Publikasi artikel ilmiah melalui jurnal tidak selalu berakhir setelah penulis mengirimkan naskah. Dalam proses peer review, reviewer dapat memberikan berbagai komentar, pertanyaan, kritik, dan rekomendasi perbaikan yang perlu ditanggapi sebelum artikel dapat dipertimbangkan kembali oleh editor. Kondisi tersebut membuat revisi artikel jurnal menjadi salah satu tahap penting dalam proses publikasi ilmiah.
Revisi artikel jurnal bukan sekadar memperbaiki kesalahan tata bahasa atau mengganti beberapa bagian tulisan. Penulis perlu memahami maksud komentar reviewer, menentukan bagian naskah yang harus diperbaiki, memberikan respons yang jelas, serta memastikan perubahan yang dilakukan tetap konsisten dengan tujuan penelitian. Setelah seluruh revisi selesai, artikel kemudian dapat melalui tahap resubmission sesuai prosedur jurnal.
Bagi penulis pemula, komentar reviewer terkadang terlihat sulit karena menggunakan istilah akademik dan menyentuh aspek metodologi, analisis, teori, referensi, maupun penyajian hasil. Padahal, komentar tersebut dapat menjadi panduan untuk meningkatkan kualitas artikel. Dengan strategi yang tepat, proses revisi dapat dilakukan secara sistematis tanpa mengubah substansi penelitian secara berlebihan.
Memahami Arti Revisi Artikel Jurnal Setelah Mendapat Komentar Reviewer
Mendapatkan permintaan revisi dari jurnal tidak selalu berarti artikel ditolak. Dalam banyak proses publikasi, editor memberikan kesempatan kepada penulis untuk memperbaiki naskah berdasarkan hasil penilaian reviewer. Status revisi menunjukkan bahwa artikel masih dapat dipertimbangkan selama penulis mampu memenuhi permintaan perbaikan yang diberikan. Karena itu, penulis perlu membaca keputusan editor secara teliti sebelum mulai melakukan revisi artikel jurnal.
Komentar reviewer biasanya berkaitan dengan kualitas ilmiah dan kejelasan artikel. Reviewer dapat meminta penjelasan tambahan mengenai latar belakang penelitian, memperjelas research gap, memperkuat landasan teori, menjelaskan metode penelitian, memperbaiki analisis data, atau memberikan interpretasi hasil yang lebih mendalam. Setiap komentar perlu dipahami berdasarkan konteks keseluruhan artikel agar perubahan yang dilakukan tidak justru menimbulkan ketidakkonsistenan.
Penulis juga perlu membedakan antara komentar yang bersifat wajib diperbaiki dan rekomendasi yang dapat dipertimbangkan. Beberapa reviewer mungkin memberikan instruksi yang sangat spesifik, sementara komentar lainnya berbentuk saran untuk meningkatkan kualitas tulisan. Meskipun demikian, setiap komentar sebaiknya tetap mendapatkan respons dalam dokumen jawaban reviewer. Jika penulis tidak mengikuti suatu saran karena alasan akademik tertentu, keputusan tersebut perlu dijelaskan secara sopan dan berdasarkan argumentasi ilmiah.
Dalam tahap ini, membaca komentar reviewer secara terburu-buru dapat menyebabkan penulis hanya memperbaiki bagian yang terlihat mudah. Padahal, satu komentar dapat berhubungan dengan beberapa bagian artikel sekaligus. Misalnya, permintaan untuk memperjelas metode penelitian mungkin mengharuskan penulis menambahkan informasi pada bagian metode sekaligus menyesuaikan penjelasan pada bagian hasil. Oleh sebab itu, revisi artikel jurnal sebaiknya diawali dengan pemetaan seluruh komentar.
Penulis juga perlu memperhatikan keputusan editor yang menyertai komentar reviewer. Istilah seperti minor revision dan major revision dapat menunjukkan tingkat perbaikan yang diharapkan, meskipun penerapannya dapat berbeda pada setiap jurnal. Minor revision biasanya berkaitan dengan perbaikan yang relatif terbatas, sedangkan major revision dapat mencakup perubahan substansial pada analisis, argumentasi, struktur, atau penjelasan penelitian. Apa pun jenis revisinya, penulis perlu mengikuti instruksi editor sebagai acuan utama sebelum melakukan resubmission.
