Duplicate Submission: Mengapa Dilarang dan Apa Konsekuensinya?

Dalam dunia publikasi ilmiah, penulis tidak hanya dituntut menghasilkan penelitian yang berkualitas, tetapi juga memahami etika dalam proses penerbitan. Salah satu persoalan yang perlu diperhatikan adalah duplicate submission. Istilah ini merujuk pada tindakan mengirimkan satu naskah yang sama atau secara substansial sama ke lebih dari satu jurnal pada waktu yang bersamaan, tanpa memberikan informasi atau memperoleh persetujuan dari pihak terkait. Praktik tersebut menjadi perhatian penting karena dapat mengganggu proses editorial dan melanggar prinsip etika publikasi ilmiah.

Duplicate submission terkadang terjadi karena penulis ingin mempercepat proses publikasi atau berharap peluang artikelnya diterima menjadi lebih besar. Namun, mengirimkan artikel yang sama ke beberapa jurnal secara bersamaan bukanlah strategi publikasi yang tepat. Setiap jurnal memiliki proses penilaian, editor, dan reviewer yang membutuhkan waktu serta sumber daya. Ketika naskah yang sama dikirimkan ke beberapa jurnal, sumber daya tersebut dapat digunakan secara bersamaan untuk menilai karya yang sebenarnya identik.

Pemahaman mengenai duplicate submission menjadi semakin penting bagi mahasiswa, dosen, peneliti, maupun penulis jurnal. Dengan mengetahui pengertian, alasan larangan, bentuk-bentuknya, serta konsekuensinya, penulis dapat menghindari kesalahan yang berpotensi memengaruhi reputasi akademik. Artikel ini membahas duplicate submission secara lengkap, mulai dari pengertian hingga langkah yang dapat dilakukan agar proses pengiriman artikel tetap sesuai dengan etika publikasi ilmiah.

Pengertian Duplicate Submission dalam Publikasi Ilmiah

Duplicate submission adalah praktik mengirimkan satu manuskrip atau manuskrip yang memiliki isi secara substansial sama kepada lebih dari satu jurnal dalam periode yang sama. Dalam kondisi tersebut, artikel masih berada dalam proses pertimbangan atau peer review pada satu jurnal, tetapi penulis juga mengirimkan naskah tersebut kepada jurnal lain. Dengan demikian, beberapa jurnal dapat melakukan proses editorial terhadap karya yang sama tanpa mengetahui bahwa naskah tersebut sedang dipertimbangkan di tempat lain.

Pada dasarnya, pengiriman artikel ke jurnal merupakan sebuah proses yang melibatkan komitmen antara penulis dan penerbit. Ketika penulis mengirimkan manuskrip, jurnal akan mengalokasikan waktu editor untuk melakukan pemeriksaan awal, memilih reviewer, mengelola proses peer review, dan memberikan keputusan editorial. Jika artikel yang sama dikirimkan ke beberapa jurnal sekaligus, pekerjaan tersebut dapat terjadi secara paralel dan menyebabkan pemborosan sumber daya akademik.

Duplicate submission berbeda dengan mengirimkan artikel yang telah ditolak oleh sebuah jurnal ke jurnal lain. Jika sebuah manuskrip sudah mendapatkan keputusan penolakan dan tidak lagi berada dalam proses editorial, penulis pada umumnya dapat memperbaiki naskah kemudian mengirimkannya ke jurnal lain sesuai dengan kebijakan penerbit. Yang menjadi masalah adalah ketika manuskrip yang sama masih dalam proses evaluasi di satu jurnal tetapi juga dikirimkan ke jurnal lain tanpa pemberitahuan.

Konsep duplicate submission juga perlu dibedakan dari publikasi ulang atau duplicate publication. Duplicate submission terjadi pada tahap pengiriman manuskrip, sedangkan duplicate publication berkaitan dengan artikel yang sudah diterbitkan atau sebagian besar isinya telah dipublikasikan kemudian diterbitkan kembali secara tidak semestinya. Keduanya memiliki hubungan dengan etika publikasi, tetapi terjadi pada tahapan yang berbeda.

