama. Preprint dapat menjadi sarana untuk menyebarluaskan hasil penelitian lebih awal, tetapi isinya masih dapat berubah setelah proses review. Postprint umumnya sudah memuat versi yang diterima oleh jurnal.

Version of record berada pada tahap berbeda lagi. Version of record adalah versi yang telah diproduksi dan diterbitkan secara resmi oleh penerbit. Versi tersebut dapat memiliki DOI, volume, issue, halaman, article number, serta format resmi jurnal.

Dari sisi tampilan, postprint biasanya lebih sederhana. Artikel final menggunakan desain jurnal dan telah melalui penyuntingan produksi. Walaupun isi ilmiahnya dapat sangat mirip, kedua versi tetap dapat memiliki perbedaan format dan metadata.

Perbedaan ini sangat penting ketika penulis akan mengarsipkan artikel. Jika penerbit hanya mengizinkan postprint, penulis tidak seharusnya menggantinya dengan PDF version of record. Aturan distribusi harus selalu mengikuti versi yang secara eksplisit diperbolehkan oleh penerbit.

Postprint Article dan Hak Penulis

Pembahasan mengenai postprint article tidak dapat dipisahkan dari hak penulis. Ketika artikel diterima jurnal, penulis mungkin menandatangani perjanjian publikasi yang mengatur hak cipta dan penggunaan naskah. Isi perjanjian tersebut dapat menentukan apakah penulis boleh menyimpan, mengarsipkan, atau membagikan postprint.

Hak penulis tidak selalu berarti hak untuk mendistribusikan seluruh versi artikel tanpa batas. Penerbit dapat memberikan izin tertentu, misalnya mengizinkan penyimpanan postprint di repository institusi tetapi tidak mengizinkan unggahan version of record pada situs lain.

Penulis juga perlu memperhatikan apakah hak yang diberikan berlaku segera atau baru dapat digunakan setelah masa embargo. Embargo merupakan periode tertentu ketika artikel atau postprint belum boleh tersedia secara terbuka. Setelah embargo berakhir, akses publik dapat dibuka sesuai ketentuan.

Selain itu, beberapa penerbit meminta penulis mencantumkan pernyataan tertentu pada postprint. Pernyataan tersebut dapat menjelaskan bahwa dokumen merupakan manuscript version atau accepted manuscript dan mengarahkan pembaca ke versi resmi penerbit.

Oleh sebab itu, hak penulis terhadap postprint article sebaiknya tidak diasumsikan berdasarkan pengalaman dengan jurnal lain. Setiap penerbit dapat mempunyai kebijakan yang berbeda, sehingga dokumen perjanjian publikasi dan kebijakan resmi jurnal perlu menjadi rujukan utama.

Hak yang Dapat Berkaitan dengan Postprint

Hak penulis terhadap postprint dapat mencakup berbagai bentuk penggunaan, tergantung pada kebijakan penerbit. Memahami hak tersebut membantu penulis menentukan apa yang boleh dilakukan terhadap versi artikel yang telah diterima.

Beberapa bentuk hak yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Hak menyimpan salinan postprint untuk arsip pribadi.
  • Hak mengunggah postprint ke institutional repository jika diizinkan.
  • Hak menyimpan artikel di repository bidang ilmu tertentu.
  • Hak membagikan postprint kepada kolega sesuai ketentuan penerbit.
  • Hak menggunakan artikel untuk kebutuhan akademik tertentu.
  • Hak mencantumkan artikel dalam daftar karya ilmiah.
  • Hak menggunakan kembali bagian tertentu dari artikel sesuai perjanjian.
  • Hak mempertahankan atribusi dan pengakuan sebagai penulis.
  • Hak melakukan self-archiving sesuai kebijakan penerbit.
  • Hak menyediakan akses terbuka setelah masa embargo berakhir jika diperbolehkan.

Namun, daftar tersebut bukan berarti semua penulis otomatis memiliki seluruh hak tersebut. Ketentuan yang sebenarnya bergantung pada perjanjian publikasi, kebijakan hak cipta, dan lisensi artikel.

Karena itu, penulis sebaiknya menyimpan dokumen publishing agreement dan membaca bagian yang berkaitan dengan author rights. Kebijakan tersebut dapat menjadi dasar ketika penulis ingin mengunggah postprint ke repository atau membagikannya melalui platform akademik.