Baca juga:Bimbingan Publikasi Jurnal SINTA dan Scopus dari Submit hingga Artikel Terbit
Strategi Menanggapi Komentar Reviewer Secara Akademik
Menanggapi komentar reviewer membutuhkan sikap objektif dan terstruktur. Penulis sebaiknya tidak langsung menganggap kritik sebagai serangan terhadap penelitian. Reviewer menjalankan fungsi evaluasi untuk melihat apakah artikel memiliki argumentasi, metode, data, dan pembahasan yang cukup kuat untuk dipublikasikan. Karena itu, komentar reviewer dapat digunakan sebagai dasar untuk mengidentifikasi kelemahan artikel yang sebelumnya mungkin belum disadari penulis.
Langkah awal yang dapat dilakukan adalah membuat daftar seluruh komentar reviewer. Setiap komentar dapat dipisahkan berdasarkan topik, misalnya komentar tentang pendahuluan, teori, metode, hasil, pembahasan, referensi, bahasa, tabel, gambar, dan kesimpulan. Dengan cara tersebut, penulis dapat menghindari komentar yang terlewat ketika melakukan revisi artikel jurnal. Daftar tersebut juga membantu penulis memeriksa kembali apakah seluruh permintaan reviewer sudah ditangani sebelum resubmission.
Respons kepada reviewer sebaiknya ditulis dengan bahasa yang profesional, singkat, dan langsung menjelaskan tindakan yang dilakukan. Penulis dapat menjelaskan bahwa komentar telah diperhatikan, kemudian menyebutkan perubahan yang dibuat pada naskah. Jika memungkinkan, lokasi perubahan dapat ditunjukkan melalui nomor halaman, bagian, paragraf, atau kalimat tertentu sesuai format yang digunakan jurnal. Respons yang konkret akan memudahkan reviewer memeriksa hasil revisi.
Tidak semua komentar reviewer harus dijawab dengan menyatakan bahwa penulis mengikuti saran tersebut. Ada kemungkinan penulis memiliki alasan ilmiah untuk mempertahankan suatu bagian. Dalam situasi tersebut, penulis sebaiknya tidak memberikan respons emosional atau defensif. Jelaskan alasan akademiknya, sertakan dasar yang relevan jika diperlukan, lalu tunjukkan bahwa komentar reviewer telah dipertimbangkan dengan serius.
Penyusunan respons yang baik juga membantu mempercepat proses pemeriksaan pada tahap berikutnya. Reviewer tidak perlu mencari sendiri perubahan di seluruh naskah karena penulis sudah menunjukkan bagian yang diperbaiki. Oleh karena itu, dokumen response to reviewers sebaiknya dibuat bersamaan dengan proses revisi artikel jurnal. Setelah satu komentar selesai ditangani, penulis dapat langsung mencatat perubahan dan responsnya sehingga tidak perlu mengingat kembali seluruh proses ketika artikel siap dikirim ulang.
Tahapan Melakukan Revisi Artikel Jurnal Berdasarkan Komentar Reviewer
Setelah memahami seluruh komentar, penulis dapat mulai melakukan revisi artikel jurnal secara bertahap. Hindari mengedit naskah secara acak karena cara tersebut dapat membuat beberapa komentar terlewat atau menghasilkan perubahan yang tidak konsisten. Revisi yang sistematis akan membantu memastikan setiap bagian artikel memiliki hubungan yang jelas antara masalah, perbaikan, dan respons kepada reviewer.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah membuat tabel kerja sederhana. Kolom pertama berisi komentar reviewer, kolom berikutnya berisi tindakan yang perlu dilakukan, bagian artikel yang terdampak, serta status penyelesaiannya. Tabel tersebut bukan hanya membantu mengorganisasi pekerjaan, tetapi juga dapat menjadi dasar untuk menyusun response letter ketika revisi sudah selesai.
Beberapa bagian yang umumnya perlu diperiksa selama revisi antara lain:
- Pendahuluan dan research gap untuk memastikan alasan penelitian dijelaskan secara jelas.
- Landasan teori untuk memastikan konsep yang digunakan relevan dengan fokus penelitian.
- Metode penelitian untuk memperjelas desain, sampel, instrumen, prosedur, atau teknik analisis.
- Hasil penelitian untuk memastikan data disajikan secara konsisten dengan metode.
- Pembahasan untuk menghubungkan hasil penelitian dengan teori dan penelitian terdahulu.
- Referensi untuk memastikan sumber yang digunakan relevan, mutakhir, dan sesuai gaya sitasi jurnal.