Dalam praktiknya, duplicate submission dapat muncul karena berbagai alasan. Penulis mungkin belum memahami aturan jurnal, salah mengira bahwa mengirimkan ke beberapa jurnal akan mempercepat publikasi, atau tidak mengetahui bahwa setiap jurnal mengharuskan naskah bersifat eksklusif selama proses review. Oleh karena itu, memahami kebijakan jurnal sebelum melakukan submission merupakan langkah penting untuk mencegah terjadinya pelanggaran.

Baca juga:Bimbingan Publikasi Jurnal SINTA dan Scopus dari Submit hingga Artikel Terbit

Mengapa Duplicate Submission Dilarang?

Duplicate submission dilarang karena proses publikasi ilmiah dibangun berdasarkan kepercayaan antara penulis, editor, reviewer, dan penerbit. Ketika seorang penulis mengirimkan manuskrip ke jurnal, editor menganggap bahwa naskah tersebut sedang ditawarkan untuk dipertimbangkan oleh jurnal tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pengiriman secara bersamaan kepada jurnal lain tanpa informasi yang jelas dapat melanggar ekspektasi tersebut.

  1. Berkaitan dengan penggunaan sumber daya editorial. Proses review membutuhkan tenaga dan waktu dari editor serta reviewer yang biasanya berasal dari kalangan akademisi dan peneliti. Mereka membaca naskah, menilai kualitas metodologi, memeriksa argumentasi, serta memberikan masukan kepada penulis. Jika artikel yang sama sedang dinilai oleh beberapa jurnal sekaligus, sejumlah reviewer dapat menghabiskan waktu untuk mengevaluasi karya yang identik.
  2. Risiko terjadinya publikasi ganda. Apabila dua jurnal menerima manuskrip yang sama dalam waktu yang berdekatan, terdapat kemungkinan artikel tersebut akhirnya diterbitkan oleh lebih dari satu jurnal. Kondisi ini dapat menyebabkan duplikasi dalam literatur ilmiah. Satu hasil penelitian kemudian terlihat seperti dua publikasi berbeda, padahal sebenarnya berasal dari karya yang sama.
  3. Berhubungan dengan integritas rekam ilmiah. Literatur akademik seharusnya memberikan gambaran yang akurat mengenai jumlah penelitian dan kontribusi ilmiah yang tersedia. Jika sebuah penelitian muncul berkali-kali sebagai artikel yang berbeda tanpa penjelasan yang memadai, pembaca dapat salah memahami jumlah bukti yang tersedia. Dalam bidang tertentu, duplikasi semacam ini bahkan dapat memengaruhi interpretasi terhadap suatu topik penelitian.
  4. Persoalan profesionalisme dan kepercayaan. Penulis yang mengikuti aturan submission menunjukkan bahwa dirinya memahami tanggung jawab dalam komunikasi akademik. Sebaliknya, duplicate submission dapat menimbulkan pertanyaan mengenai kepatuhan penulis terhadap kebijakan jurnal. Karena itu, larangan terhadap duplicate submission bukan sekadar aturan administratif, tetapi merupakan bagian dari upaya menjaga integritas dan efisiensi ekosistem publikasi ilmiah.

Bentuk-Bentuk Duplicate Submission yang Perlu Dihindari

Duplicate submission tidak selalu dilakukan dengan cara mengirimkan file yang benar-benar identik. Dalam beberapa situasi, persoalan dapat muncul ketika dua manuskrip memiliki isi, data, hasil, atau struktur yang sangat mirip. Oleh karena itu, penulis perlu memahami berbagai bentuk duplicate submission agar dapat membedakan antara publikasi yang sah dan pengiriman naskah yang berpotensi melanggar kebijakan jurnal.