Aturan Distribusi Postprint Article

Distribusi postprint article merupakan salah satu bagian yang paling perlu diperhatikan. Ketika penerbit mengizinkan self-archiving, izin tersebut biasanya disertai sejumlah persyaratan. Penulis perlu memastikan bahwa setiap persyaratan dipenuhi sebelum membuat postprint tersedia secara publik.

Salah satu aturan yang umum adalah pembatasan versi. Penerbit dapat mengizinkan postprint tetapi tidak mengizinkan version of record. Oleh karena itu, penulis perlu memastikan file yang diunggah memang merupakan versi yang diperbolehkan.

Aturan lain dapat berkaitan dengan tempat distribusi. Ada penerbit yang mengizinkan institutional repository, tetapi mempunyai kebijakan berbeda untuk situs pribadi, platform akademik, atau repository komersial. Penulis tidak boleh menyimpulkan bahwa izin pada satu tempat otomatis berlaku untuk semua platform.

Embargo juga menjadi faktor penting. Jika postprint boleh diarsipkan tetapi harus mengalami embargo, penulis perlu mengikuti periode tersebut. Repository biasanya dapat mengatur agar file hanya dapat diakses secara terbuka setelah tanggal yang ditentukan.

Selain itu, atribusi kepada penerbit dan tautan ke artikel resmi dapat diwajibkan. Tujuannya adalah memastikan pembaca mengetahui hubungan antara postprint dan version of record. Dengan demikian, distribusi postprint tetap memberikan penghargaan dan rujukan kepada publikasi resmi.

Hal yang Perlu Diperiksa Sebelum Membagikan Postprint

Sebelum membagikan postprint article, penulis sebaiknya melakukan pemeriksaan terhadap beberapa aspek. Langkah tersebut membantu mencegah pelanggaran terhadap kebijakan jurnal.

Hal-hal yang dapat diperiksa meliputi:

  • Apakah penerbit mengizinkan self-archiving?
  • Versi artikel apa yang boleh diunggah?
  • Apakah terdapat embargo?
  • Berapa lama masa embargo tersebut?
  • Repository mana yang diperbolehkan?
  • Apakah wajib mencantumkan DOI?
  • Apakah harus memberikan tautan ke artikel resmi?
  • Apakah terdapat pernyataan copyright tertentu?
  • Apakah artikel menggunakan lisensi open access?
  • Apakah tabel dan gambar memiliki hak penggunaan khusus?

Pemeriksaan tersebut sebaiknya dilakukan berdasarkan sumber resmi penerbit. Informasi dari penulis lain dapat menjadi gambaran umum, tetapi belum tentu berlaku untuk jurnal atau artikel yang sama.

Penulis juga perlu berhati-hati ketika mengunggah artikel ke platform yang memungkinkan publik mengakses dokumen secara luas. Jika kebijakan penerbit hanya mengizinkan repository tertentu, penggunaan platform lain dapat menimbulkan masalah.

Dengan mengikuti aturan distribusi, penulis tetap dapat memaksimalkan akses terhadap hasil penelitian tanpa mengabaikan hak penerbit dan ketentuan publikasi.

Postprint dalam Institutional Repository

Institutional repository menjadi salah satu tempat penting untuk mengarsipkan postprint. Repository dikelola oleh universitas, lembaga penelitian, atau organisasi akademik untuk menyimpan dan menyediakan akses terhadap hasil penelitian sivitas akademika.

Penggunaan repository dapat memberikan manfaat bagi penulis karena artikel dapat ditemukan melalui mesin pencari akademik. Metadata yang lengkap juga membantu menghubungkan postprint dengan artikel resmi yang diterbitkan jurnal.

Namun, penulis perlu memastikan bahwa repository tersebut memenuhi ketentuan penerbit. Jika penerbit menetapkan embargo, repository dapat menyimpan file terlebih dahulu tetapi menunda akses publik sampai periode embargo selesai.

Metadata juga harus dibuat akurat. Judul, penulis, jurnal, tahun, DOI, dan informasi publikasi lain perlu disesuaikan dengan data resmi. Kesalahan metadata dapat membuat artikel sulit ditemukan atau menyebabkan informasi publikasi menjadi tidak konsisten.

Dengan pengelolaan yang baik, institutional repository dapat menjadi sarana distribusi postprint yang aman dan bermanfaat bagi penulis maupun pembaca.