- Tabel dan gambar untuk memastikan judul, keterangan, angka, serta pembahasannya konsisten.
- Abstrak dan kesimpulan untuk memastikan keduanya mencerminkan hasil penelitian yang telah diperbaiki.
Ketika melakukan perubahan substansial, penulis juga perlu memeriksa dampaknya terhadap bagian lain. Penambahan variabel, perubahan analisis, atau perbaikan interpretasi dapat memengaruhi abstrak, hasil, pembahasan, dan kesimpulan. Pemeriksaan silang seperti ini penting agar artikel hasil revisi tidak memiliki informasi yang saling bertentangan.
Cara Menyusun Response to Reviewers Sebelum Resubmission
Response to reviewers merupakan bagian penting dalam proses revisi artikel jurnal karena dokumen ini menunjukkan bagaimana penulis menanggapi evaluasi yang diberikan. Dokumen tersebut sebaiknya disusun dengan format yang mudah dibaca. Setiap komentar dapat ditampilkan terlebih dahulu, kemudian diikuti respons penulis dan penjelasan mengenai perubahan yang telah dilakukan.
Respons sebaiknya tidak terlalu umum. Kalimat seperti “sudah diperbaiki sesuai saran reviewer” memang menunjukkan bahwa penulis melakukan perubahan, tetapi belum menjelaskan apa yang sebenarnya diperbaiki. Respons yang lebih informatif menjelaskan tindakan spesifik, misalnya bagian pendahuluan telah diperjelas dengan menambahkan penjelasan mengenai research gap dan memperkuat dukungannya dengan referensi yang relevan.
Jika reviewer meminta tambahan analisis, penulis perlu menjelaskan analisis yang dilakukan dan dampaknya terhadap hasil penelitian. Apabila terdapat perubahan angka, tabel, atau interpretasi, bagian terkait harus diperiksa kembali agar tidak bertentangan dengan informasi lain dalam artikel. Konsistensi antara naskah revisi dan response to reviewers menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan sebelum resubmission.
Dalam beberapa kasus, reviewer mungkin memberikan komentar yang sama sekali tidak dapat diterapkan karena keterbatasan data atau desain penelitian. Penulis tetap dapat memberikan penjelasan secara akademik. Hindari mengatakan bahwa reviewer “salah” atau “tidak memahami penelitian”. Sebaliknya, jelaskan batasan penelitian, alasan metodologis, dan bagian yang telah diperjelas untuk mengurangi kemungkinan kesalahpahaman.
Sebelum melakukan resubmission, penulis sebaiknya melakukan pemeriksaan akhir terhadap tiga dokumen utama jika jurnal memintanya, yaitu naskah revisi, response to reviewers, dan surat pengantar atau cover letter. Ketiganya harus menyampaikan informasi yang konsisten. Nama file, format dokumen, versi naskah, dan komponen tambahan juga perlu disesuaikan dengan petunjuk jurnal agar proses pengiriman ulang tidak mengalami kendala administratif.
Memeriksa Naskah Sebelum Resubmission
Resubmission bukan sekadar mengunggah kembali file artikel ke sistem jurnal. Penulis perlu memastikan bahwa semua permintaan editor dan reviewer sudah ditangani. Pemeriksaan akhir dapat dilakukan dengan membaca kembali setiap komentar satu per satu sambil mencocokkannya dengan bagian naskah yang telah diperbaiki.
Periksa pula aspek teknis seperti template jurnal, format sitasi, jumlah kata, struktur artikel, tabel, gambar, abstrak, kata kunci, dan daftar pustaka. Kesalahan kecil pada tahap akhir dapat membuat proses editorial menjadi lebih lambat, terutama jika jurnal memiliki persyaratan teknis yang cukup ketat.
Selain itu, pastikan perubahan yang dibuat tidak menimbulkan masalah baru. Jika sebuah paragraf ditambahkan, periksa apakah paragraf tersebut menggunakan istilah yang konsisten dengan bagian lain. Jika referensi baru ditambahkan, pastikan sumber tersebut tercantum dalam daftar pustaka dan seluruh sitasi memiliki pasangan yang sesuai.
Tahap pemeriksaan akhir juga dapat mencakup pengecekan bahasa. Artikel yang sudah melewati revisi substansial terkadang memiliki gaya penulisan yang tidak seragam karena banyak bagian mengalami perubahan. Membaca artikel secara utuh dari awal hingga akhir dapat membantu menemukan kalimat yang janggal, pengulangan informasi, kesalahan istilah, dan hubungan antarparagraf yang kurang lancar.