Salah satu bentuk yang paling mudah dikenali adalah mengirimkan manuskrip identik ke dua jurnal atau lebih secara bersamaan. Misalnya, seorang penulis mengirimkan artikel berjudul tertentu ke Jurnal A pada hari Senin. Sebelum mendapatkan keputusan dari Jurnal A, artikel yang sama kemudian dikirimkan ke Jurnal B pada hari berikutnya. Jika kedua jurnal memiliki kebijakan yang melarang simultaneous submission, tindakan tersebut termasuk duplicate submission.

Bentuk lainnya adalah mengirimkan versi yang hanya mengalami perubahan kecil ke jurnal berbeda. Perubahan judul, susunan kalimat, atau beberapa bagian format tidak otomatis membuat manuskrip menjadi karya yang benar-benar berbeda. Jika pertanyaan penelitian, data utama, metode, hasil, dan kesimpulan masih pada dasarnya sama, penulis tetap perlu berhati-hati karena jurnal dapat menilai manuskrip tersebut sebagai karya yang sama atau sangat mirip.

Beberapa kondisi yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Mengirim manuskrip yang sama ke dua jurnal secara bersamaan. Ini merupakan bentuk duplicate submission yang paling jelas karena satu artikel sedang dipertimbangkan oleh lebih dari satu jurnal pada waktu yang sama.
  • Mengubah judul tetapi mempertahankan sebagian besar isi. Perubahan judul tidak cukup untuk membuat sebuah manuskrip menjadi penelitian baru apabila substansi artikel masih sama.
  • Menggunakan data dan hasil yang sama dalam manuskrip berbeda. Penggunaan dataset yang sama dapat diperbolehkan dalam kondisi tertentu apabila terdapat pertanyaan penelitian yang berbeda dan transparansi yang memadai. Namun, penulis harus memperhatikan kebijakan jurnal dan menjelaskan hubungan antarartikel.
  • Mengubah urutan atau gaya penulisan tanpa mengubah substansi. Parafrase atau perubahan struktur kalimat tidak otomatis menjadikan sebuah manuskrip sebagai karya baru.
  • Mengirimkan manuskrip setelah melakukan revisi kecil ke jurnal lain ketika proses sebelumnya masih berlangsung. Selama jurnal pertama belum memberikan keputusan akhir atau penulis belum menarik manuskrip secara resmi sesuai prosedur, pengiriman ke jurnal lain dapat menimbulkan persoalan etika.

Penulis juga perlu memahami bahwa tidak semua kemiripan antarartikel otomatis merupakan duplicate submission. Penelitian lanjutan dapat menggunakan teori, metode, atau dataset yang berhubungan dengan penelitian sebelumnya. Perbedaannya terletak pada kontribusi ilmiah, transparansi, dan kepatuhan terhadap kebijakan jurnal. Karena itu, apabila terdapat keraguan, penulis sebaiknya membaca author guidelines atau menghubungi editor sebelum mengirimkan manuskrip.

Konsekuensi Duplicate Submission bagi Penulis

Duplicate submission dapat menimbulkan berbagai konsekuensi, terutama ketika jurnal mengetahui bahwa manuskrip yang sama sedang diproses di tempat lain. Tingkat konsekuensinya dapat berbeda bergantung pada kebijakan jurnal, tahap proses editorial, tingkat kesengajaan, serta kondisi masing-masing kasus. Karena itu, penulis sebaiknya tidak menganggap duplicate submission sebagai kesalahan administratif yang sepele.

Salah satu konsekuensi yang mungkin terjadi adalah manuskrip dihentikan dari proses review. Editor dapat memutuskan untuk menolak artikel ketika mengetahui bahwa naskah yang sama sedang dipertimbangkan oleh jurnal lain. Keputusan tersebut dapat terjadi meskipun artikel sebenarnya memiliki kualitas ilmiah yang baik. Dengan demikian, kualitas penelitian saja tidak selalu cukup apabila proses submission tidak dilakukan sesuai dengan aturan jurnal.