Kesimpulan Sementara

Postprint article merupakan versi naskah yang telah melalui proses peer review dan revisi hingga diterima untuk diterbitkan, tetapi belum tentu menjadi versi final yang diproduksi penerbit. Karena itu, postprint berbeda dari preprint maupun version of record. Pemahaman terhadap perbedaan ini penting agar penulis tidak salah menyebut status artikel atau menggunakan versi yang tidak sesuai.

Hak penulis terhadap postprint bergantung pada perjanjian publikasi dan kebijakan penerbit. Penulis mungkin mendapatkan hak untuk menyimpan dan mengarsipkan postprint, tetapi dapat menghadapi batasan terkait tempat distribusi, masa embargo, versi artikel, dan kewajiban mencantumkan atribusi atau DOI.

Dengan memahami aturan tersebut, penulis dapat menggunakan postprint sebagai sarana diseminasi ilmiah secara bertanggung jawab. Pada bagian berikutnya, pembahasan akan dilanjutkan dengan strategi distribusi postprint, kesalahan yang sering dilakukan, serta cara memastikan pengarsipan artikel tetap sesuai dengan kebijakan penerbit.

Strategi Distribusi Postprint Article yang Aman

Distribusi postprint article perlu dilakukan dengan strategi yang memperhatikan hak penulis sekaligus ketentuan penerbit. Penulis tidak cukup hanya mengetahui bahwa postprint boleh disimpan, tetapi juga perlu memahami di mana file tersebut dapat ditempatkan, kapan dapat dibuka untuk publik, dan informasi apa yang harus menyertainya. Dengan demikian, proses diseminasi hasil penelitian dapat berjalan tanpa mengabaikan aturan publikasi.

Langkah pertama adalah mengidentifikasi kebijakan penerbit untuk artikel yang bersangkutan. Kebijakan tersebut dapat ditemukan pada halaman copyright, author rights, self-archiving, open access, atau publishing agreement. Informasi ini menjadi dasar untuk menentukan apakah postprint dapat diunggah ke repository dan apakah terdapat embargo.

Langkah berikutnya adalah menyimpan versi postprint secara terpisah dari version of record. Penulis sebaiknya memberi nama file yang jelas, misalnya dengan mencantumkan judul singkat artikel, nama penulis, dan keterangan “postprint” atau “accepted manuscript”. Cara tersebut membantu mencegah kesalahan ketika penulis mempunyai beberapa versi dokumen.

Setelah itu, penulis dapat mengunggah postprint ke repository yang diperbolehkan. Metadata harus ditulis secara konsisten dengan informasi resmi jurnal. Jika DOI sudah tersedia, DOI dapat dicantumkan agar pembaca dapat menemukan version of record dengan mudah.

Distribusi yang aman pada akhirnya bukan sekadar membuat file dapat diunduh. Penulis juga perlu memberikan konteks bahwa dokumen tersebut merupakan postprint dan mengarahkan pembaca ke publikasi resmi. Strategi tersebut membantu menjaga hubungan antara versi arsip dan artikel yang diterbitkan.

Peran DOI dalam Distribusi Postprint

DOI memiliki peran penting dalam menghubungkan postprint dengan artikel yang diterbitkan. Ketika artikel sudah mempunyai DOI, penulis dapat mencantumkan DOI tersebut dalam metadata repository atau pada halaman informasi postprint, selama hal tersebut sesuai dengan kebijakan penerbit.

Pencantuman DOI membantu pembaca menemukan version of record. Jika terdapat perbedaan format antara postprint dan artikel final, pembaca tetap dapat mengetahui sumber publikasi resmi yang menjadi rujukan utama.

DOI juga membantu menjaga konsistensi informasi bibliografis. Ketika volume, issue, halaman, atau article number tersedia setelah artikel diterbitkan, metadata repository dapat diperbarui sehingga hubungan antara postprint dan artikel final semakin jelas.

Penulis tidak perlu membuat DOI baru untuk postprint. DOI artikel merupakan identitas publikasi yang diberikan melalui sistem DOI. Postprint yang diarsipkan biasanya tetap merujuk kepada artikel yang sama, bukan menjadi publikasi jurnal baru.