Dengan pemeriksaan yang teliti, proses resubmission dapat dilakukan dengan lebih percaya diri. Tujuan utama revisi artikel jurnal bukan hanya memenuhi daftar permintaan reviewer, tetapi menghasilkan naskah yang lebih jelas, kuat, konsisten, dan layak dipertimbangkan untuk publikasi. Setelah artikel dikirim kembali, penulis tetap perlu memantau sistem jurnal dan siap memberikan klarifikasi tambahan apabila editor atau reviewer meminta perbaikan berikutnya.
Menghadapi Revisi Mayor dan Minor pada Artikel Jurnal
Perbedaan antara revisi mayor dan minor perlu dipahami karena keduanya dapat membutuhkan strategi pengerjaan yang berbeda. Revisi minor biasanya berhubungan dengan perbaikan yang lebih terbatas, seperti memperjelas kalimat, memperbaiki referensi, menyesuaikan format tabel, memperbaiki kesalahan bahasa, atau memberikan penjelasan tambahan pada bagian tertentu. Meskipun terlihat lebih ringan, setiap komentar tetap perlu ditanggapi secara lengkap agar tidak menimbulkan masalah pada tahap pemeriksaan berikutnya.
Revisi mayor biasanya membutuhkan perhatian yang lebih mendalam karena komentar reviewer dapat menyentuh substansi penelitian. Reviewer mungkin meminta penjelasan metodologi yang lebih lengkap, analisis tambahan, penguatan teori, pembaruan referensi, pendalaman pembahasan, atau penyesuaian argumentasi. Dalam kondisi seperti ini, penulis perlu membuat rencana kerja sebelum melakukan perubahan agar revisi tidak dilakukan secara terburu-buru.
Pada revisi mayor, penulis sebaiknya memulai dari komentar yang paling fundamental. Misalnya, jika reviewer mempertanyakan metode penelitian, perbaikan pada bagian metode perlu dilakukan terlebih dahulu sebelum menyesuaikan hasil dan pembahasan. Hal tersebut karena perubahan pada aspek metodologis dapat memengaruhi interpretasi hasil. Urutan kerja seperti ini membuat revisi artikel jurnal lebih terarah dan mengurangi risiko munculnya informasi yang tidak konsisten.
Penulis juga perlu memahami bahwa revisi mayor bukan berarti seluruh penelitian harus diulang. Tindakan yang diperlukan bergantung pada isi komentar reviewer dan keputusan editor. Jika reviewer meminta penjelasan tambahan, penulis cukup memperjelas informasi yang sudah tersedia. Jika terdapat permintaan analisis tambahan yang memang dapat dilakukan berdasarkan data yang ada, analisis tersebut dapat ditambahkan dengan penjelasan yang memadai. Setiap perubahan sebaiknya tetap berada dalam batas tujuan dan desain penelitian.
Setelah menyelesaikan revisi mayor maupun minor, penulis perlu membaca kembali artikel secara menyeluruh. Jangan hanya memeriksa bagian yang diberi komentar karena perubahan pada satu bagian dapat memengaruhi bagian lainnya. Pemeriksaan menyeluruh membantu memastikan bahwa naskah revisi memiliki alur argumentasi yang utuh dan tidak menyisakan informasi lama yang sudah tidak sesuai dengan hasil perubahan.
Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Revisi Artikel Jurnal
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah mengabaikan sebagian komentar reviewer. Penulis terkadang hanya memperbaiki komentar yang dianggap mudah dan melewatkan komentar yang membutuhkan perubahan lebih besar. Cara tersebut dapat menyebabkan reviewer kembali mempertanyakan hal yang sama pada putaran berikutnya. Karena itu, setiap komentar perlu dicatat dan diberi status apakah sudah diperbaiki, dijelaskan, atau dipertahankan dengan alasan akademik.
Kesalahan berikutnya adalah memberikan respons yang terlalu singkat tanpa menunjukkan tindakan konkret. Response to reviewers bukan sekadar formalitas. Dokumen tersebut membantu editor dan reviewer memahami hubungan antara komentar dengan perubahan pada naskah. Respons yang jelas sebaiknya menyebutkan bagian yang diperbaiki dan, jika format jurnal memungkinkan, menunjukkan lokasi perubahan agar mudah diverifikasi.