Selain berdampak pada manuskrip, duplicate submission juga dapat memengaruhi hubungan profesional antara penulis dan jurnal. Editor serta reviewer telah menyediakan waktu untuk menilai artikel. Jika kemudian diketahui bahwa naskah yang sama dikirimkan ke penerbit lain tanpa pemberitahuan, kepercayaan terhadap penulis dapat berkurang. Dalam lingkungan akademik, kepercayaan merupakan bagian penting karena proses publikasi sangat bergantung pada komunikasi yang jujur dan transparan.

Dalam kasus tertentu, jurnal dapat mengambil tindakan lebih lanjut sesuai dengan kebijakan etika publikasinya. Misalnya, editor dapat menghubungi penulis untuk meminta klarifikasi, menghentikan proses editorial, atau memberikan pemberitahuan kepada institusi penulis apabila pelanggaran dianggap serius. Tindakan tersebut tidak selalu diterapkan dengan cara yang sama pada setiap jurnal karena setiap penerbit memiliki prosedur dan pedoman masing-masing.

Konsekuensi duplicate submission juga dapat memengaruhi reputasi akademik penulis. Reputasi dibangun melalui konsistensi dalam menghasilkan karya yang berkualitas sekaligus mengikuti prinsip integritas ilmiah. Oleh sebab itu, penulis perlu memandang aturan submission sebagai bagian dari tanggung jawab akademik, bukan sekadar persyaratan teknis sebelum artikel dikirimkan.

Beberapa konsekuensi yang perlu diperhatikan penulis meliputi:

  • Penolakan manuskrip. Jurnal dapat menghentikan proses penilaian dan menolak artikel apabila duplicate submission diketahui.
  • Penghentian proses peer review. Editor dapat menarik manuskrip dari proses review setelah mengetahui bahwa artikel juga sedang diproses oleh jurnal lain.
  • Permintaan klarifikasi. Penulis mungkin diminta memberikan penjelasan mengenai alasan pengiriman manuskrip ke lebih dari satu jurnal.
  • Masalah reputasi akademik. Tindakan yang dianggap tidak sesuai dengan etika publikasi dapat memengaruhi tingkat kepercayaan editor terhadap penulis.
  • Pelaporan kepada institusi. Dalam kasus tertentu dan sesuai kebijakan yang berlaku, jurnal dapat meneruskan persoalan tersebut kepada institusi atau pihak yang berwenang menangani integritas penelitian.
  • Risiko publikasi ganda. Jika lebih dari satu jurnal menerima dan menerbitkan artikel yang sama, masalah dapat berkembang menjadi persoalan duplicate publication yang lebih serius.

Karena konsekuensi tersebut, penulis sebaiknya selalu memeriksa status manuskrip sebelum melakukan submission berikutnya. Jika ingin berpindah jurnal, langkah yang lebih aman adalah mengikuti prosedur penarikan manuskrip terlebih dahulu, memastikan proses sebelumnya telah selesai, kemudian mengirimkan naskah ke jurnal tujuan sesuai ketentuan.

Cara Menghindari Duplicate Submission dalam Publikasi Ilmiah

Menghindari duplicate submission sebenarnya dapat dilakukan dengan menerapkan manajemen submission yang sederhana dan disiplin. Penulis perlu mengetahui status setiap manuskrip yang sedang diproses serta memahami aturan jurnal tujuan. Kebiasaan mencatat informasi submission juga membantu mencegah kesalahan ketika seorang penulis menangani beberapa artikel sekaligus.

Sebelum mengirimkan artikel, baca terlebih dahulu author guidelines jurnal yang dituju. Perhatikan apakah jurnal secara eksplisit menyatakan bahwa manuskrip tidak boleh sedang dipertimbangkan oleh jurnal lain. Sebagian besar jurnal ilmiah memiliki ketentuan mengenai eksklusivitas selama proses review. Memahami aturan sejak awal akan membantu penulis mengambil keputusan dengan lebih tepat.