Karena itu, DOI sebaiknya digunakan secara tepat. Penulis dapat mencantumkan DOI artikel resmi tanpa memberikan kesan bahwa postprint merupakan artikel berbeda atau publikasi jurnal yang terpisah.

Postprint dan Masa Embargo

Embargo merupakan salah satu aturan penting yang dapat memengaruhi distribusi postprint article. Dalam konteks penerbitan ilmiah, embargo biasanya berarti terdapat periode tertentu sebelum versi naskah dapat tersedia secara terbuka di repository.

Masa embargo dapat berbeda berdasarkan penerbit, jurnal, bidang ilmu, jenis artikel, atau perjanjian publikasi. Karena itu, penulis tidak sebaiknya menggunakan satu angka embargo sebagai aturan umum untuk semua jurnal.

Selama masa embargo, repository dapat menyimpan metadata artikel tanpa membuka file secara publik. Setelah masa embargo selesai, file dapat dibuat tersedia sesuai kebijakan yang berlaku.

Penulis perlu mencatat tanggal mulai dan berakhirnya embargo. Jika pengelolaan dilakukan melalui repository institusi, informasi tersebut dapat dimasukkan ketika proses deposit. Dengan begitu, sistem dapat membantu mengatur waktu pembukaan akses.

Hal penting lainnya adalah memahami bahwa embargo tidak selalu berarti penulis dilarang menyimpan file. Dalam banyak kebijakan, penulis tetap dapat melakukan deposit tetapi akses publik terhadap file ditunda. Detailnya harus dilihat pada kebijakan penerbit.

Kesalahan Umum dalam Distribusi Postprint Article

Meskipun postprint dapat memberikan manfaat besar bagi penyebaran hasil penelitian, terdapat beberapa kesalahan yang sering dilakukan penulis. Kesalahan tersebut umumnya terjadi karena penulis tidak membedakan antara hak untuk menyimpan dan hak untuk mendistribusikan secara terbuka.

Kesalahan yang perlu dihindari antara lain:

  • Mengunggah version of record ketika penerbit hanya mengizinkan postprint.
  • Mengabaikan masa embargo yang ditentukan penerbit.
  • Mengunggah artikel ke semua platform tanpa memeriksa kebijakan distribusi.
  • Tidak mencantumkan informasi jurnal dan DOI.
  • Mengubah postprint secara signifikan setelah artikel diterima tanpa menjelaskan status versinya.
  • Mengklaim bahwa postprint merupakan PDF resmi penerbit.
  • Menghapus keterangan mengenai hubungan antara postprint dan artikel terbit.
  • Mengabaikan hak pihak ketiga atas gambar, tabel, atau materi yang digunakan dalam artikel.
  • Menganggap kebijakan satu jurnal berlaku untuk semua jurnal.
  • Menggunakan informasi dari sumber tidak resmi sebagai dasar menentukan hak distribusi.

Kesalahan tersebut dapat dikurangi dengan membaca publishing agreement dan kebijakan self-archiving sebelum mengunggah dokumen. Penulis juga dapat menyimpan bukti kebijakan yang berlaku ketika artikel diterbitkan.

Jika terdapat ketidakjelasan mengenai versi atau tempat penyimpanan yang diperbolehkan, penulis sebaiknya meminta klarifikasi kepada penerbit atau pengelola repository. Langkah tersebut lebih aman daripada membuat asumsi sendiri.

Cara Memastikan Postprint Tetap Sesuai Aturan Penerbit

Memastikan kepatuhan terhadap aturan distribusi dapat dilakukan dengan membuat daftar pemeriksaan sederhana. Penulis perlu mengetahui versi artikel yang diizinkan, lokasi penyimpanan, masa embargo, serta informasi atribusi yang harus disertakan.

Beberapa langkah yang dapat diterapkan adalah:

  • Simpan publishing agreement setelah ditandatangani.
  • Cari bagian yang menjelaskan author rights.
  • Periksa kebijakan self-archiving.
  • Identifikasi versi artikel yang diperbolehkan.
  • Catat masa embargo jika ada.
  • Pastikan repository sesuai dengan ketentuan.
  • Cantumkan metadata artikel secara akurat.
  • Tambahkan DOI apabila tersedia dan diizinkan.
  • Sertakan tautan menuju versi resmi.
  • Periksa kembali file sebelum dibuat terbuka.
  • Perbarui metadata setelah artikel masuk volume atau issue.