Penulis juga perlu menghindari respons yang bernada emosional. Kritik terhadap penelitian memang terkadang terasa tidak nyaman, terutama ketika reviewer mempertanyakan aspek yang menurut penulis sudah cukup jelas. Namun, perbedaan pandangan harus diselesaikan melalui argumentasi ilmiah. Bahasa yang sopan dan objektif akan menunjukkan bahwa penulis mampu menerima proses evaluasi akademik secara profesional.
Kesalahan lainnya adalah melakukan perubahan terlalu banyak tanpa mempertimbangkan tujuan penelitian. Ketika menerima banyak komentar, penulis mungkin tergoda untuk menambahkan teori, variabel, analisis, atau referensi secara berlebihan. Padahal, setiap tambahan harus memiliki hubungan dengan pertanyaan penelitian. Revisi artikel jurnal yang baik bukan naskah yang memiliki informasi sebanyak mungkin, melainkan naskah yang memiliki argumentasi relevan, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Penulis juga perlu menghindari perubahan tanpa melakukan pemeriksaan silang. Misalnya, reviewer meminta perbaikan hasil penelitian, lalu penulis mengubah tabel tetapi lupa menyesuaikan pembahasan dan kesimpulan. Ketidaksesuaian semacam ini dapat mengurangi kualitas naskah. Setelah setiap perubahan substansial, periksa kembali abstrak, hasil, pembahasan, kesimpulan, tabel, gambar, dan referensi yang mungkin terdampak.
Strategi Agar Resubmission Artikel Lebih Terstruktur
Resubmission dapat dilakukan dengan lebih terorganisasi apabila penulis menggunakan daftar pemeriksaan sebelum mengirim artikel. Checklist membantu mengurangi risiko ada komentar yang terlupakan. Penulis dapat membuat daftar berdasarkan reviewer, kemudian menandai setiap komentar setelah revisi dan respons selesai.
Beberapa hal yang dapat dimasukkan ke dalam checklist sebelum resubmission antara lain:
- Seluruh komentar reviewer sudah dibaca dan dipahami.
- Setiap komentar sudah memiliki respons yang sesuai.
- Perubahan pada naskah sudah dilakukan pada bagian yang relevan.
- Bagian yang berubah sudah diperiksa kembali untuk memastikan konsistensi.
- Editor’s decision atau instruksi editor sudah dipenuhi.
- Format artikel sudah mengikuti template jurnal.
- Referensi baru sudah masuk ke daftar pustaka.
- Sitasi dalam teks sudah sesuai dengan daftar pustaka.
- Tabel dan gambar sudah diberi nomor serta keterangan yang benar.
- Abstrak dan kata kunci sudah mencerminkan isi artikel setelah revisi.
- File yang akan diunggah merupakan versi terbaru.
- Response to reviewers sudah disiapkan sesuai format yang diminta jurnal.
- Cover letter atau dokumen tambahan sudah disesuaikan jika diperlukan.
Checklist tersebut dapat disesuaikan dengan sistem setiap jurnal. Beberapa jurnal mungkin meminta marked manuscript yang menunjukkan perubahan, sedangkan jurnal lain meminta clean version tanpa tanda revisi. Ada pula jurnal yang meminta kedua versi sekaligus. Oleh sebab itu, penulis perlu membaca kembali author guidelines dan instruksi resubmission sebelum mengunggah file.
Selain memeriksa dokumen, penulis perlu memperhatikan batas waktu revisi. Editor biasanya memberikan tenggat tertentu untuk mengirimkan versi revisi. Jika penulis membutuhkan waktu tambahan karena revisi cukup kompleks, komunikasi dengan editor dapat menjadi pilihan yang lebih baik daripada melewati tenggat tanpa pemberitahuan. Permintaan perpanjangan sebaiknya disampaikan secara profesional dan sebelum batas waktu berakhir.
Kecepatan bukan satu-satunya tujuan dalam resubmission. Mengirimkan artikel terlalu cepat tanpa memeriksa seluruh komentar dapat menyebabkan masalah yang sebenarnya mudah dicegah. Sebaliknya, revisi yang dikerjakan secara terencana memungkinkan penulis menghasilkan versi yang lebih matang. Keseimbangan antara ketelitian dan ketepatan waktu menjadi bagian penting dari strategi publikasi jurnal.