Penulis juga dapat membuat daftar sederhana yang berisi nama jurnal, judul manuskrip, tanggal submission, nomor manuskrip, status editorial, dan tanggal keputusan. Catatan tersebut sangat berguna ketika penulis memiliki beberapa penelitian yang sedang berjalan. Dengan pencatatan yang teratur, kemungkinan mengirimkan artikel yang sama ke beberapa jurnal secara tidak sengaja dapat dikurangi.

Jika artikel ditolak, penulis perlu memastikan status manuskrip benar-benar sudah selesai sebelum mengirimkannya ke jurnal lain. Pada umumnya, penolakan berarti proses pada jurnal tersebut telah berakhir. Namun, apabila penulis masih menerima komunikasi dari editor atau terdapat proses khusus yang belum selesai, sebaiknya status tersebut dipastikan terlebih dahulu.

Berikut beberapa langkah praktis yang dapat diterapkan:

  • Baca kebijakan submission jurnal. Periksa ketentuan mengenai simultaneous submission, original manuscript, exclusive consideration, dan kebijakan terkait publikasi sebelumnya.
  • Catat setiap submission. Buat tabel atau spreadsheet yang mencatat judul artikel, jurnal tujuan, tanggal pengiriman, nomor manuskrip, dan status terbaru.
  • Jangan mengirim artikel ke jurnal lain selama masih direview. Tunggu keputusan jurnal pertama sebelum melakukan submission berikutnya, kecuali terdapat kondisi khusus yang secara jelas diperbolehkan oleh jurnal.
  • Lakukan penarikan secara resmi. Jika ingin memindahkan artikel ke jurnal lain, ikuti prosedur withdrawal yang ditetapkan jurnal sebelumnya.
  • Simpan bukti komunikasi. Email dari editor, notifikasi submission, dan surat keputusan sebaiknya disimpan sebagai dokumentasi.
  • Diskusikan dengan seluruh penulis. Dalam artikel dengan banyak penulis, pastikan semua anggota mengetahui jurnal tujuan dan status manuskrip.
  • Periksa kembali sebelum menekan tombol submit. Pastikan artikel tidak sedang diproses oleh jurnal lain dan semua informasi submission telah sesuai.
  • Hubungi editor jika terdapat keraguan. Apabila penulis tidak yakin apakah suatu kondisi termasuk duplicate submission, bertanya kepada editor merupakan langkah yang lebih aman daripada mengambil keputusan berdasarkan asumsi.

Hal penting lainnya adalah membedakan antara duplicate submission dan strategi memilih jurnal alternatif. Penulis tentu dapat menyiapkan beberapa jurnal target untuk sebuah artikel. Akan tetapi, jurnal-jurnal tersebut sebaiknya ditempatkan dalam urutan prioritas, bukan dikirimi manuskrip secara bersamaan. Penulis dapat menentukan jurnal utama, kemudian menyiapkan jurnal alternatif apabila manuskrip mendapatkan keputusan penolakan.

Misalnya, seorang penulis memiliki artikel tentang penggunaan teknologi digital dalam pembelajaran. Penulis dapat memilih Jurnal A sebagai target pertama dan Jurnal B sebagai alternatif. Jika Jurnal A menolak artikel tersebut, penulis dapat memperbaiki manuskrip berdasarkan masukan reviewer dan kemudian mengirimkannya ke Jurnal B, selama tidak ada ketentuan lain yang membatasi. Strategi seperti ini jauh lebih aman daripada mengirimkan artikel ke Jurnal A dan Jurnal B secara bersamaan.

Komunikasi antaranggota tim penulis juga sangat penting. Dalam penelitian yang memiliki banyak penulis, setiap anggota mungkin memiliki tanggung jawab berbeda terhadap manuskrip. Jika tidak ada komunikasi yang baik, salah satu penulis dapat secara tidak sengaja mengirimkan naskah yang sama ke jurnal lain. Karena itu, sebaiknya ditentukan satu orang yang bertanggung jawab terhadap proses submission dan seluruh perubahan status artikel diinformasikan kepada anggota tim.