Langkah tersebut membantu penulis mengelola postprint secara konsisten. Terlebih jika penulis mempunyai banyak artikel, pencatatan kebijakan tiap jurnal dapat menghindari kesalahan yang sama berulang kali.

Penulis juga sebaiknya memisahkan file yang bersifat pribadi dari file yang diperbolehkan untuk distribusi. Folder publikasi dapat diberi struktur berdasarkan judul jurnal atau tahun publikasi sehingga versi dokumen mudah ditemukan.

Postprint Article dalam Konteks Open Access

Open access dan postprint article memiliki hubungan yang erat, tetapi keduanya bukan istilah yang sama. Open access berkaitan dengan model akses terhadap publikasi ilmiah, sedangkan postprint merupakan salah satu versi naskah dalam perjalanan publikasi.

Sebuah artikel dapat diterbitkan secara berlangganan oleh jurnal, tetapi penerbit mengizinkan penulis mengarsipkan postprint setelah embargo. Dalam situasi tersebut, pembaca dapat memperoleh akses melalui repository meskipun version of record tidak tersedia secara gratis di laman penerbit.

Sebaliknya, artikel yang diterbitkan secara open access tidak selalu berarti penulis bebas mengunggah semua versi artikel ke mana pun. Lisensi yang digunakan tetap perlu diperhatikan, terutama jika terdapat material pihak ketiga.

Karena itu, penulis perlu memahami hubungan antara copyright, license, open access, dan self-archiving. Keempat konsep tersebut saling berkaitan, tetapi mempunyai fungsi yang berbeda.

Strategi open access yang baik bukan hanya bertujuan membuat artikel tersedia, tetapi juga memastikan akses tersebut dilakukan melalui jalur yang sah dan sesuai dengan hak yang diberikan kepada penulis.

Perbedaan Postprint Article dengan Version of Record

Postprint article dan version of record dapat mempunyai isi ilmiah yang hampir sama, tetapi status keduanya berbeda. Postprint merupakan versi naskah penulis setelah proses review dan acceptance, sedangkan version of record merupakan versi resmi yang diproduksi dan diterbitkan oleh penerbit.

Perbedaan tersebut dapat terlihat dari beberapa unsur:

  • Postprint biasanya menggunakan format penulis.
  • Version of record menggunakan layout resmi jurnal.
  • Postprint mungkin belum mempunyai informasi volume dan issue.
  • Version of record mempunyai metadata publikasi final.
  • Version of record biasanya menjadi sumber utama untuk sitasi resmi.
  • Postprint dapat mempunyai aturan self-archiving tersendiri.
  • Version of record dapat dilindungi oleh ketentuan hak cipta dan lisensi penerbit.

Karena itu, ketika sebuah repository menyimpan postprint, informasi tersebut sebaiknya tidak dibuat seolah-olah repository menyediakan PDF resmi penerbit. Keterangan mengenai versi artikel perlu ditulis secara jelas.

Pembaca yang ingin melakukan sitasi sebaiknya diarahkan ke version of record jika versi tersebut tersedia. Postprint dapat berfungsi sebagai jalur akses terhadap isi penelitian, sedangkan version of record tetap menjadi rujukan publikasi resmi.

Manfaat Postprint bagi Penulis dan Pembaca

Postprint article dapat memberikan manfaat bagi penulis karena membuka peluang diseminasi penelitian melalui jalur yang diizinkan penerbit. Ketika tersedia dalam repository, artikel dapat ditemukan oleh pembaca yang sedang mencari topik penelitian terkait.

Bagi penulis, repository juga dapat memperkuat jejak digital karya ilmiah. Metadata artikel dapat muncul dalam mesin pencari akademik dan terhubung dengan profil institusi. Hal tersebut membantu penelitian lebih mudah ditemukan tanpa harus mengandalkan satu platform.

Bagi pembaca, postprint dapat menjadi alternatif ketika version of record sulit diakses. Pembaca dapat membaca isi penelitian melalui repository yang sah dan kemudian merujuk kepada artikel resmi untuk informasi bibliografis lengkap.

Namun, manfaat tersebut tetap harus berjalan bersama kepatuhan terhadap aturan penerbit. Akses yang lebih luas tidak boleh diperoleh dengan cara yang melanggar hak cipta atau perjanjian publikasi.