Apa yang Dilakukan Setelah Resubmission Artikel Jurnal
Setelah revisi artikel jurnal dikirim kembali, penulis biasanya perlu menunggu proses pemeriksaan editor dan reviewer. Lama proses tersebut dapat berbeda antara satu jurnal dan jurnal lainnya. Karena itu, penulis tidak sebaiknya langsung menganggap tidak adanya perubahan status sebagai tanda bahwa artikel bermasalah. Proses editorial dapat membutuhkan waktu karena editor perlu memeriksa kelengkapan revisi dan menentukan apakah artikel perlu dikirim kembali kepada reviewer.
Pada tahap ini, penulis dapat menyimpan seluruh dokumen revisi dalam satu arsip. Simpan versi naskah yang dikirim, response to reviewers, cover letter, serta dokumen pendukung lainnya. Penyimpanan yang rapi akan membantu apabila editor mengirimkan komentar tambahan. Penulis dapat dengan mudah mengetahui perubahan yang sudah dilakukan pada putaran sebelumnya.
Jika artikel kembali mendapatkan komentar, jangan menganggap proses tersebut sebagai kegagalan. Artikel ilmiah dapat melewati beberapa putaran evaluasi sebelum editor membuat keputusan akhir. Selama editor masih memberikan kesempatan untuk memperbaiki naskah, penulis dapat menggunakan komentar baru sebagai panduan untuk meningkatkan kualitas artikel.
Komunikasi dengan editor juga perlu dilakukan secara proporsional. Jika terdapat pertanyaan penting mengenai status artikel atau instruksi revisi yang tidak jelas, penulis dapat menghubungi editor melalui kanal resmi jurnal. Hindari mengirimkan pesan berulang dalam waktu singkat hanya untuk menanyakan perkembangan artikel. Komunikasi yang singkat, sopan, dan memiliki alasan yang jelas lebih sesuai dengan etika publikasi akademik.
Pada akhirnya, keberhasilan resubmission tidak hanya ditentukan oleh banyaknya perubahan yang dibuat. Hal yang lebih penting adalah kemampuan penulis menunjukkan bahwa setiap komentar telah dipertimbangkan dan dijawab dengan alasan akademik yang jelas. Artikel yang direvisi secara baik akan memberikan gambaran bahwa penulis memahami kelemahan naskah dan mampu meningkatkan kualitasnya berdasarkan proses peer review.
Baca juga:Keputusan Accept Revise Reject Jurnal dan Cara Membaca Hasil Editorial Decision
Kesimpulan
Revisi artikel jurnal merupakan tahap penting dalam proses publikasi ilmiah karena memberikan kesempatan kepada penulis untuk meningkatkan kualitas naskah berdasarkan komentar reviewer dan arahan editor. Proses tersebut perlu dilakukan secara sistematis, mulai dari memahami keputusan editor, memetakan komentar, memperbaiki bagian artikel yang relevan, hingga menyusun response to reviewers. Penulis tidak perlu memandang komentar reviewer sebagai hambatan, tetapi sebagai masukan untuk memperkuat argumentasi, metode, hasil, dan pembahasan penelitian.
Menanggapi komentar reviewer dengan baik membutuhkan respons yang profesional, spesifik, dan berbasis alasan akademik. Setiap komentar perlu mendapatkan perhatian, termasuk komentar yang tidak dapat diterapkan secara langsung. Jika penulis memiliki alasan untuk tidak mengikuti suatu saran, alasan tersebut perlu dijelaskan secara sopan dan logis. Setelah revisi selesai, naskah perlu diperiksa secara menyeluruh agar perubahan pada satu bagian tidak menyebabkan ketidaksesuaian dengan bagian lainnya.
Resubmission kemudian menjadi tahap untuk mengirimkan kembali artikel yang telah diperbaiki sesuai prosedur jurnal. Sebelum melakukan pengiriman, penulis perlu memastikan seluruh komentar telah ditangani, dokumen sesuai instruksi, referensi dan sitasi konsisten, serta versi file yang diunggah merupakan versi terbaru. Dengan proses revisi artikel jurnal yang terencana dan respons yang tepat terhadap komentar reviewer, peluang naskah untuk melewati proses evaluasi berikutnya dapat menjadi lebih baik.
Ketahui lebih banyak informasi terbaru dan terlengkap mengenai skripsi dengan mengikuti terus artikel dari Publish Jurnal. Dapatkan juga bimbingan eksklusif untuk skripsi dan tugas akhir bagi Anda yang sedang menghadapi masalah dalam penyusunan skripsi dengan menghubungi Admin Publish Jurnal sekarang juga! Konsultasikan kesulitan Anda dan raih kelulusan studi lebih cepat.