Selain itu, penulis harus berhati-hati ketika melakukan revisi terhadap artikel yang pernah dikirimkan. Revisi substansial setelah mendapatkan keputusan dari jurnal merupakan hal yang wajar. Namun, jika artikel masih dalam proses review, penulis sebaiknya tidak mengirimkan versi lain ke jurnal berbeda hanya karena ingin memperoleh peluang publikasi yang lebih besar.

Memahami Etika Submission untuk Menjaga Integritas Akademik

Etika submission merupakan bagian dari integritas akademik yang perlu dipahami sejak mahasiswa mulai mengenal publikasi ilmiah. Penulis bukan hanya bertanggung jawab terhadap isi penelitian, tetapi juga terhadap cara penelitian tersebut dikirimkan, dinilai, dan dipublikasikan. Dengan memahami prinsip ini, proses publikasi dapat berlangsung secara lebih tertib dan profesional.

Duplicate submission juga menunjukkan bahwa kualitas publikasi tidak hanya ditentukan oleh hasil penelitian. Artikel dengan metodologi yang baik dan hasil yang menarik tetap harus mengikuti prosedur penerbitan yang berlaku. Penulis yang memahami etika publikasi akan lebih mampu mengelola proses submission, berkomunikasi dengan editor, dan mengambil keputusan ketika menghadapi penolakan atau permintaan revisi.

Pada akhirnya, menghindari duplicate submission bukan berarti membatasi kesempatan penulis untuk menerbitkan penelitian. Justru, kepatuhan terhadap aturan membuat proses publikasi menjadi lebih terarah. Penulis dapat menentukan jurnal target dengan cermat, melakukan revisi berdasarkan masukan reviewer, serta memindahkan artikel ke jurnal berikutnya melalui prosedur yang benar.

Baca juga:Simultaneous Submission: Mengapa Mengirim Artikel ke Dua Jurnal Sekaligus Dilarang?

Kesimpulan

Duplicate submission adalah tindakan mengirimkan manuskrip yang sama atau secara substansial sama kepada lebih dari satu jurnal secara bersamaan tanpa mengikuti ketentuan atau memperoleh persetujuan yang diperlukan. Praktik ini dilarang karena dapat menyebabkan pemborosan sumber daya editor dan reviewer, meningkatkan risiko publikasi ganda, serta mengganggu integritas rekam ilmiah. Oleh karena itu, penulis perlu memahami kebijakan submission setiap jurnal sebelum mengirimkan artikel.

Konsekuensi duplicate submission dapat berupa penghentian proses review, penolakan manuskrip, permintaan klarifikasi, hingga persoalan reputasi akademik. Dalam kasus tertentu, jurnal juga dapat mengambil langkah lebih lanjut sesuai dengan kebijakan etika publikasi yang berlaku. Karena setiap jurnal memiliki aturan masing-masing, penulis perlu membaca author guidelines dan menjaga komunikasi yang terbuka dengan editor apabila terdapat situasi yang tidak jelas.

Cara paling aman untuk menghindari duplicate submission adalah mengirimkan satu manuskrip ke satu jurnal pada satu waktu, mencatat seluruh status submission, serta melakukan penarikan secara resmi sebelum memindahkan artikel ke jurnal lain. Dengan memahami etika publikasi dan mengelola proses submission secara tertib, penulis dapat menjaga integritas akademik sekaligus meningkatkan profesionalisme dalam publikasi ilmiah.

Ketahui lebih banyak informasi terbaru dan terlengkap mengenai skripsi dengan mengikuti terus artikel dari Publish Jurnal. Dapatkan juga bimbingan eksklusif untuk skripsi dan tugas akhir bagi Anda yang sedang menghadapi masalah dalam penyusunan skripsi dengan menghubungi Admin Publish Jurnal sekarang juga! Konsultasikan kesulitan Anda dan raih kelulusan studi lebih cepat.