Dengan demikian, postprint article dapat menjadi jembatan antara kepentingan akses terhadap ilmu pengetahuan dan perlindungan hak dalam penerbitan ilmiah.

Prinsip Penting dalam Mengelola Postprint

mengetahui versi artikel yang dimiliki. Penulis harus dapat membedakan preprint, postprint, accepted manuscript, proof, dan version of record. Setiap versi dapat mempunyai aturan penggunaan yang berbeda.

memeriksa hak distribusi sebelum mengunggah. Kebijakan penerbit dapat menentukan lokasi repository, masa embargo, format file, dan informasi atribusi. Pemeriksaan ini merupakan bagian penting dari tanggung jawab penulis.

menjaga keterhubungan antara postprint dan publikasi resmi. DOI, nama jurnal, judul, nama penulis, dan tautan ke version of record dapat membantu pembaca memahami status dokumen dan menemukan sumber resmi.

Dengan menerapkan tiga prinsip tersebut, penulis dapat memanfaatkan postprint secara optimal tanpa mengabaikan aturan penerbit. Postprint bukan hanya salinan naskah, tetapi bagian dari ekosistem publikasi ilmiah yang mempunyai status dan ketentuan tertentu.

Baca juga:Accepted Manuscript: Status, Hak Penulis, dan Perbedaannya dengan Artikel Terbit

Kesimpulan

Postprint article adalah versi naskah yang telah melewati proses peer review dan revisi hingga diterima untuk diterbitkan, tetapi belum tentu melalui seluruh proses produksi penerbit. Karena itu, postprint berbeda dari preprint yang umumnya belum melewati peer review dan berbeda pula dari version of record yang merupakan versi resmi artikel terbit.

Hak penulis terhadap postprint bergantung pada publishing agreement, kebijakan self-archiving, copyright, lisensi, dan aturan penerbit. Penulis mungkin diperbolehkan mengarsipkan postprint di institutional repository, tetapi dapat menghadapi batasan berupa masa embargo, lokasi distribusi, versi file, atau kewajiban mencantumkan DOI dan tautan ke artikel resmi.

Pada akhirnya, postprint article dapat menjadi sarana penting untuk memperluas akses terhadap hasil penelitian secara legal dan terkontrol. Penulis perlu menyimpan versi dokumen dengan baik, memeriksa kebijakan penerbit, mengikuti masa embargo, menggunakan metadata yang akurat, serta membedakan postprint dari version of record. Dengan pengelolaan yang tepat, distribusi postprint dapat mendukung visibilitas penelitian sekaligus menjaga kepatuhan terhadap aturan publikasi ilmiah.

Postprint article merupakan bagian penting dari perjalanan sebuah karya ilmiah dari naskah yang telah diterima menuju artikel jurnal final. Statusnya menunjukkan bahwa penelitian telah melewati peer review dan memperoleh keputusan penerimaan, tetapi belum tentu menggunakan format resmi penerbit. Pemahaman terhadap status ini membantu penulis menghindari kesalahan ketika menyebut, menyimpan, atau membagikan artikel.

Hak penulis atas postprint tidak bersifat otomatis dan tanpa batas. Setiap penulis perlu memeriksa publishing agreement serta kebijakan jurnal mengenai self-archiving, embargo, repository, lisensi, dan distribusi. Dengan mengikuti aturan tersebut, penulis dapat menyediakan akses terhadap penelitian melalui jalur yang diperbolehkan.

Postprint article pada akhirnya dapat memberikan manfaat bagi penulis, pembaca, dan perkembangan komunikasi ilmiah. Ketika dikelola dengan benar, postprint dapat memperluas akses, meningkatkan keterlihatan penelitian, dan menghubungkan pembaca dengan version of record. Kunci utamanya adalah memahami status versi artikel, menghormati hak penerbit, serta memastikan setiap distribusi dilakukan sesuai kebijakan yang berlaku.

Ketahui lebih banyak informasi terbaru dan terlengkap mengenai skripsi dengan mengikuti terus artikel dari Publish Jurnal. Dapatkan juga bimbingan eksklusif untuk skripsi dan tugas akhir bagi Anda yang sedang menghadapi masalah dalam penyusunan skripsi dengan menghubungi Admin Publish Jurnal sekarang juga! Konsultasikan kesulitan Anda dan raih kelulusan studi lebih cepat.